Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Aku akan mengurusnya sendiri


__ADS_3

"Louis.." Luckas kembali terdiam,dia tidak tahu bagaimana memberitahu Louis tetang pelaku yang telah menyakiti Vanya.


"Luckas.."


Luckas menatap Louis yang terlihat begitu serius.


"Bisakah aku meminta bantuanmu dan Lidya?" tanya Louis.


"Te..tentu.. apapun.. bantuan apa,Louis?"


"Aku ingin menitip Vanya.." jawab Louis.


Luckas terlihat mengerutkan keningnya, "apa maksudmu?"


"Aku.. akan ke New York untuk beberapa hari.."


"Untuk apa? Jika ada hal penting atau ada sesuatu yang kamu inginkan dari sana.. Aku bisa mengurusnya.." sahut Luckas.


Louis menggeleng, "tidak akan ada yang bisa membantuku mengurusnya. Hal ini harus aku urus sendiri"


Luckas menatap Louis dengan tajam, raut wajah Louis begitu susah ditebak, dia lalu menghela nafas "kamu tidak ingin tahu bagaimana penyelidikan kasus Vanya?"


Wajah Louis berubah datar sekejap, lalu menatap kearah lain sambil memegang lehernya dengan tangan kanannya, "aku.. sepertinya tidak memikirkan itu.. Aku tidak yakin polisi akan mudah mendapatkan pelakunya!" tukas Louis.


Perlahan Luckas mendekati Louis, "jadi.. kamu sudah pasrah dan tidak ingin menindaklanjuti lagi?"


"TIDAK! tentu tidak!"


"Jadi? Beri aku alasan mengapa kamu ingin ke New York?"


"****!!!" pekik Louis, "Aku tidak sedang meminta izinmu,Luckas!!


Luckas terdiam.

__ADS_1


"Sorry.. aku tidak bermaksud membentakmu.." lanjut Louis, dia merasa bersalah telah membesarkan suaranya pada Luckas.


Luckas tersenyum kecut, "sepertinya kamu telah tahu tentang pelaku yang menyerang Vanya"


Louis yang terkejut, menatap Luckas dengan bingung, "ja.. jangan-jangan.."


"Ya.. Richard telah mendapatkan pelakunya" jawab Luckas "dan jika maksud kamu untuk ke New York hanya untuk membalas dendam ataupun berbuat nekad yang akan membuatmu menyesal kemudian hari.. maka singkirkan pikiran itu!!"


"A..aku--"


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh ke dalam lumpur,Louis!!"


Louis menundukkan kepalanya, "Luc.."


Luckas menepuk pelan pundak Louis, "kamu.. memiliki aku dan Lidya.. dan juga Vanya yang harus kamu jaga kelak seumur hidupmu!!. Dan apakah kamu pikir.. Vanya akan berbahagia dan berterima kasih jika kamu berbuat nekad pada bajing*n seperti Peter??. Vanya akan membencimu!!"


Kedua kaki Louis lemas seketika,dia terduduk di lantai. Rencana yang semalaman dia pikirkan,seketika di tebak oleh Luckas dalam hitungan menit. Sejak mengetahui lokasi Peter,Louis telah berjanji untuk membalas Peter berkali-kali lipat dengan tangannya sendiri. Itu yang dia janjikan pada dirinya..


Louis menatap Luckas, "apa maksudmu?"


"Kita akan ke New York.. Aku telah membicarakan pada Lidya.. untuk membawa Vanya ke New York,terlepas dia sadar atau tidak. Setidaknya di sana kita bisa memberikan perawatan yang lebih baik.. dan di sisi lain, aku ingin kamu berada disana untuk mengetahui lebih jelas tentang penangkapan Peter" sahut Luckas lembut.


"Luckas--"


"Tidak perlu berterima kasih padaku,adik ipar.. dan jangan memelukku atau apapun itu.. aku tidak ingin disangka gay"


Louis tertawa, "aku hanya bisa berterima kasih,Luckas.. tapi.. bagaimana dengan hotel Ryans disini?"


Tanggal peresmian hotel telah di tentukan,dan jika mereka kembali ke New York,maka peresmian hotel akan tertunda.


Luckas tersenyum, "kamu tidak perlu memikirkan itu..aku bisa menundanya.. urusanmu lebih penting,Louis. Menunda peresmian hanya masalah kecil bagiku"


Louis berdiri dan memeluk Luckas dengan erat, tentunya menarik perhatian orang di sekitar mereka. Dua pria bule berpelukan di depan umum, dalam sekejap menjadi perhatian sekitar dan terdengar beberapa bisikan dari orang sekitar mereka yang mengira jika keduanya adalah pasangan gay.

__ADS_1


Luckas bergegas menepuk Louis dan memintanya melepaskannya, namun Louis malah memeluknya semakin erat, "Louis sialan!!! lepaskan aku!!!"


"Biarkan mereka!! Berterimakasihlah padaku yang menahan diri tidak mencium pipimu,abang iparku!!"


"Sialan kau!!" pekik Luckas lalu mendorong Louis dengan kuat hingga akhirnya mereka terpisahkan.


Luckas tidak berhenti merepet sambil masuk ke dalam ruangan Vanya kembali. Sedangkan Louis hanya tertawa puas.



New York, kediaman Simon Lee.



"Madam.. tuan Peter mengatakan untuk makan terlebih dahulu.." sahut salah satu pelayan wanita pada Sharron.



Sharron menyuruhnya untuk memberitahu Peter supaya makan malam. Sudah tiga hari ini Peter mengurung diri di kamar, dia bahkan jarang terlihat keluar dari kamarnya. Sharron mulai ketakutan, memberitahu Simon..tapi Simon hanya tertawa dan tidak menganggap serius tentang Peter.



Sharron mulai curiga ada masalah dengan Peter saat berada di Bali, karenanya dia bertanya pada anak perempuannya tapi.. dari pesan Ruby jika tidak ada masalah apa pun.



Suara helaan nafas berat terdengar dari mulut Sharron. Rumah yang besar tapi selalu hampa dan begitu dingin. Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar putranya.



*Tok..tok*..


__ADS_1


__ADS_2