
"Selamat sore,dok.." sapa Louis.
Kedua mata Vanya terbelak saat melihat dokter yang duduk di meja dokter dan begitu juga dengan dokter yang menyadari wanita yang berdiri di belakang Louis adalah Vanya.
"Vanya?" sahut dokter Kelly tanpa sadar.
Seketika Vanya menjadi gugup.
"Kalian saling kenal?" tanya Louis sambil menatap Vanya.
Vanya hanya membisu.
"Tentu saja.. Vanya adalah teman dari sahabatku,dia bahkan sudah ku anggap seperti keponakanku sendiri.." jawab dokter Kelly lembut.
Louis tersenyum puas "suatu kebetulan yang indah.."
"Dan ada perihal apa anda berdua ke sini?" tanya dokter Kelly.
Louis menarik Vanya untuk duduk di kursi yang tersedia "aku ingin dokter memeriksanya,apakah dia hamil atau tidak"
Dokter Kelly tertegun,menatap Vanya yang diam-diam menggelengkan kepalanya meminta dokter Kelly merahasiakan kebenaran yang ada. Dokter Kelly menatap Louis yang terlihat serius.
"Sebelumnya,bolehkah saya bertanya apa hubungan anda dengan Vanya? Tentu saja saya bertanya dengan status sebagai tante Vanya"
"Saya..." Louis terdiam "Saya mencintainya!"
Vanya menatap Louis, dia terkejut akan jawaban tegas Louis, "kamu bohong!"
"Aku tidak!! Kamu menginginkan jawaban,bukan? Aku dan Ruby hanya sekedar bersandiwara supaya kamu bisa cemburu dan mengakui perasaanmu yang sebenarnya!" tukas Louis.
"Tapi Ruby mengatakan jika kalian sungguh-sungguh berpacaran" sahut Vanya perlahan.
"Kamu lebih mempercayai ucapan dia?"
Vanya kembali membisu. Seulas senyuman menghiasi wajah dokter Kelly. Dia bernafas lega,ternyata..pria yang menghamili Vanya adalah seorang pria yang baik dan mencintainya.
"Nah..bagaimana jika kita memeriksanya terlebih dahulu?" tanya dokter Kelly memecahkan keheningan diantara kedua sejoli itu.
Louis mengangguk cepat, "tentu saja! Sebab dia berbohong padaku.. karenanya,kami berada disini sekarang"
Beberapa menit kemudian, Louis tersenyum bahagia penuh haru begitu juga dengan Vanya. Suara detak jantung anak mereka membuat keduanya tersentuh akan hal itu. Keduanya tanpa sadar saling menggenggam tangan satu sama lain sambil menatap layar. Dokter Kelly tersenyum,rencananya berhasil. Suara detak jantung janin selalu sanggup menyentuh perasaan orang tuanya.
Di dalam mobil Louis,
__ADS_1
Vanya masih tersenyum menatap hasil USG yang di berikan dokter Kelly, begitu juga dengan Louis. Louis mengelus lembut rambut Vanya.
"Vanya.."
Vanya menatap Louis dengan tatapan lembut,tatapan yang sangat jarang perlihatkan Vanya pada Louis. Hal itu membuat Louis semakin gembira,dia mengecup kening Vanya, Vanya tertegun.
"Jangan menolakku lagi,Vanya.. Aku mencintaimu.." lirih Louis.
Vanya hanya mematung menatap Louis,tanpa berkata apapun.
"Bukan karena kamu.." Louis mengelus perut Vanya "...mengandung anakku. Tapi aku mencintaimu jauh sebelum kamu mengandung anakku. Dan dengan kehamilanmu akan anak kita, aku semakin mencintaimu dan ingin menjadi pendampingmu.."
Air mata mulai mengalir dari kedua mata Vanya, ucapan Louis begitu menyentuh perasaannya.
