
Hotel Hilton,
Ruby menatap Louis yang tidak sadarkan diri dengan wajah penuh kemenangan. Dia mengelus lembut wajah Louis dengan jari telunjuknya perlahan hingga turun ke arah dada Louis yang tidak tertutup sehelai benangpun.
Dengan hanya memakai pakaian dalam,Ruby menutupi tubuhnya dengan jubah mandi. Dia menatap pakaiannya dan juga pakaian Louis yang berserakan di lantai hotel yang dingin itu. Kembali Ruby tersenyum,
Satu jam yang lalu,
Ruby dan Louis yang masih bercengkrama di bar, saling bercanda satu sama lain hingga akhirnya perlahan Louis mulai merasa sedikit kehilangan kesadaran,
"Aku harus segera pulang.." sahut Louis sambil memegang kepalanya yang mulai oyong.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ruby dengan cemas.
Louis mengangguk walau tubuhnya telah sempoyongan.
"Kamu naik apa pulang?" tanya Ruby.
"Sepertinya aku harus naik taksi,aku sedikit pusing.." Louis menatap bartender tersebut dengan tatapan kesal, "kamu yakin tidak memberiku minuman beralkohol?!!".
Bukannya menjawab,bartender tersebut tersenyum lebar menatap Louis, "tentu saja, sir.." sahutnya "aku hanya memberimu sedikit demi sedikit campuran minuman beralkohol dan terakhir sedikit obat bius." lanjutnya dalam hati.
Dengan cepat,Ruby memegang lengan Louis,mencoba membantunya yang sudah terlihat sempoyongan, tidak lupa dia sendiri berpura-pura terlihat sedikit mabuk "sudahlah.. aku juga harus pulang, sepertinya aku mulai mabuk.." sahut Ruby.
"Saya akan membantu anda untuk memesan taksi,miss.." sahut bartender tersebut.
Ruby mengangguk, "terima kasih.." sahutnya.
Ruby melirik Louis yang sudah duduk di sofa yang tidak jauh dari mereka, terlihat Louis berusaha keras untuk membuka matanya yang terasa berat. Seulas senyuman kemenangan menghiasi wajah Ruby, Ruby tidak sengaja mendengar pembicaraan Louis dengan pegawai lainnya saat pegawai lainnya mengajaknya untuk pesta perpisahan, dan mereka mengajak Louis untuk pergi minum-minum. Louis menolak mereka dengan alasan jika dirinya tidak bisa minum minuman beralkohol, dan menyarankan untuk menaktir mereka makan-makan saja.
Sejak kejadian terakhir kali antara Vanya,Louis telah bertekad menjauhi minuman beralkohol. Dia tidak ingin ada Vanya-Vanya lainnya lagi, dia sudah cukup bersyukur karena wanita yang tanpa sengaja dia tiduri adalah Vanya,wanita yang dia cintai. Dia bahkan tidak bisa membayangkan jika wanita lain saat itu.
Dengan sedikit uang untuk bartender tersebut, semua rencana Ruby berjalan mulus. Ruby menyodorkan uang dengan jumlah tidak sedikit, membuat bartender tersebut tanpa bertanya lebih banyak,langsung menyetujui apa yang diperintahkan Ruby.
Dan setelahnya, tidak sulit bagi Ruby untuk membawa Louis yang sudah tidak sadarkan diri ke hotel,tentu dengan sedikit bantuan dari bartender yang dengan senang hati membantu Ruby.
"Kami ke sana", pesan dari Peter membuyarkan lamunan Ruby.
"Kami?" gumam Ruby sendiri,lalu seulas senyuman kembali menghiasi wajahnya, "kamu membantuku menyelesaikan semuanya sekaligus,Vanya".
Ruby kembali menatap Louis yang masih terlelap pulas, "tidurlah,sayang.. sebentar lagi kita harus menghadapi wanita licik yang merebutmu dariku.." bisik Ruby.
Ruby melepas jubah mandi yang melekat di tubuhnya, sedikit improvisasi untuk tamu-tamunya yang akan sampai sebentar lagi.
Di dalam mobil Peter,
"Vanya.." sahut Peter.
Vanya menatap Peter dengan wajah yang terlihat gugup, sejak melihat foto yang dikirim Ruby. Bagaimanapun,Vanya mengenal jika pria itu adalah Louis!. Tapi,tidak..tidak sampai Vanya melihatnya secara langsung. Dia tidak ingin berasumsi sendiri.
"Mengapa kamu ingin ikut denganku untuk bertemu Ruby?" tanya Peter.
__ADS_1
"Ah..maafkan aku,apakah kehadiranku akan mengganggu kalian?" tanya Vanya.
"Bukan..bukan itu maksudku.." sahut Peter dengan buru-buru.
Vanya tersenyum kecut, "hanya untuk memastikan sesuatu.." sahut Vanya.
