
Set the voltage, love me
Don’t shock me without any notice
Don’t crash into me but slightly avoid me
Protect me from this sudden changing world
•f(x)
Luckas menyadari perubahan wajah Lidya, dia kembali menoleh menatap Dora "bagaimana jika kami menolaknya?"
Dora tersenyum penuh arti "tentu kalian tetap dapat menikah.." sahut Dora diiringi tatapan bingung dari kedua insan yang di hadapannya "hanya.. Ayles tidak boleh ikut masuk kedalam keluarga ini.. dan kalian juga tidak boleh berhubungan dengannya"
Kembali Lidya merasa dihantam oleh batu besar setelah mendengar ucapan Dora. Begitu juga dengan Luckas yang seketika merasakan pandangannya hampa.
Sadar akan keheningan yang menyelimuti ruangan itu membuat Dora kembali melanjutkan pembicaraannya "jangan menyalahkanku.. Aku hanya menginginkan sebuah kepastian jika Ayles memiliki darah Ryans.." Dora menatap Lidya "dan..karena kejadian kemarinlah membuatku menginginkan sebuah kepastian yang jelas saja..Bukankah itu bukanlah hal yang aneh?" lanjut Dora.
"kejadian??" Luckas bingung dengan perkataan Dora "kejadian apa yang dimaksud?"
Raut wajah Dora seketika berubah kembali menjadi ketus "tanyakan saja pada wanita yang disampingmu"
Amarah memenuhi seluruh diri Lidya,dia bangkit berdiri dari tempat duduknya dan menatap Dora dengan geram "Sampai kapanpun Ayles adalah anakku!!! Dan aku tidak membutuhkan pengakuan dan tidak berniat membuktikan pada kalian jika Ayles adalah keturunan Ryans!!!!" Lidya tertawa dengan perih "Apa kamu mengira,saya begitu hina?? memakai Ayles sebagai '*senjata*' untuk bisa menjadi bagian keluarga yang menurutmu begitu agung??!!" bentak Lidya. Lidya mengalihkan pandangannya pada Luckas "anggap lamaranmu tidak pernah ada!!" sahut Lidya sambil berlari keluar meninggalkan Luckas dan Dora.
__ADS_1
Dora menahan Luckas yang ingin mengejar Lidya "Luckas..."
"kejadian apa yang grandma maksud??!!! tidak bisakah diantara kalian menjelaskan padaku apa yang terjadi?!!" pekik Luckas.
Dora menghela nafas begitu berat "Permintaanku bukan tanpa alasan,Luckas.. kemarin aku pergi ke hotel DeParis,dan aku melihat dengan kepala mataku sendiri.. Lidya bersama pria lain dan berpelukan.." Dora menatap Luckas "dan aku tidak mengada-ada dengan perkataanku..kamu bisa tanyakan pada Steward,karena dia sendiri juga melihatnya".
Luckas mematung.
"Jadi..bukankah wajar jika aku meminta kejelasan tentang Ayles?? Jika memang Ayles adalah anakmu..mengapa Lidya begitu marah dan menolak permintaanku??!!" lanjut Dora.
Melihat Luckas yang masih diam,Dora kembali menghela nafas "ini terakhir kalinya aku mengatakan ini padamu,Luckas.. Kamu adalah cucuku satu-satunya..darah daging keluarga Ryans.. jangan biarkan cintamu itu membutakanmu hingga tidak bisa melihat mana yang benar dan salah!"
Amarah membuat seluruh tubuh Lidya bergetar,dia berjalan menuju ruang tamu dengan masih mencoba menahan semua emosinya yang mulai memuncak. Dia mendekati Ayles yang terlihat begitu gembira memainkan mainannya bersama Martha dan Arthur, tanpa basa basi.. Lidya segera menggendong Ayles dan langsung melangkah menuju pintu depan sambil mencoba menahan air mata amarahnya.
Tentu hal itu membuat Arthur dan Martha kebingungan, Martha bergegas mengejar Lidya.
Mata Lidya memerah karena menahan air mata dan emosi "maaf mom..sepertinya aku memang tidak cocok dengan keluarga ini" Lidya tertawa sinis "keluarga ini terlalu tinggi dan terlalu angkuh bagiku yang bukan siapa-siapa.. aku capek,mom.." sahut Lidya yang mulai menitikkan air matanya "tolong sampaikan pada Luckas jika hubungan kami hanya sampai disini,mom.." sahut Lidya sambil memberikan cincin yang ada di jari manisnya pada Martha.
Penthouse..
__ADS_1
Sudah tidak tahu gelas keberapa yang sudah diminum Luckas, minuman beralkohol yang jarang diminumnya dan lebih sering menjadi pajangan semata di penthousenya..sekarang malah menjadi pelipur baginya. Dia tidak ingin memikirkan perkataan Dora,namun ucapan Dora ada benarnya..mengapa Lidya begitu marah saat Dora meminta kejelasan Ayles.
"arrggghhhh..." jerit Luckas. Dia bahkan melemparkan gelas kaca yang baru saja berada ditangannya itu,sekarang sudah hancur berkeping-keping tidak terbentuk di lantai.
Luckas memilih berbaring di tempat tidurnya,dia yang sekarang sangat tidak bisa berpikir jernih..Dia bahkan tidak ingin menelepon ataupun bertemu dengan Lidya.
Rumah Lidya,
Sama seperti Luckas,sejak kembali dirumahnya..Lidya memilih mengurung diri di kamarnya. Berulang kali Louis mencoba mengetuk pintu kamar Lidya namun tidak kunjung ada jawaban dan pintu yang tetap terkunci rapat.
"Lidya.." panggil Louis pelan "ada apa denganmu? Jika memiliki masalah..bukankah kamu bisa menceritakannya padaku?"
Alih-alih mendapat balasan dari balik pintu itu,malah Lidya mengirim pesan pada Louis.
"*kumohon..biarkan aku sendiri,Louis. Aku sedang membutuhkan waktu sendiri,dan tolong aku untuk menjaga Ayles sebentar*..".
Setelah membaca pesan singkat dari Lidya,Louis hanya bisa menarik dan membuang nafas panjang "baiklah..aku akan mengajak Ayles ke taman dekat sini sebentar.. tenangkanlah dirimu,Lidya.. Dan ingat,kamu masih memiliki Ayles dan keluargamu.." sahut Louis,dan tentunya tetap tanpa ada balasan apapun dari dalam kamar Lidya. Louis hanya menggelengkan kepalanya dan mengajak Ayles keluar.
__ADS_1