Air mata semakin mengalir dari kedua bola mata Vanya, Vanya mulai terisak sambil menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya. Louis tersenyum dan menarik Vanya ke dalam dekapannya, dia mengelus lembut punggung mungil wanita itu.
"Aku mencintaimu.." bisik Louis.
Di sisi lain, kediaman Simon Lee.
Ruby Lee yang masih penuh amarah,melampiaskannya pada semua barang yang ada di kamarnya. Kamarnya yang rapi,hanya dalam hitungan detik..telah bagaikan kapal pecah.
Sharron,sang ibu sejak tadi mengetuk pintu kamar Ruby yang terkunci. Suara bantingan,jeritan membuatnya khawatir akan anak perempuannya yang mengunci dirinya di dalam kamarnya.
"Ada apa,ma?" tanya Peter yang baru saja kembali.
"Terima kasih,Tuhan.. Syukurlah kamu telah kembali.." lirih Sharron "adikmu mengunci dirinya di dalam kamar dan histeris terus menerus.."
__ADS_1
Peter menatap pintu kamar Ruby,suara pekikan Ruby kembali terdengar di telinga mereka. Sharron menatap Peter dengan putus asa. Peter menenangkan ibunya, "bukankah papa ada menyimpan kunci cadangan untuk semua pintu?"
Sharron menepuk keningnya, "astaga,bagaimana aku bisa melupakan itu.. kamu benar. Tunggu sebentar,mama akan mengambilnya".
Beberapa menit kemudian,Sharron menyodorkan kunci kamar Ruby pada Peter.
"Ma.. istirahatlah.."
"Tapi.."
"Aku yang akan mengurus Ruby.. tenanglah.." sahut Peter sambil tersenyum.
Sharron akhirnya mengangguk,lalu menatap kamar Ruby sambil menghela nafas. Perilaku anak perempuannya selalu sukses membuat kepalanya sakit.
Peter membuka pintu kamar Ruby dan langsung di sambut lemparan bantal dari Ruby.
"KELUAR!!" pekik Ruby.
Peter menatap Ruby yang penuh amarah, "sepertinya ada masalah yang membuat adik manisku marah.." sahut Peter.
"Bukan urusanmu!" tukas Ruby sambil mendaratkan dirinya diatas tempat tidurnya yang berwarna pink muda.
Peter mendekati adiknya lalu tersenyum, "jangan kamu katakan jika kamu memiliki masalah dengan Louis?"
"Bagaimana kamu mengenalnya??" selidik Ruby,seingatnya dia bahkan belum menceritakan tentang Louis pada abangnya.
Peter tertawa, "papa dan Mr.Zhang telah menceritakannya padaku"
Ruby memutar kedua bola matanya, "banyak mulut".
"Bukankah kalian telah berpacaran? Mengapa kamu semurka ini,Ruby? Apakah dia melakukan sesuatu padamu?!" tanya Peter dengan cemas.
"Aku lebih berharap dia melakukan sesuatu padaku!!" tukas Ruby "Dengan begitu, aku akan mengikatnya!!"
Peter tersenyum lebar "sepertinya ada orang ketiga.."
"Tentu saja!! Wanita licik yang selalu diam-diam mendekati Louis-ku!!" tukas Ruby penuh amarah.
"Aku semakin penasaran akan wajah pria itu. Bahkan adikku ini bisa begitu mencintainya...aku sangat penasaran akan wajahnya.." sahut Peter.
Seketika Ruby tersenyum, "yang pasti dia jauh lebih tampan darimu!!" Ruby meraih ponselnya dan tidak lama kemudian menyodorkannya pada Peter "ini Louis.."
Wajah penuh senyum Peter seketika menghilang saat menatap tampilan layar ponsel adiknya, "dia??". Wajah yang merebut Vanya dari tangannya,membuat Peter tidak bisa melupakan wajah Louis. Dia tidak menyangka jika pria itu adalah pria yang sama yang di inginkan adiknya.
"Kamu mengenalnya?" tanya Ruby Lee.
__ADS_1