Hotel Prince

Hotel Prince
Let Me Love You


__ADS_3

Say, go through the darkest of days


Heaven's a heartbreak away


Never let you go, never let me down


Oh, it's been a hell of a ride


Driving the edge of a knife


Never let you go, never let me down


•Dj Snake•



Setibanya di New York, Luckas membawa Lidya ke penthousenya dan Lidya menyuruh Luckas untuk menghubungi Martha segera.



"Mom.."



"Lidya?" tanya Martha.



"ini Lidya,mom.."



"ka..kamu dan Luckas--"



"iya..aku dan Luckas telah berbaikan.." sahut Lidya dengan tersipu.



"ya Tuhan..Mom senang mendengarnya.." sahut Martha dengan nada yang terdengar begitu bahagia.



"Mom.. aku telah mendengar kabar mengenai Dora.." lirih Lidya "bagaimana keadaannya sekarang,mom?"



"masih begitu saja,Lidya.. Dora masih belum sadar.. Dokter mengatakan untuk menyuruh kami bersabar dan banyak berdoa karena Dora terjatuh dan kepala bagian belakangnya terantuk keras,dan hal itu biasanya sangat berakibat fatal untuk seusia Dora" jelas Martha.



"A..aku turut bersedih,mom.." lirih Lidya.



"terima kasih,sayang.. kamu masih begitu perhatian padanya setelah semua yang dia perbuat padamu,pada kalian"



"Mom..apakah Lidya boleh mengunjunginya?" tanya Lidya dengan berhati-hati.



Martha tersenyum "tentu..tentu saja.. sampai kapanpun pintu keluarga Ryans selalu terbuka untukmu,sayang.."

__ADS_1



Luckas mengambil ponselnya dari Lidya "mom.."



"Luckas? sayang..mom turut berbahagia melihat kalian kembali bersatu.."



"terima kasih,mom.. mom, aku hanya ingin memberitahu mom jika aku ingin segera mempercepat pernikahan kami!" sahut Luckas langsung,Lidya langsung menepuk keras lengan Luckas.



Luckas terkekeh.



"tentu mom sangat setuju.. kalian bisa memilih kapan kalian inginkan,Luckas..mom serahkan pada kalian saja"



"Baiklah jika mom berkata seperti itu. Karena kedua orang tua Lidya sendiri juga telah setuju dan tidak keberatan" sahut Luckas dengan senyum yang begitu lebar.



"beritahu mom jika kita akan segera menjenguk Dora" bisik Lidya dari samping.



Luckas hanya melirik Lidya "baiklah,mom.. Aku akan menghubungi mom kembali..bye mom" sahutnya sambil mengakhiri teleponnya. Lidya menatap tajam calon suaminya itu.



"Mengapa kamu tidak memberitahu mom?" tukas Lidya.




"Luckas!"



"Lidya.. aku kapok dan trauma jika harus membawamu menemui Dora. Setiap kali aku membawamu menemuinya, yang aku dapatkan hanyalah pertengkaran.. Aku tidak mau kali ini, lagipula aku telah tidak ingin berhubungan apapun dengannya!" tukas Luckas.



"Ya ampun,Luckas! Dia adalah grandma-mu!!"



"tidak! Tidak ada grandma yang selalu menyakiti cucunya!"



"Luckas!!"



"Tidak,Lidya!"



"Maka tidak akan ada pernikahan diantara kita!" tukas Lidya.

__ADS_1



Luckas melotot pada Lidya. Lidya mengangkat kedua bahunya.



"Luckas.. percayalah padaku kali ini.. tidak akan ada pertengkaran diantara kita lagi.. Jika kamu menginginkan kita menikah tanpa ada masalah lagi kelak,maka percayalah padaku" sahut Lidya melembut "lagipula kamu sendiri tahu jika dia sedang koma, maka tidak akan ada masalah bukan?"



Luckas terdiam dan menghela nafas "baiklah..kita ke rumah sakit malam ini..Aku akan memberitahu mom" lirihnya.



Lidya mengecup bibir Luckas "terima kasih,Luckas.."



Sebuah senyuman terukir di bibir Lidya, dengan cepat Luckas mendorong tubuh Lidya hingga berbaring di sofa empuk yang sedang mereka duduki dan membuat Lidya memekik seketika "Apa yang kamu lakukan,Luckas?!!"



"Jangan menyalahkan aku,Lidya. Kecupanmu telah menyulutkan sumbu api dalam diriku!" sahut Luckas sambil melum\*t bibir Lidya sekaligus membungkam Lidya yang ingin memprotes Luckas. Sore itu mereka berdua habiskan hanya berduaan,melepas rindu satu sama lain dan melampiaskan semua rindu dan cinta mereka.



Malam itu,setelah Lidya bersusah payah memaksa dan membujuk Luckas untuk bersiap-siap menuju rumah sakit mungkin sampai saat ini Lidya masih di 'kurung' dalam dekapan Luckas.


Edward mengantar mereka berdua menuju rumah sakit, selama di perjalanan.. mulut Luckas terlihat mencuat keluar,Lidya melirik Luckas dan tertawa kecil. Edward diam-diam mengintip mereka dari kaca spion dan tersenyum. Lidya mendekati Luckas dan berbisik "sayang..mulutmu.. Edward sedang melirikmu..jangan ngambek lagi dong.."


"hmph.."


"sir..kita telah sampai" sahut Edward.


Luckas segera bersiap-siap,Edward bergegas turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil untuk tuannya. Tiba-tiba Lidya menarik Luckas dan mengecup bibir Luckas, seketika membuat Luckas tersenyum dan membalas kecupan bibir Lidya.


"Luckas..kita harus segera turun.." bisik Lidya.


Luckas tertawa "baik..baiklah!"



Pintu kamar terbuka perlahan, terlihat Martha dan Arthur tengah berada di dalam. Martha tersenyum saat melihat sosok Lidya dan segera mendekatinya "mom senang melihatmu,Lidya"



Lidya membalas pelukan Martha "terima kasih,Mom.." Lidya melepaskan pelukannya dan melihat kearah Dora yang tidak sadarkan diri "bagaimana keadaan Dora?"



"beginilah.." sahut Martha dengan lirih, bagaimanapun yang terbaring itu adalah mertuanya yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.



Lidya mendekati Dora "semoga lekas sembuh,grandma.." bisik Lidya.



Luckas hanya melirik grandma-nya dan memilih mengikuti ayahnya duduk di sofa yang ada di kamar VVIP tersebut.



"Dad.." Arthur melihatnya "mom.." sahutnya sambil menatap Martha "Aku hanya ingin mengatakan aku berencana menikahi Lidya bulan depan.."


__ADS_1


Sontak ketiga-tiganya menatap Luckas dengan bengong. Lidya mendekati Luckas "bulan depan?! kau tidak sedang bercanda bukan?" bisik Lidya.



__ADS_2