"Memastikan?? memastikan apa?"
"Nanti akan segera aku jelaskan jika aku sendiri telah memastikannya secara langsung,Peter.." sahut Vanya.
"Baiklah,jika itu maumu.."
Tanpa sadar,Vanya mengelus perutnya yang mulai sedikit terlihat. Suatu kebiasaan yang refleks bagi para ibu hamil. Peter sedikit risih dan kesal dengan hal kecil itu, "sudah berapa bulan?"
"Ah.." Vanya tersenyum "tiga bulan.." sahut Vanya sambil tersenyum.
"Pria yang beruntung?" tanya Vanya.
Peter menatap Vanya dengan lembut, "siapapun yang mendapatkanmu adalah pria yang beruntung,Vanya"
Vanya tertawa tanpa menjawab apapun, "kita sudah sampai.." sahut Vanya datar saat menatap lobi hotel.
"Baiklah.. aku akan memberi pelajaran pada Ruby terlebih dahulu dan pastinya pada pria yang sedang bersamanya itu!" sahut Peter dingin lalu berjalan masuk ke dalam hotel.
Vanya mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdetak keras saat berada di lift, "*tidak mungkin kamu bukan,Louis*?" lirihnya dalam hati.
Peter dan Vanya berdiri di depan pintu hotel, Peter menekan bel berulang kali. Sampai akhirnya,Ruby membuka pintu dengan hanya memakai pakaian dalam dan wajah yang berantakan.
__ADS_1
"Peter?" seru Ruby dengan wajah terkejut.
Peter dan Vanya menatap Ruby dari ujung rambut hingga ujung kaki, "gadis bodoh!!! apa yang kamu lakukan?!!! Kamu yang begitu menjaga kehormatanmu dan sekarang? lihatlah,kamu!!"
"Aku sudah dewasa!!" jawab Ruby kasar.
"Dan tidak menjadi alasan bagimu untuk seenaknya tidur dengan para pria yang hidung belang!!. Mana pria itu?!" pekik Peter.
Ruby membentangkan tangannya, "jangan ganggu dia. Kami baru saja--" wajah Ruby tersipu,lalu dia menyadari kehadiran wanita lain di belakang kakaknya, "ka..kamu?!!. Me.. Mengapa kamu disini?!!". Ruby menatap Peter dengan kesal, "jadi..kamu sedang bersama wanita jalang ini sejak tadi?!!. Mengapa kamu membawanya kesini?!" pekik Ruby.
Peter menarik Vanya untuk bersembunyi di belakang tubuhnya, "wanita jalang?. Lihatlah dirimu dan dirinya,menurutmu..siapa yang cocok mendapat panggilan itu sekarang?".
"Kakak membelanya?" sahut Ruby tidak percaya.
"Tentu!! Karena kamu telah mengecewakanku!!" Peter mendorong tubuh Ruby pelan "Biarkan aku masuk!!!".
Vanya mengikuti Peter masuk ke dalam, namun Ruby menahannya "pergi kau!!. Ini urusanku dan Peter!!. Kamu bukan siapa-siapa. Sekarang...pergi!!" bentak Ruby.
"Dasar bajingan!! Bangun kau!!!. Tidak cukup kau menghamili Vanya dan sekarang kau bermain-main dengan adikku????" pekik Peter.
Wajah Vanya berubah pucat seketika saat mendengar perkataan Peter, dia mendorong Ruby dan tidak menggubris larangan dan makian Ruby padanya. Vanya berjalan perlahan mendekati tempat tidur, Vanya melihat sekeliling lantai yang berserakan dengan baju-baju pria dan wanita. Perlahan Vanya menatap pria yang ada di tempat tidur itu, sekujur tubuh Vanya bergemetar hebat, "L..Louis?!" lirih Vanya dengan suara yang gemetar.
Louis yang masih berusaha mengumpulkan kesadaran, yang di paksa bangun oleh amukan suara Peter, perlahan mencoba membuka matanya yang terasa begitu berat, dan orang yang pertama di lihatnya adalah Vanya yang tengah menitikkan air mata menatapnya.
curcol author:
loha~
maafkan daku yang telat upload,baik di Hotel Prince maupun di Still Holding On.. Beberapa hari bocilku sedang tidak enak badan dan I'm really not on my mind, aku bener-bener tidak bisa fokus (para bunda pasti tau la perasaannya). Dan selama itu,aku benar-benar ga mood ngapa-ngapain, bahkan makan pun ga selera T.T.
Jadi..aku beneran minta maaf ya,readers..huhuhu..
but, gantinya aku usahain upload dua bab (jika bisa,dua bab di tiap novelku).
Makasih buat yang terus mendukungku.. ai loph yu ol❤️. Jangan lupa mampir di novel keduaku ya..
__ADS_1
"Still Holding On"