
"Bukankah ini permintaanmu?" sahut Lidya dengan suaranya yang ikut gemetar. Dia menepis selimut yang ada ditubuhnya,Luckas kembali menahannya.
"Cukup,Lidya.. Aku tidak ingin kamu menyesalinya nanti" sahut Luckas dengan lembut "pulanglah..aku akan memanggil taksi untukmu"
Mendengar ucapan Luckas yang kembali lembut,Lidya menangis "ka..kamu jahat,Luckas!! aku membencimu.." isak Lidya.
Hati Luckas kembali merasakan perih mendengar ucapan Lidya yang membencinya "Lid-"
"Kamu yang memaksa hadir di duniaku..dan sekarang kamu seenaknya pergi begitu saja.. Kamu jahat,Luckas!!" isak Lidya, dia tidak sanggup menahan air matanya lagi. Luckas telah membuatnya begitu rapuh.
"Li..dya.." lirih Luckas menatap Lidya yang terisak, dia ingin menampar dirinya sendiri karena telah membuat wanita yang dicintainya begitu sedih.
Langit seakan mengikuti tangisan Lidya,ikut menumpahkan air hujan yang sejak pagi menanti jatuh membasahi bumi, bahkan suara petir ikut mengiringi hujan yang turun.
"mengapa kamu membenciku,Luckas?" isak Lidya.
"Lidya..aku tidak pernah membencimu, malah aku terlalu mencintaimu.. A..aku melihatmu kembali pada Rico,dan itu membuatku gila,Lidya. Aku tidak sanggup menerima kenyataan itu. Alkohol lah yang menjadi pelipurku,Lidya"
__ADS_1
"apa maksudmu,Luckas?"
"aku melihat kamu kembali pada Rico. Bahkan dia menjemputmu saat pulang kerja. Hatiku perih,Lidya. Jika aku tidak melampiaskan di alkohol, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan pada kalian berdua. Aku begitu sedih dan juga marah.. Aku tidak bisa menerima keputusanmu yang kembali padany!!" lirih Luckas.
"tapi..aku tidak kembali pada Rico"
Pernyataan yang mengejutkan Luckas. Luckas menatap kedua mata Lidya.
"Aku mencintaimu,Luckas. Aku memilihmu. Apa yang kamu lihat itu salah, aku telah memutuskan hubungan apapun dengan Rico"
"Kamu..kamu serius,Lidya?"
"Aku tidak sedang bermimpi,Lidya?"
Lidya tertawa "anda sepenuhnya sadar,sir..dan anda tidak salah dengar apa yang telah saya ucapkan"
Luckas meloncat kegirangan, refleks memeluk Lidya begitu erat hingga selimut yang menutup tubuh Lidya jatuh tergeletak di lantai.
__ADS_1
"ah..maafkan aku,Lidya.." Luckas menarik selimutnya dan menutup tubuh Lidya kembali "pakailah bajumu,aku akan mengantarmu pulang". Hujan yang begitu deras seperti badai, Luckas tahu tidak mungkin ada taksi yang jalan. Luckas berjalan menuju pintu kamarnya,dia ingin meninggalkan Lidya supaya lebih leluasa memakai pakaiannya. Langkahnya tertahan saat dia merasakan ada tangan yang menarik bajunya dari belakang. Luckas menoleh, Lidya menunduk malu "Luckas.."
"Tidak,Lidya..aku tidak ingin kamu menye-"
Lidya mencium bibir Luckas, ciuman yang begitu dirindukannya. Sentuhan yang begitu memabukkan dirinya. Luckas yang menjauh darinya ternyata membuat Lidya begitu merindukan sosok pria ini. Lidya telah tergila-gila padanya.
Perlahan-lahan Luckas membalas ciuman Lidya, tubuhnya otomatis merespon terhadap ciuman Lidya. Harum dari tubuh Lidya membuat Luckas semakin memperdalam ciumannya,tangannya memeluk tubuh Lidya dengan erat. Ciuman Luckas membuat Lidya mendesah pelan. Luckas menggendong Lidya dan membaringkannya lembut di kasurnya yang besar "Lu..Luckhas.." erang Lidya.
Luckas menghentikan 'serangannya' "hentikan ini Lidya" pinta Luckas.
Lidya memeluk Luckas "aku telah memberimu izin,Luckas.."
"tapi-" Lidya kembali mencium Luckas, ciumannya turun bagian leher Luckas. Pertahanan Luckas semakin goyah, dia memeluk tubuh Lidya menekannya dengan tubuhnya.
"Kamu yakin ingin melanjutkan,Lidya?"
Lidya menutup wajahnya dengan kedua tangannya,dia tidak berani menjawab. Tubuhnya terlanjur menuntut sentuhan-sentuhan dari Luckas. Panas dari tubuh Luckas seakan menular ke tubuhnya. Luckas memegang tangan Lidya, dia ingin menatap mata Lidya "Aku mencintaimu,Lidya...Hanya kamu satu-satunya wanita yang kucintai dalam hidupku".
__ADS_1
Lidya tersipu dan tersenyum, kedua tangannya di lilitkan di leher Luckas, Lidya memberi kecupan lembut di bibir Luckas. Luckas tersenyum, dia kembali menghujani ciuman di bibir Lidya..perlahan merabah di wilayah lain.