Hotel Prince

Hotel Prince
Rude


__ADS_3

Why you gotta be so rude?


Don't you know I'm human too?


Why you gotta be so rude?


I'm gonna marry her anyway


•Magic•


#######


Luckas mencoba menenangkan Lidya supaya tidak merasa cemas,walau dalam hatinya juga merasa gugup. Dia tahu Dora tidak akan begitu mudah berubah pikiran,tapi Luckas ingin mencoba bertaruh kembali.. dan dengan atau tanpa restu Dora dan Arthur,Luckas tetap akan menikahi Lidya. Tapi walaupun begitu,dia sungguh mengharapkan Dora dan Arthur mau menerima Lidya sebab restu mereka juga harapan Lidya.


#######


Lidya menghela nafas, menatap pintu rumah yang pernah di lihatnya dulu. Mereka telah tiba di rumah keluarga Ryans,Luckas mendekati Lidya yang mematung menatap rumah besarnya.


"Lidya.." sahut Luckas sambil menggenggam tangan kanan Lidya "masuk yuk.. ibuku telah menunggu kita,dia bahkan memasak makanan kesukaan kita".


Sebuah senyuman tersungging di wajahnya,mengingat Martha didalam rumah besar itu membuat Lidya sedikit merasa lega. Martha begitu menyayanginya layaknya ibu kandungnya, begitu juga dirinya. Luckas menarik Lidya masuk kedalam rumahnya.


"Tuan muda..Nyonya dan Tuan telah menunggu anda di ruang makan.." sahut salah satu pelayan rumah mereka,Luckas mengangguk dan menarik Lidya berjalan menuju ruang makan yang juga sangat besar bagi Lidya. Sebuah meja makan berbentuk persegi panjang terlihat terbuat dari kayu jati, di design dengan gaya vintage sesuai permintaan Martha menambah kesan hangat di ruang makan itu.

__ADS_1


Terlihat masih hanya sedikit makanan yang tertata di meja makan,Martha yang masih memakai celemek bermotif bunga terlihat sibuk menyiapkan makanan. Lidya melirik Arthur yang kelihatan acuh dengan kedatangan mereka, dan memilih menikmati pipa tembakaunya sambil menatap halaman rumahnya dari jendela. Dora yang menyadari kedatangan Lidya, sontak berdiri dan berjalan menuju ruang tamu tanpa mengucapakan sepatah katapun. Tidak lama kemudian, Arthur mengikuti Dora menuju ruang tamu, sehingga ruang makan besar itu hanya menyisakan Lidya dan juga Luckas.


Hati Lidya berdetak kencang, dia bisa merasakan aura dingin saat Dora melewatinya dan saat itu juga dia sadar, Dora belum menerimanya...lagi!.


"tidak perlu merasa bersalah,Lidya..mungkin grandma masih ingin menonton televisi karena makanan yang belum siap" bisik Luckas diiringi anggukan kepala Lidya.


Tidak lama kemudian Martha berjalan dari dapur dengan tangan yang dipenuhi masakannya "Halo sayang..jangan berdiri dong..yuk duduk..sabar ya..masih banyak makanan yang sedang dimasak" sahut Martha. Keluarga Ryans memiliki koki pribadi mereka sendiri yang selalu siap memasak kapanpun tuan rumah mereka inginkan tapi hari itu Martha bersikeras memasak sendiri tanpa bantuannya,hanya khusus untuk Lidya dan Luckas.


Martha memberi kode pada mereka berdua untuk duduk terlebih dahulu dan dia masih harus ke dapur. Lidya meminta izin pada Luckas untuk pergi ke dapur membantu Martha.


Setelah Lidya menuju dapur,Luckas beranjak menuju ruang tamu, terlihat Dora tengah menonton televisinya. Luckas berjalan mendekati Arthur yang masih menikmati pipa tembakaunya di dekat jendela besar yang berada di ruang tamu.


"Dad-"


Kedua alis mengerut,dia tidak bermaksud membicarakan Lidya. Dia hanya sekedar ingin berbincang santai antara anak dan ayah, tapi kalimat yang keluar dari mulut Arthur membuat Luckas kebingungan.


Arthur menghembuskan asap dari mulutnya "Jawaban Dad akan tetap sama,selama grandmamu tidak menyetujuinya maka.." Arthur menatap Luckas "Dad juga sama"


Arthur tidak pernah membantah ataupun membangkang pada Dora sejak kecil. Setelah kematian ayahnya,Dora dengan status single parent tetap bersikeras membesarkan Arthur sendiri sambil mengelola hotel peninggalan suaminya. Saat itu hotel Ryans masih hanyalah sebuah hotel kumuh yang tidak terkenal, dan Dora-lah yang mengelola hingga mulai dikenal orang-orang dan hotel Ryans mulai direnovasi menjadi lebih besar dari sebelumnya. Saat Arthur mulai menginjak dewasa, dia mulai ikut berkecimbung dalam mengurus hotel keluarganya dan di tangannyalah hotel Ryans mulai melebarkan sayap hingga memiliki puluhan cabang di berbagai kota dan negara. Ditambah saat Luckas mulai mengelola hotel Ryans, hotel Ryans semakin terkenal dimana-mana dan sanggup bertahan dalam persaingan hotel-hotel baru lainnya, karenanya Arthur dapat dengan tenang melepaskan perihal mengelola hotel Ryans pada anak semata wayangnya.


"jadi.. jika grandma menyetujui maka Dad juga akan menyetujuinya?" tanya Luckas.


Arthur hanya diam memandang jendela sambil menghisap pipa tembakaunya. Dia tahu Luckas telah tahu jawabannya, yaitu Dora tidak akan pernah menyetujuinya.

__ADS_1


Luckas berjalan kearah Dora meninggalkan Arthur sendirian,Luckas duduk di sofa dekat Dora "grandma..sekarang sudah bisa menerima Lidya?".


Arthur melirik Dora yang hanya diam menonton televisi tanpa menjawab Luckas.


"sepertinya kedatangan kami kali ini juga menerima jawaban yang sama seperti sebelumnya.." sahut Luckas begitu tegas "dan tentunya perkataanku juga sama seperti sebelumnya!!"


Dora mengalihkan pandangannya ke arah Luckas yang terlihat begitu serius.


"aku akan menikahi Lidya!! dengan atau tanpa persetujuan grandma!!" ucap Luckas.


Dora bangkit berdiri "Sampai kapanpun grandma tidak akan pernah menerimanya menjadi bagian dari keluarga Ryans!!!" ucap Dora dengan suara yang meninggi.




curcol author:


Maafkan author T.T.. beberapa hari ini,sangat super duper sibuk.. hingga tidak sempat menulis 😶


tapi.. aku janji!! hari ini juga akan upload dua bab sekaligus!!! (pokoknya dalam hari ini akan aku upload!!) dan thank you buat kalian yang nungguin ceritaku😚


happy banget saat baca komen kalian yang nanya kelanjutannya ❤️ love you all dah💃

__ADS_1


__ADS_2