
Tiga hari setelahnya, Vanya diperbolehkan pulang oleh dokter. Dan selama itu juga,Vanya menolak bertemu dengan Louis. Bahkan Vanya memblokir nomor telepon Louis. Louis yang telah putus asa, memilih menunggu Vanya di depan rumahnya hanya untuk berbicara empat mata dengannya,dan lagi-lagi nihil.. Vanya tidak kembali ke rumahnya.
Peter menyarankan Vanya untuk tinggal di apartemen kecil miliknya untuk sementara waktu sebelum berangkat ke Beijing. Peter juga membantu semua prosedur untuk Vanya, baik di tempat kerja maupun data-data untuk berangkat ke Beijing.
Dan sejak itu,Vanya lebih banyak diam membisu dan hanya menuruti apa yang dikatakan Peter. Dia hanya berdiam diri di dalam apartemen sampai semua prosedur yang dibutuhkan selesai,sama seperti apa yang dikatakan Peter.
Di sisi lain, dikediaman Louis.
Lidya dan Luckas yang baru saja tiba di rumah Louis,bergegas masuk ke dalam rumah. Untungnya, Lidya yang masih menyimpan kunci rumah lamanya sehingga tidak membutuhkan drama untuk membuka pintu itu.
"Louis!" seru Lidya begitu masuk ke dalam rumah.
"Lidya...tenangkan dirimu.." sahut Luckas pelan.
"Bagaimana aku bisa tenang?!. Bedebah itu harus diberi pelajaran!!. Dia bahkan tidak mengangkat teleponku!!" tukas Lidya. Hari itu,Louis yang diharuskan berangkat ke Washington untuk segera memulai pelatihan untuknya, tapi hingga saat ini Louis belum kelihatan batang hidungnya. Berulang kali Lidya dan Luckas menghubunginya,namun Louis tidak mengangkat telepon dari mereka. Lidya mencoba membuka kamar Louis,tapi.. "Kamu di dalam???!!!!" pekik Lidya saat menyadari pintu kamar Louis yang terkunci.
"....." tidak ada jawaban apapun dari balik pintu kamar Louis.
"Louis??" sahut Luckas pelan.
Dan masih sama, tidak ada jawaban.
Luckas menatap Lidya dengan gugup, "Louis baik-baik saja bukan?"
"Apa maksudmu?" tanya Lidya.
"Dia tidak menjawab bahkan tidak menggubris kita yang sejak tadi berteriak di dalam rumah" bisik Luckas.
"Kamu jangan menakutiku!!" sahut Lidya, Lidya menggedor-gedor pintu kamar Louis kembali sambil memanggil namanya berulang kali.
"Tidak bisa.. kita harus segera memeriksa keadaannya!! Aku berfirasat buruk akan hal ini.." sahut Luckas "menjauhlah,Lidya.. aku akan mendobrak pintunya.." lanjut Luckas sambil berjalan mundur dan bersiap untuk mendobrak pintu kamar Louis.
Luckas berlari begitu kencang,mendekati pintu kamar Louis dan..
'*Ceklek*..'
Pintu kamar Louis terbuka, Luckas yang tidak berhasil menghentikan dirinya hanya bisa pasrah jatuh ke lantai kamar Louis, Luckas merintih kesakitan, "bajingan kau!" pekik Luckas kesal.
"Astaga!!! Ada apa denganmu??" pekik Lidya saat melihat kondisi adiknya, "kamu begitu berantakan? Apa yang terjadi???"
Louis hanya menatap mereka berdua dengan tatapan kosong, lalu kembali beranjak masuk di balik selimutnya. Dia terlihat sangat berantakan dan hancur,tidak seperti dirinya yang dulu. Rambutnya yang biasa tertata rapi,sekarang terlihat acak-acakan. Louis yang dulunya begitu menjaga penampilan walaupun hanya berada di dalam rumah, sekarang hanya memakai kaos oblong yang telah kotor dengan celana pendek. Suatu pemandangan yang sangat aneh bagi Lidya.
"Pergilah kalian berdua!!" sahut Louis dari balik selimut.
Tidak tahu mengapa,hati Lidya terasa begitu sakit saat melihat kondisi adiknya. Walau dia tidak tahu pasti apa yang menimpa adik semata wayangnya namun yang pasti hal itu adalah masalah yang berat bagi seorang Louis. Louis yang biasanya begitu ceria dan semua masalah selalu begitu ringan dan tidak ada apa-apanya di matanya,sekarang dia terlihat hancur. Lidya mendekati Louis, "ada apa denganmu?" sahut Lidya pelan.
__ADS_1
"Pergilah,Lidya.." lirih Louis.
"Tidak sebelum aku mengetahui apa yang terjadi padamu. Mengapa kamu belakangan ini jarang datang ke tempatku dan sekarang kamu menjadi seperti ini" sahut Lidya dengan perih.
"Jangan-jangan masalah wanita" sahut Luckas acuh sambil duduk di kursi kerja yang ada di kamar Louis.
Louis membisu.
