Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Peter Lee


__ADS_3

Kediaman Simon Lee,


Ruby Lee masuk ke dalam rumahnya dengan terburu-buru, dia bahkan tidak menyapa sang ibu yang terlihat antusias akan kepulangan putrinya.


"Dimana Peter?" tanya Ruby pada pelayan rumah mereka.


"Tuan muda sedang berada di kamarnya,nona" jawab sang pelayan sambil mengambil koper sang nona muda dan mengantarkan koper tersebut ke kamar Ruby.


Tap..Tap..


Suara langkah kaki Ruby terdengar begitu terburu-buru, Sharron mengejar sang putri yang terlihat menuju kamar Peter.


"Ruby.." sahut Sharron.


Wajah Ruby terlihat sangat serius dan sedikit pucat, dia tidak menjawab sang ibu yang sedari tadi memanggilnya.


"Ruby.." sahut Sharron kembali.


TOK!! TOK!! TOK!!


Ruby langsung mengetuk pintu kamar Peter dengan kuat dan kasar, "Buka pintumu!!! pekik Ruby.



Beberapa hari yang lalu, sesuai perintah Louis.. Chandra mengantar ponsel milik Ruby yang sebelumnya berada di tangan Louis.



Ruby sedikit syok saat melihat ponselnya yang ada di tangan Chandra, "dasar pencuri!!" tukas Ruby. Sudah beberapa hari dia mencari ponselnya yang tiba-tiba hilang, dia bahkan telah berniat membeli ponsel baru untuk menggantikan ponselnya yang hilang.



"Jaga ucapan anda,Miss Ruby!! Aku hanya diperintahkan untuk mengantar ponsel anda!" tukas Chandra tidak kalah kasar.


__ADS_1


"Hah? Diperintahkan?? oleh siapa?" tukas Ruby.



"Tentu sa--"



"Louis?" potong Ruby.



Chandra menatap Ruby dengan kesal, "anda sudah tahu jawabannya. Dan urusan saya telah selesai.. maka permisi,Miss Ruby.. Selama malam"



Ruby menutup pintu dan menatap ponselnya dengan bingung, "bagaimana ponselku bisa berada di tangan Louis?" bisiknya sendiri. Beberapa saat kemudian,Ruby teringat akan saat Louis datang ke kamar hotelnya. Seketika Ruby merasa kesal dan sakit hati, "jadi.. karena ini kamu datang mencariku,Louis?" sahutnya sambil mencengkram kuat ponselnya, "tapi.. mengapa?".



Dia menghidupkan ponselnya dan memeriksanya, "tidak ada yang aneh..." saat Ruby membuka aplikasi pesan singkatnya, wajahnya seketika merah padam.. Apa lagi saat dia membaca pesan antara Peter dan Louis yang berpura-pura menjadi dirinya.




Vanya bergegas menelepon Peter yang telah mematikan ponselnya lagi, "Sial!!" pekiknya.



Vanya bergegas menelepon Sharron, dan menanyakan Peter namun "Dia mengurung diri di kamarnya,Ruby.. Kamu masih di Bali? Mama sangat khawatir akan abangmu. Sungguh dia tidak ada masalah apapun saat berada di Bali?'



Ruby memijat keningnya, kepalanya mulai berdenyut. Dia tidak bisa menceritakan hal ini pada Sharron, dia yakin Sharron akan jatuh pingsan seketika. Ruby juga tidak bisa menceritakan pada ayahnya,Simon Lee. Dia yakin,sifat ayahnya yang tegas.. Simon malah akan menghukum Peter terlebih dahulu daripada mencari solusi.

__ADS_1



"Aku akan pulang,ma!"



Sharron menarik Ruby, "ada apa,Ruby??!!. Mengapa tingkah kalian berdua begitu aneh?!"


Ruby hanya menatap Sharron dan menepis tangan ibunya, dia kembali menggedor bahkan menendang pintu kamar Peter, "Buka pintu ini,sial*n!!! Jika kamu memilih diam menunggu mereka datang membawamu,maka silakan saja mengurung dirimu!!" pekik Ruby kesal.


Saat di Bali, sebelum kembali ke New York. Ruby mencari informasi dan darinya dia mengetahui jika Vanya memang terluka.. lebih tepatnya dilukai seseorang. Dan Louis tengah mengejar pelakunya, di samping itu.. Ruby baru saja mengetahui jika Louis bukan hanya sekedar 'manajer' di hotel Ryans, tapi dia memiliki hubungan keluarga dengan pemilik hotel Ryans,Luckas Ryans.. hubungan yang bukan hanya saudara jauh.. melainkan adik dari istri seorang Luckas Ryans. Dan selain itu,Ruby juga mendapat informasi tentang pengunduran peresmian hotel Ryans di Bali karena Louis yang harus kembali ke New York. Nafas Ruby tercekat, dia tahu jika Louis telah mengetahui pelakunya dan dia akan mengejarnya.. dan pelaku itu tidak lain adalah abang kandungnya, Peter Lee.


Ceklek..


Suara pintu kamar Peter terbuka, Peter mengintip Ruby dari celah kecil pintu yang di bukanya. Hanya dari celah pintu itu,Sharron dan Ruby melihat penampilan Peter yang begitu... hancur.


Wajahnya terlihat tidak terawat,bulu halus bagian bawah mulut terlihat dibiarkan Peter begitu saja. Kantung mata gelap menghiasi bawah mata Peter.


"PETERRRR..." pekik Sharron "ada apa denganmu???!!".


Peter tidak menghiraukan jeritan histeris Sharron, dia menatap adiknya dengan tatapan mata yang kosong.


"Apa maksudmu?" tanya Peter.


"Ada apa denganmu?!" pekik Ruby, hanya dalam beberapa hari.. Peter yang dia kenal begitu arogan, seketika berubah menjadi layaknya tunawisma di jalanan.


"Jawab saja aku!!!! Apa maksud ucapanmu tadi?!" pekik Peter.


Ruby menatap Peter dengan kesal, dia ingin menjawab Peter tapi dia menyadari Sharron yang masih berada di dekat mereka.


"Kamu--"


"Madam!! Madam!!!" suara teriakan pelayan rumah mereka membuat mereka bertiga menatap kearah jeritan pelayan itu. Pelayan tersebut berlari menghampiri mereka.


"Ada apa denganmu?! Mengapa kamu menjerit seperti melihat hantu saja?!" tukas Sharron.

__ADS_1


Pelayan tersebut melirik Peter lalu menundukkan kepalanya, "anu.. itu.. ada beberapa polisi di depan rumah.."



__ADS_2