
Brak!!!
Suara pukulan di meja langsung mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu, mereka menatap Peter yang baru saja mengeluarkan emosi yang sejak tadi dia pendam.
"Katakan saja jika kamu tidak ingin memakai jasa kami!!" pekik Peter.
"Ge ge, tahan emosimu!!" bisik Ruby dengan suara cukup terdengar oleh Louis
"Bagaimana aku bisa menahan di hina seperti ini?!" tukas Peter.
"Menghina?? Maaf,Mr.Lee.. tapi..sepertinya ucapan saya dari tadi tidak ada yang menghina anda,maupun perusahaan anda" sahut Louis tenang.
Ruby menarik baju abangnya supaya segera kembali duduk dan menenangkan dirinya. Apapun caranya,Ruby ingin memenangkan proyek ini, "maafkan atas kelakuan abang saya, Louis.. Aku harap hal ini tidak mengganggu pertemuan bisnis kita ini"
Louis hanya mengangkat kedua bahunya, "saya tidak memaksa anda harus jauh lebih dari tawaran ekspedisi lainnya. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,supaya anda dapat membuat perbandingan dan pertimbangan jika anda mau" sahut Louis tetap tenang, "tapi jika ucapan saya membuat anda tersinggung,maka..anggap pertemuan ini tidak pernah terjadi.." sahut Louis sambil beranjak dari tempat duduknya.
Ruby menahan kepergian Louis, "be..beri kami kesempatan lagi!!. Aku akan membicarakan ini dengan ayahku!"
Peter menarik tangan Ruby, "tidak perlu memohon pada bajingan itu!" tukas Peter, namun Ruby menepis tangan abangnya.
Ruby mendekati abangnya dengan murka, "kamu ingat? Papa tidak menerima kegagalan dan jika kita gagal dengan proyek ini.. itu berarti akhir segalanya bagiku!" bisik Ruby dengan kesal. Ancaman menghentikan fasilitas kartu kredit cukup membuat Ruby tertekan, dirinya yang telah terbiasa hidup foya-foya, dia tidak akan sanggup jika fasilitas kartu kreditnya di hentikan. Dan Ruby yakin,ancaman ayahnya tidak hanya sekedar menghentikan kartu kredit,Ruby takut akan ada lebih dari itu, tentunya termasuk bagi Peter. Simon Lee tidak pernah bermain-main soal urusan bisnis, dan baginya.. tidak ada kata gagal!.
Louis berbalik, "baiklah.. saya akan menunggu jawaban anda dalam Minggu ini.. Semoga saja anda dapat memberikan jawaban dan tawaran yang memuaskan secepatnya, sebab kami juga harus memberikan jawaban terhadap pihak ekspedisi lainnya" sahut Louis "Baiklah..saya permisi terlebih dahulu.." lanjutnya. Saat Louis mendekati pintu,dia kembali berbalik, "satu hal lagi..". Baik Peter maupun Ruby sama-sama menatap Louis, wajah Louis terlihat begitu tenang, "saya harap kedepannya anda tidak mengganggu Vanya lagi..".
Peter dan Ruby tercengang, "a..ap--"
"Sebab dia adalah calon istriku, jadi saya harap kedepannya.. jangan mengganggunya lagi" lanjut Louis kembali sambil keluar dari ruangan, tidak lupa dia berpesan pada Chandra untuk mengantar kedua tamu itu keluar, "aku tidak ingin mereka tersesat dan menyusahkan Vanya lagi" sahut Louis dengan sengaja supaya terdengar oleh kakak adik itu, dan langsung berjalan keluar tanpa menoleh ataupun melirik ke belakang.
Hard Rock Hotel,Bali.
__ADS_1
Ruby masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Peter. Ruby menghempaskan tas handbagnya di sofa kecil berwarna keabu-abuan yang ada di kamarnya.
"Sial!! Sialan!!!" jerit Peter.
"Apakah kamu tidak bisa menahan emosi brengsekmu itu?!" tukas Ruby kesal.
"Kamu tidak merasa terhina??!" balas Peter tidak kalah kasar.
Peter tersenyum sinis, Ruby memang benar. Peter hanya tidak terima saat mengetahui Louis yang sekarang telah menjadi manajer dari salah satu cabang hotel yang terkenal,hotel Ryans. Dan, Louis yang sekarang juga terlihat jauh berbeda dari yang dulu, ditambah melihat Louis yang masih tetap bersama Vanya semakin membuat Peter merasa tersaingi.
"Hanya manajer saja sudah berlagu!! Lagipula, apa hal dia melarangku untuk bertemu dengan Vanya?!" tukas Peter sambil merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Jangan terlintas di pikiranmu untuk tidur disini!! Sewa kamarmu sendiri!" tukas Ruby "dan.. apa kamu tidak ada bosan-bosannya dengan wanita itu?".
__ADS_1
Peter tertawa keras, "begitu juga denganmu,bukan??" balas Peter.
"Louis berbeda dengan Vanya!!" tukas Ruby.
Peter kembali tertawa keras, "*mei mei*, lihatlah.. aku akan.. tidak.. tidak.. aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan!!" sahut Peter dengan tatapan mata yang terlihat begitu mengerikan di mata Ruby, hal itu membuat Ruby merinding.
"Terserah!! Sejak Louis menghilang,aku telah belajar dari kesalahan.. Jika dia memang milikku,maka.. dia akan kembali padaku!!" tukas Ruby.
"Kamu begitu polos,Ruby.. Aku berbeda sepertimu!!" sahut Peter.
"Keluar!!" pekik Ruby.
Peter tertawa keras, "selamat malam,*mei mei-ku* sayang" sahut Peter sambil berjalan keluar dari kamar hotel Ruby.
"Dasar sinting!!" tukas Ruby sambil menggelengkan kepalanya,lalu melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang luas itu.
__ADS_1