Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Tidak bisa melawan takdir


__ADS_3

Ruby Lee kembali tersenyum bahagia,bagaikan mimpi..Louis, pria yang begitu diimpikan itu sekarang berada di sini!!. Berada dalam pelukannya,bahkan berbisik padanya jika dia menginginkan dirinya malam ini.


"Demi Tuhan.. Louis menginginkanku??" sahut Ruby pada dirinya sendiri dengan hati berbunga-bunga.


"Kamu tidak menginginkanku?" tanya Louis dengan wajah cemberut.


Ruby bergegas melingkarkan kedua tangannya di leher Louis, "aku tentu menginginkanmu!!!" tukas Ruby cepat.


Louis tersenyum, sebuah senyuman lembut yang begitu di dambakan Ruby sejak dulu. Senyuman dan tatapan lembut saat menatapnya, dan sekarang Ruby mendapatkan keduanya bersamaan.


Perlahan Ruby mendekatkan bibirnya di bibir Louis,namun Louis menahan Ruby.


"Me..mengapa,Louis?!. Bukankah kamu menginginkanku?" rengek Ruby yang merasa kecewa.


"Aku menginginkanmu.. Tapi, tidak perlu terburu-buru bukan?" sahut Louis lembut.


"Ah..kamu benar.. kita bisa perlahan-lahan jika kamu menginginkannya. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu.." sahut Ruby.

__ADS_1


Louis mengangguk, "aku akan menunggumu,sayang.." sahut Louis "bersihkan dirimu.. sebab.." Louis mendekatkan mulutnya di telinga kiri Ruby "aku akan memeriksa setiap inchi tubuhmu dengan cium*nku nanti.." bisik Louis.


Wajah Ruby seketika berubah merah padam, ucapan sensual Louis berhasil membuat jantungnya semakin berdebar lebih cepat dari biasanya. Ruby mengangguk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandinya.


Setelah memastikan Ruby yang telah masuk ke dalam kamar mandi, Louis bergegas mencari ponsel Ruby. Hanya dalam beberapa menit,Louis berhasil menemukan ponsel Ruby yang ada di tas kecil yang berwarna biru gelap yang selalu di bawa Ruby saat menikmati gemerlap kehidupan malam.


Louis mengambil dan menyimpan ponsel Ruby di dalam kantong celananya. Dia berjalan mendekati jendela,menatap pemandangan dari jendela dengan pandangan hampa, tidak lama kemudian,Ruby keluar dari kamar mandi dengan hanya di baluti oleh selembar handuk putih yang hampir tidak bisa menutupi seluruh tubuh Ruby, tapi Ruby tidak keberatan akan itu.. bukankah Louis sendiri yang mengatakan jika mereka akan bersama menikmati malam ini.


Ruby mendekati Louis perlahan dan memeluk Louis dari belakang, "Louis.. aku bahkan tidak mempercayai kamu berada di sini bersamaku sekarang.."


Wajah Louis terlihat datar, namun Ruby tentu tidak bisa melihatnya. Louis melepaskan pelukan tangan Ruby perlahan lalu berbalik dan kembali tersenyum pada Ruby yang telah menatapnya penuh harap.


"Ada apa,Louis?" tanya Ruby bingung.


"Sepertinya aku harus pergi.."


Ruby bagaikan di timpa batu besar, dia baru saja ingin menikmati waktu indah bersama Louis.. tapi.. "tidak..tidak..mengapa.." lirih Ruby.

__ADS_1


"A..aku tidak bisa melupakan Vanya" sahut Louis.


Ruby kembali bagai di tampar kenyataan pahit, dirinya baru saja ingin memulai mimpi indah tapi.. belum apa-apa,dia telah dibangunkan oleh kenyataan.


Ruby memeluk Louis, dia tidak ingin Louis pergi darinya, "kamu yang mengatakan ingin bersamaku hari ini!!!. kamu yang mengatakan tidak ingin memikirkan wanita lain saat bersamaku!" isak Ruby.


Louis melepaskan pelukan Ruby, "maafkan aku.. Aku harus pergi.. Vanya membutuhkanku" sahut Louis lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


"AKU JUGA MEMBUTUHKANMU!!!" pekik Ruby..seketika Louis menghentikan langkah kakinya, air matanya mengalir dari kedua mata Ruby yang hanya menatap punggung Louis "apa yang kurang dariku,Louis.." isaknya "aku juga mencintaimu.. bahkan melebihi Vanya!!!. Aku bahkan bisa memberikan semuanya untukmu asal kamu mau bersamaku!!. A..Aku sungguh mencintaimu.." isak Ruby. Perlahan Ruby melepaskan handuk yang hanya satu-satunya menutupi tubuhnya. Handuk putih itu seketika menyentuh lantai yang dingin, Ruby yang sekarang polos tanpa sehelai benangpun, "lihatlah aku,Louis.. Aku rela memberimu apapun yang kamu inginkan dariku.. Aku mencintaimu berkali-kali lipat dari pada Vanya!!!" pekik Ruby kembali.


"Aku.. hanya menginginkan Vanya. Kamu..wanita yang baik dan sempurna,Ruby.. Akan banyak pria lain yang akan lebih menghargai dan mencintaimu" sahut Louis lalu berjalan keluar tanpa menoleh Ruby sedikitpun.


Ruby tersungkur di lantai, terisak..menangis dan menjerit seorang diri. Dia tahu jika dia telah kalah sejak dulu.. namun, sebuah harapan selalu menjadi pegangan baginya untuk mendapatkan Louis.


"Mengapa,Louis.." isak Ruby, "mengapa kamu tidak pernah bisa melihatku sedikit saja.. Sejak awal,kita terlebih dahulu berkenalan sebelum kamu dengan Vanya.. Tapi.. tapi mengapa kamu malah jatuh cinta padanya.. bukan padaku.." isak Ruby.


Kepergian Louis kembali bagaikan hantaman ombak keras bagi Ruby. Walau berkali-kali dia mencoba mengikat Louis, namun berkali-kali juga Louis tetap selalu kembali pada Vanya. Bahkan disaat mereka pergi dari New York..mereka bahkan dipertemukan kembali di Bali.

__ADS_1


Ruby tersenyum sinis namun pedih, "aku.. memang tidak bisa melawan takdir.."



__ADS_2