"Nah,benarkan?!" lanjut Luckas dengan nada penuh kemenangan dan akhirnya mendapat hadiah tatapan tajam dari istrinya.
"Tinggalkan kami terlebih dahulu,Luckas" sahut Lidya, dengan adanya kehadiran Luckas, Lidya yakin akan sulit untuk berbicara dengan Louis.
Luckas hanya bisa menurut pada perintah sang istri,dia berjalan keluar dengan wajah yang cemberut.
Setelah melihat Luckas yang telah keluar,Lidya menarik selimut yang menyelimuti tubuh Louis, sontak membuat Louis terkejut dan murka, "apa yang kau lakukan?!"
"Mengeluarkanmu dari duniamu!!" balas Lidya dengan suara yang tidak kalah kuat.
"Aku tidak butuh bantuanmu!"
"Tidak!! Kamu membutuhkanku!!"
"Untungnya karena aku kakakmu,maka aku bisa berbuat seenakku dan salah satunya menyadarkanmu!!"
Di luar kamar,Luckas menempelkan telinganya di pintu kamar Louis, pertengkaran antara kedua kakak beradik itu sangat jarang di mata dan telinga Luckas.
"Pergi!!" bentak Louis
"Ini rumahku!!"
Louis terdiam, "ah..kamu benar.."
Lidya memutar kedua bola matanya, "aku tidak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi tapi meringkuk di balik selimut tidak akan membantumu apa-apa!!", Lidya berjalan perlahan mendekati Louis, dan langsung memeluk adiknya, "setidaknya ceritakan padaku supaya kamu sedikit lega,adik kecilku.." sahut Lidya lembut dan suara yang lembut dan tulus itu membuat Louis luluh, tanpa dia sadari.. air matanya mengalir.
"Aku bingung,Lidya.. aku telah mencarinya,menunggunya, menghubunginya..tapi semua nihil.. a..aku.." Louis tidak sanggup melanjutkan kata-katanya,dia hanya bisa terisak, melampiaskan semua kepenatan yang ada di pikirannya pada kakaknya.
Lidya menepuk pelan punggung adiknya, '*ah.. ternyata..benar kata Louis..masalah wanita*' sahut Lidya dalam hati, "ceritakan padaku.."
Di depan pintu, Luckas memutar kedua bola matanya, "tidak seru.. sebentar saja sudah baikan.." sahutnya sambil berjalan menuju sofa dan menghidupkan televisi. Baru saja dia menghidupkan suara televisi, Luckas kembali di kejutkan suara jeritan istrinya.
"APAAAA???!!!!" pekik Lidya "Demi Tuhan!!!!" Lidya menepuk punggung adiknya dengan kuat, "aku sudah mengatakan padamu!! Jangan menghamili anak orang!!!"
__ADS_1
Louis merintih kesakitan akan pukulan kakaknya, "aduh..hentikan,Lidya!!. Kamu baru saja mendengar awalnya!!"
Lidya menghentikan serangannya, "apa yang kamu lakukan pada wanita itu???"
"Lidya..aku mencintainya.." sahut Louis.
"Bagaimana dengannya??" tukas Lidya.
"Dia juga mencintaiku!"
Lidya terdiam, "jadi? Mengapa kamu jadi seperti ini?? Kalian tinggal menikah, bukan??" tanya Lidya kebingungan, "atau jangan kamu katakan keluarganya tidak menyukaimu?"
"Dia bukan Luckas.."
Lidya bernafas lega, "jadi??"
Louis kembali menceritakan semuanya pada Lidya,termasuk tentang Ruby dan juga kecelakaan yang menimpa Vanya.
Kedua mata Lidya membesar saat mendengar cerita Louis, "ja...jadi..sekarang dia telah keguguran?"
Louis menunduk sedih dan mengangguk.
"Ya Tuhan..seberapa hancur hatinya saat ini..." lirih Lidya.
"Dan dia tidak ingin bertemu denganku... Dia menyalahkanku akan semua yang terjadi"
Lidya menatap adiknya dengan kesal, "tentu saja!! Bagaimana kamu bisa bersama wanita lain dikala kekasihmu sedang mengandung anakmu!!"
"Tapi..aku--" Louis menghela nafas "baiklah..aku salah.." sahut Louis pasrah.
Lidya berdiri, "bersiap-siaplah!!"
"Kemana?" tanya Louis bingung.
"Mencari kekasihmu!! Calon adik iparku!!" sahut Lidya yang langsung berjalan keluar dari kamar Louis dan menatap Luckas yang sedang tersenyum menatap istrinya.
"Aku telah menyuruh Edward memeriksa tentang keberadaan Vanya.." sahut Luckas yang langsung mendapat kecupan dari istrinya.
"Terima kasih,sayang..".
Hasil menguping yang tidak sia-sia,begitu selesai mendengar pembicaraan kedua kakak beradik itu..Luckas langsung menelepon Edward untuk mencari keberadaan Vanya saat ini. Bukan hal yang sulit bagi seorang Luckas Ryans.
__ADS_1