Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Sharron


__ADS_3

Louis masih berada di depan hotel Hard Rock, berada dalam kesunyian di dalam mobilnya dia sungguh merasa bagaikan seorang bajing*n karena telah memanfaatkan perasaan Ruby. Dia menggenggam setir mobilnya begitu erat, "kamu sungguh bajing*n,Louis!!" bisiknya pada dirinya sendiri.


Perlahan dia mengeluarkan ponsel Ruby dari kantong celananya,untungnya Ruby dulu pernah memberitahunya password ponselnya. Saat masa mereka masih bekerja di Lee's Ship dan saat itu Ruby dan Louis masih dekat satu sama lain.


Bergegas Louis menekan empat nomor kode yang dia ingat. Tidak sulit sebenarnya, sebab Ruby membuat kode yang sangat mudah untuknya, 0010.


Louis membuka aplikasi pesan singkat,dan bergegas mencari nama Peter diantara pesan itu. Setelah menemukan nama Peter, Louis langsung mengetik di layar ponsel Ruby.


"Kamu dimana??" ketik Louis.


Tapi..pesan tersebut tidak di terima oleh Peter, "Sial!!" pekik Louis "dia pasti mematikan ponselnya!!"


Louis memeriksa beberapa pesan di ponsel Ruby. Beberapa dari pesan itu berasal dari teman-temannya yang selalu meminta supaya mereka bertemu. Louis tersenyum sinis, "kamu.. sampai sekarang masih begitu bodoh,Ruby!" tukas Louis, "masih tetap saja mau di manfaatkan oleh teman-teman parasitmu"


Tring..


Sebuah pesan masuk, Louis memeriksa pengirim pesan tersebut. Dia sangat berharap jika pesan yang masuk merupakan balasan dari Peter.


Namun sayangnya, pesan yang masuk ternyata berasal dari Sharron,ibunya.


"Ruby...


kamu masih berada di Bali?"


"Iya,ma.. Ada apa,ma?" balas Louis.


"Apa terjadi sesuatu saat berada di Bali?" tanya Sharron.


Alis mata kanan Louis seketika terangkat, dia mengerutkan keningnya, "tidak.. ada apa rupanya,ma?" balas Louis penuh selidik.


"Tidak.. mama hanya penasaran.. Sebab Peter tiba-tiba pulang ke sini dan dia terlihat..


kamu tahu.. seperti..berbeda" balas Sharron.


"Peter kembali ke New York???"


"Benar.. kamu tidak tahu?" tanya Sharron dengan bingung. Yang dia tahu hanyalah kedua anaknya berada di Bali untuk bertemu dengan klien suaminya. Tapi, tiba-tiba tanpa kabar.. putra sulungnya kembali dan mengurung diri di dalam kamarnya. Sharron yang kebingungan,memutuskan untuk bertanya pada putrinya.


Louis terdiam, dia mengepal tangan kananya, lalu dia membalas pesan dari Sharron kembali.


"Tidak.. mungkin Peter memiliki urusan tiba-tiba hingga kembali ke sana tanpa memberitahuku" balas Louis.

__ADS_1


"Sungguh kalian tidak ada masalah di sana?" tanya Sharron.


"Tenanglah,ma.. kami baik-baik saja.." balas Louis.


"Baiklah jika begitu.. kamu cepatlah kembali.. mama telah merindukanmu.."


"Aku juga,ma.. Aku akan kembali secepatnya.. Oh ya.. ma..jika Peter berencana keluar kota atau pergi kemana..bisakah mama memberitahuku?"


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin tahu dia pergi kemana,ma.." dalih Louis, "dia dan aku bertanggung jawab akan klien di Bali ini.. dan karenanya, aku tidak ingin kebingungan jika tiba-tiba dia pergi atau kembali ke Beijing"


"Ah.. baiklah.. mama mengerti"


"Terima kasih,ma..".



Keesokan harinya,




Begitu masuk ke dalam ruangan Vanya,Lidya langsung berjalan cepat menghampiri Vanya yang telah tersenyum menatapnya.



"Vanya.. kamu sungguh diberkati" sahut Vanya lalu memeluk Vanya perlahan.



Vanya membalas pelukan hangat Lidya, dia merasa sangat terharu akan perhatian Lidya. Dirinya yang selama ini sebatang kara, sangat jarang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang lain lagi.



"Terima kasih,Lidya.." bisik Vanya.



Louis tersenyum melihat kedua wanita yang dia sayangi berpelukkan.

__ADS_1



Vanya melepaskan pelukan Lidya dan menatap Luckas dengan segan, "halo,sir.." sapa Vanya dengan kaku.



Lidya dan Louis tertawa bersamaan. Luckas mengulurkan tangan kanannya pada Vanya, "kamu tidak perlu begitu sungkan,Vanya. Kamu dapat memanggilku Luckas.." sahut Luckas.



Vanya bergegas membalas uluran tangan Luckas, "a..ha..ha.." tawa Vanya dengan canggung.



Lidya kembali mendekati Vanya, "walau dia adalah atasanmu.. tapi,dia adalah suamiku dan juga kakak ipar dari Louis.." sahut Lidya lembut "dan..kelak juga kamu akan menjadi istri dari Louis yang berarti kamu akan menjadi bagian dari anggota keluarga kami.. Maka,kamu tidak perlu merasa sungkan ataupun canggung.."



Luckas tertawa kecil, "benar.. walau dia.." Luckas menunjuk kearah Louis "..dan aku sering bertengkar karena dia yang selalu kekanak-kanakan.. Tapi percayalah.. dia telah bagaikan adik kandungku sendiri"



Tepukan keras langsung mendarat di pundak kiri Luckas hingga membuatnya meringis kesakitan, dia menatap Louis dengan kesal. Sedangkan Lidya dan Vanya tertawa bersamaan.



"Sudah..sudah.. kalian berdua sama-sama kekanak-kanakan!!" lerai Lidya, "mereka selalu seperti itu.." sahut Lidya sambil menatap Vaya.



"KAMI TIDAK KEKANAK-KANAKAN!!" tukas Louis dan Luckas hampir bersamaan.



Lidya dan Vanya kembali tertawa, "lihatlah.." sahut Lidya "sudah.. Luckas..bukankah kamu harus membicarakan sesuatu pada Louis??".



"Ah.. benar.." raut wajah Luckas seketika berubah serius, "Louis.. mari kita bicara di luar.."


__ADS_1


__ADS_2