Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Faking It


__ADS_3

I'm way too good at faking it


I'm way too good at making it look like I don't want nobody else


I even started fooling myself


I'm way too good at faking it


•Sasha Sloan•



Louis bangun dengan kepala terasa berat, ingin rasanya dia mengutuk Luckas yang telah menyodorkannya minuman beralkohol..tapi Louis lebih ingin mengutuk dirinya sendiri yang masih saja minum walau tahu dirinya begitu lemah akan minuman beralkohol.



"Dasar lemah!!" itu yang dikatakan Luckas dulu saat tahu Louis begitu lemah akan minuman beralkohol.



Louis menatap ponselnya, menatap sudut ponselnya dengan mata yang masih menolak bangun.


"APAA?!!!" pekik Louis seketika saat menatap layar ponselnya "dasar kakak ipar sial\*n!!!" pekiknya kembali saat melihat layar ponselnya yang telah dihiasi wajah Luckas yang ber-selfie dengan mulut yang sengaja dicondong kedepan seakan bersiap untuk menciumnya.



Louis hampir ingin membanting ponselnya,namun suara dering ponselnya menahan dirinya untuk hal itu. Louis menatap ponselnya kembali,wajahnya kembali kesal saat melihat nama yang tertera di ponselnya.



'**Kakak iparku yang paling ganteng❤️**'



"Demi Tuhan.. apa yang kau lakukan pada ponselku????" pekik Louis begitu menerima telepon dari Luckas.


__ADS_1


Suara tawa Luckas memenuhi ponsel Louis, "padahal aku berniat mengecekmu apakah masih bernafas atau belum?" sahut Luckas sambil tertawa.



"Untungnya aku masih bernafas sehingga bisa membalasmu nantinya!" tukas Louis.



"wowow.. jangan marah,*brother*.. padahal aku telah memberimu kejutan" balas Luckas.



"Kejutan? sepertinya kejutan yang kamu maksud hanyalah kejahilanmu lainnya..." sahut Louis yang di balas tawa dari Luckas lagi "aku tidak mengerti mengapa kamu berubah menjadi begitu jahil sekarang?"



"Kamu sungguh tidak tahu?" tanya Luckas.




"Aku belajar darimu,adik iparku sayang.." balas Luckas yang di balas suara makian Louis, Luckas kembali tertawa "cek meja makanmu dulu.. itu kejutanku.. dan satu hal lagi.. jangan telat bekerja!!" sahut Luckas sambil mengakhiri teleponnya.



Louis menatap jam dinding di ruang tamunya, "Ya ampun..tidak..tidak..aku telat!!" pekiknya yang lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap-siap, dia tidak ingin telat di hari keduanya bekerja.



Perusahaan Lee's Ship,


Vanya menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul 8:40, dan Louis belum menampakkan batang hidungnya..dan juga Ruby. Vanya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas.


Tidak lama kemudian,terlihat sosok Louis berlari masuk ke dalam kantor mereka, Mr.Zhang dan Vanya melirik kehadiran Louis. Mr.Zhang berdeham dan menatap Vanya "sepertinya kamu harus lebih keras pada anak baru itu,Vanya.." sahutnya.


"Baik,Mr.Zhang.. saya akan memberinya peringatan" sahut Vanya lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat kerja Louis, "Kamu tahu sudah jam berapa,sir Louis?".

__ADS_1


"Maafkan aku, Vanya.. Aku mengaku salah karena telat.." lirih Louis.


"Sir Louis, anda bahkan telat di hari kedua anda bekerja. Bagaimana kami bisa yakin akan ke--"


"Selamat pagi,semuanyaaaaa...." seru Ruby saat masuk ke dalam kantornya. Sontak mendapat perhatian semua orang yang ada di ruangan itu,beberapa diantara mereka menatap jam dinding dan berbisik satu sama lain.


Vanya menatap Ruby dengan tajam "Selamat pagi tapi anda telat,Miss Ruby!!" tukasnya.


Ruby mendaratkan dirinya di kursi kerjanya dan tersenyum "oh ya? Jika begitu..sorry.." sahut Ruby acuh.


Jawaban yang cukup membuat Vanya tercengang "itu saja??"


Ruby membalas menatap Vanya dan mengangguk "jadi..apa yang anda inginkan,Miss Vanya? Apakah kamu ingin aku memelas dan memohon ampun karena aku telat?".


Vanya mulai kesal akan sikap Ruby, "dan jelaskan padaku.. dimana anda semalam?? Bekerja hanya setengah hari dan pergi sesukamu tanpa ada informasi apapun?!".


Ruby kembali tersenyum dan mengangkat kedua bahunya "itu urusanku,Miss Vanya.. aku bahkan bisa pergi sekarang jika aku menginginkannya.." sahut Ruby.


"KA--!!"


"Vanya!" Mr.Zhang perlahan mendekati Vanya dan Ruby "sudah,Vanya.. tidak perlu di ributkan hal ini.. mereka masih anak baru dan perlu waktu beradaptasi dengan pekerjaan mereka.."


Vanya seakan tidak mempercayai apa yang baru saja di katakan Mr.Zhang "tapi bukankah anda yang menyuruhku un--"


"Sudah..sudah..tidak ada yang perlu di ributkan.. kembali ke tempatmu" seru Mr.Zhang.


Ruby menatap kepergian Vanya dengan senyuman sinis,lalu menatap Mr.Zhang yang tengah menatapnya dengan tajam. Ruby hanya menggerakkan bibirnya meminta maaf pada Mr.Zhang. Dan lagi-lagi,Mr.Zhang hanya bisa menghela nafas.


Louis menatap sekelilingnya dengan bingung. Tidak tahu mengapa dia merasa sedikit 'beruntung'?. Beruntung karena Mr.Zhang sendiri tidak mempermasalahkan keterlambatannya.


Tiba-tiba Louis merasakan sepasang tangan yang melilit di lengannya "Louis.. kamu baik-baik saja?? Tadi aku melihat wanita galak itu hampir memarahimu.." bisik Ruby dengan suara sedikit terkesan manja.


Louis mencoba melepaskan tangannya dari lilitan Ruby "aku baik-baik saja.. lagipula memang seharusnya kita dimarahi karena kita salah,Ruby.." balas Louis.


Ruby terlihat tidak menyukai perkataan Louis, "kamu beruntung karena aku menahanmu,Louis.." bisiknya pelan.


__ADS_1


__ADS_2