Hotel Prince

Hotel Prince
I'm a Mess


__ADS_3

Everything's gonna be alright


Everything's gonna be okay


It's gonna be a good, good life


That's what my therapists say


Everything's gonna be alright


Everything's gonna be just fine


It's gonna be a good, good life


•Bebe Rexha•



Belum selesai Lidya menenangkan dirinya akan ucapan Luckas,Martha tiba-tiba melanjuti kalimat anaknya "ide yang bagus! Mom setuju!!". Sontak membuat kedua mata Lidya semakin membulat besar, okay.. Lidya memang sudah menerima lamaran Luckas tapi,bulan depan akan langsung menikah?? Bukan hal yang mudah bagi seorang wanita.



"Luckas.." lirih Lidya "aku--"



"Ya Tuhan!! Arthur!! mom sadar!!!" pekik Martha saat menyadari kedua mata mertuanya terbuka.



Arthur refleks berdiri dan mendekati ibunya dan langsung menekan bel yang ada di dekat tempat tidur tersebut.



TIdak lama kemudian,dokter masuk kedalam ruangan bersama para suster yang dengan sigap menyuruh semua orang di ruangan tersebut untuk meninggalkan ruangan tersebut terlebih dahulu. Selang setengah jam kemudian,dokter keluar, semua orang mendekati dokter seketika.



"Mrs.Dora telah sadar dari komanya.." sahut dokter dan diiringi senyuman dan helaan nafas lega dari ketiga orang tersebut.



"tapi.." lanjut dokter yang sontak mendapat tatapan kembali dari semua orang "Beliau kehilangan kemampuan bicaranya dan bagian pengelihataan akan mengalami sedikit masalah.."

__ADS_1



"masalah? maksud anda dokter? ibuku akan menjadi buta dan bisu?" lirih Arhtur.



"Tidak! Beliau tidak sampai mengalami kebutuan,sir Arthur.. karena benturan di kepalanya, mengakibatkan pengelihatannya akan sedikit tidak jelas,tapi beliau tidak sepenuhnya buta. Mengenai kemampuan bicaranya,saya masih butuh pemeriksaan lebih lanjut, karena kita belum tahu apakah itu akan menjadi permanen atau hanya efek sementara saja" jelas dokter tersebut.



"Ya Tuhan.." lirih Martha.



Arthur hanya bisa memeluk istrinya,hatinya hancur saat mendengar kondisi ibunya seperti itu.



"Apakah kami sudah boleh masuk kembali ke dalam,dokter?" tanya Lidya.



Dokter tersebut mengangguk "ingat jangan membuat beliau semakin terguncang,beliau butuh istirahat lebih apalagi baru sadar dari komanya"




"Terima kasih,mom karena telah bertahan.." bisik Arhtur.



Dora hanya bisa menggerakkan kedua bola matanya dan sesekali memicingkan matanya karena pengelihatannya yang tidak begitu jelas.



Lidya mendorong Luckas untuk mendekati Dora "grandma.." sahut Luckas dengan masa bodoh.



Seketika Dora menatap kearah sumber suara tersebut, matanya terlihat merah,tubuhnya mencoba bergerak dengan dipaksa.


__ADS_1


"Mom..tenanglah.." sahut Arhur yang melihat ibunya semakin bergerak dan mengakibatkan suara mesin yang tersambung di tubuh Dora berbunyi, para suster dan dokter seketika datang dan kembali memeriksa Dora kembali dan dengan bergegas dokter menyuruh susternya untuk menyuntikkan obat penenang untuk Dora.



"Sudah saya katakan jangan membuatnya terguncang.." sahut dokter sambil menghela nafas "sebisa mungkin jangan membuatnya stress terlebih dahulu.." sahut dokter tersebut sambil kembali meninggalkan mereka.



Martha mendekati Luckas "mungkin sebaiknya kalian pulang terlebih dahulu.." sahut Marhta yang langsung di setujui Arthur "mungkin Dora masih terpukul dengan keadaannya dan bertemu denganmu mungkin mengingatkannya pada dirinya.." sahut Martha.



Lidya mengangguk menyetujui ucapan Martha, Lidya mengerti kondisi Dora akan semakin terguncang apalagi jika melihatnya. Martha kembali mendekati Lidya "sebaiknya kalian memfokuskan diri kalian untuk persiapan pernikahan kalian,Lidya.. soal Dora, mom dan dad akan menjaganya. Kalian tidak perlu memusingkan kami.. fokuslah pada pernikahan kalian.. mom menginginkan calon pengantin yang berbahagia..".



Arthur mendekati Lidya dan Martha "benar sekali ucapan Martha.. Kami sudah tidak sabar melihat kalian berdua memakai baju pengantin.." sahutnya sambil tersenyum.



Dua hari kemudian,


Belinda dan Ronald memberi kejutan pada Lidya,Louis dan Ayles kembali ke New York bersama kedua orang tua Lidya..sontak membuat Lidya begitu gembira.


Lidya berlari memeluk ibunya "mom juga ingin merayakan natal tahun ini bersama-sama.." bisik Belinda.


Sedangkan Luckas dengan cepat menggendong Ayles yang begitu dia rindukan "ksatria Daddy..mengapa dua hari saja,pipimu semakin berisi?"


Louis tertawa "tentu saja,karena kedua pipinya berisi roti coklat" sahut Louis sambil melirik Ayles yang sibuk mengunyah.


Lidya menatap Belinda dengan penuh haru dan mengangguk kencang "tentu saja,mom!! natal tahun ini akan menjadi natal yang paling membahagiakan dalam hidupku!" sahut Lidya.


Luckas tersenyum dan mendekati kedua ibu dan anak tersebut "Lidya,bagaimana jika kalian semua menginap di penthouseku?" tawar Luckas yang mengingat rumah Lidya yang tidak begitu besar.


"terima kasih tawaranmu, Luckas..Tapi kami ingin menginap di rumah Lidya" tolak Ronald dengan sopan.


"Tapi--"


Lidya menyentuh lengan Luckas "tidak apa-apa,Luckas.. biarkan mereka menginap di rumahku.." sahut Lidya.


Luckas menatap mereka semua "jika seperti itu,maka aku akan ikut menginap di rumah Lidya juga!!"


Sontak semuanya menatap Luckas dengan bengong.

__ADS_1



__ADS_2