Hotel Prince

Hotel Prince
I Hate You, I Love You


__ADS_3

Feeling used but I'm still missing you


And I can't see the end of this


Just wanna feel your kiss against my lips


And now all this time is passing by


But I still can't seem to tell you why


It hurts me every time I see you


Realize how much I need you


•Gnash•



Lidya tertawa mendengar ucapan anaknya,beberapa hari ini Lidya cukup sedih dan terpukul dengan kejadian Luckas. Namun,dia sadar jika dia tidak bisa terus menerus seperti itu karena dia masih memiliki Ayles.


"Aku harus melupakan semuanya,melupakan Luckas!! Aku harus mandiri,kuat demi Ayles" gumam Lidya sendiri.



"mami bicala apa?" tanya Ayles.



"ah..tidak,Ayles..mommy hanya berpikir untuk memasak ayam goreng--"



"mauuuu... Ailes mauuu" pekik Ayles tiba-tiba.



Lidya tersenyum "baik..baiklah,sayang..."



Ayles kembali menikmati cookiesnya namun matanya melihat seseorang yang dikenalnya dari kejauhan "mami...deedi.."



Jantung Lidya seakan berhenti berdetak saat Ayles menyebut daddy "apa, sayang?" sahut Lidya yang berpura-pura tidak mengerti ucapan anaknya.



"itu..deedi,mami.." sahutnya sambil menunjuk kedepan.



Lidya menatap lokasi yang ditunjuk Ayles, sekilas Lidya melihat Luckas yang sedang masuk kedalam mobilnya? '*benarkah itu,Luckas?? Mengapa wajahnya seperti itu*?'



Mobil Luckas perlahan pergi dari situ,Lidya bergegas turun menatap mobil yang sudah menjauh. Dia pun menggendong Ayles dan belanjaannya sambil masuk kedalam rumah.



Louis membuka pintu dan menyambut mereka "halo,bandit kecillll" sahut Louis antusias.

__ADS_1



"uncllleee..." balas Louis tidak kalah antusias sambil menyodorkan bungkusan yang berisi tiga buah cookies.



Louis menatap bungkusan itu dengan bingung,Lidya tertawa "berbahagialah,Louis..dia membagimu cookies kesukaannya itu berarti dia sangat menyukaimu. Jika tidak,jangan pernah berharap dia mau berbagi padamu walau hanya sebuah cookies.." sahut Lidya sambil meletakkan tass belanjaannya.



Louis tertawa "benarkah?? terima kasih,bandit kecil.."



Ayles tertawa sambil ngeluyur masuk kedalam kamarnya.



Lidya langsung berjalan masuk ke dalam dapur "Louis.. apakah tadi dia datang ke sini lagi??"



Louis terkejut "ti..tidak..mengapa kamu berkata seperti itu?"



"benarkah?? atau mungkin aku salah lihat.. sepertinya tadi aku melihatnya tapi.. wajahnya terlihat babak belur,seperti baru saja dipukul.."



"mungkin kamu salah lihat,Lidya.. hei..apakah kamu akan memasak makan malam??" sahut Louis sambil mencoba mengalihkan pembicaraan.




"tentu saja!!" sahut Louis yang merasa lega karena Lidya tidak menanyakan mengenai Luckas lagi.



Malam itu, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam..namun,mata Lidya tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda ingin terlelap. Dia berjalan perlahan,menghidupkan televisinya dengan volume suara yang kecil..dia tidak ingin membangunkan Louis dan Ayles.


Sebuah film drama percintaan tengah berputar di televisi, terlihat di film tersebut sang wanita yang menangis karena sang kekasih yang meragukan kehamilan sang wanita adalah darah dagingnya. Tanpa Lidya sadari,Lidya meneteskan air matanya..dia pun terisak..bagaimana mungkin tayangan itu mengingatkannya akan dirinya.


"kau sudah berjanji untuk melupakannya,Lidya! Mengapa kau masih menangis.." gumam Lidya pelan pada dirinya sendiri. Dia berusaha berulang kali untuk melupakan Luckas,tapi selalu gagal.


Pintu kamar Louis terbuka,dia menatap Lidya yang tengah terisak. Perlahan dia mendekati kakaknya "kamu..baik-baik saja?".


"Louis..aku..aku sungguh bodoh,bukan?? setelah semua yang terjadi..aku masih memikirkannya..merindukannya.." isak Lidya.


Louis menarik kepala Lidya untuk berlabuh di bahu kirinya.


"aku..aku membencinya,Louis!! Tapi..aku juga mencintainya.. Hatiku sangat perih karenanya tapi juga begitu mendambakannya!!" isak Lidya.


"menangislah..luapkan semuanya,Lidya..supaya kamu merasa lega.." bisik Louis.


Mendengar ucapan Louis,tangisan Lidya semakin menjadi-jadi. Louis hanya bisa membisu,membiarkan bahunya menjadi pelampiasan luapan air mata Lidya.


"Kamu ingin pulang ke Lexington?" tawar Louis setelah Lidya mulai merasa lega.


Lidya diam,tidak menjawab.

__ADS_1


"pulanglah..tenangkan dirimu.. sekaligus kita bisa merayakan natal bersama disana.." sahut Louis "atau kamu ingin ke tempat lain? Kamu bisa meninggalkan Ayles padaku jika kamu ingin berpergian sendiri.."


Lidya menggeleng "aku merindukan mommy.."


Louis tersenyum "baiklah..kita pulang ke Lexington. Aku yakin Elena tidak akan keberatan dengan cuti panjang mendadakmu ini,bukan?"


Lidya tersenyum "mungkin saja,Louis..atau aku akan menjadi pengangguran setelah kembali dari Lexington"


"kamu serius?"


Lidya tertawa kecil "aku hanya bercanda..tapi aku serius,aku tidak tahu apakah Elena akan mengizinkanku atau tidak"


"aku yakin dia tidak akan melarangmu,Lidya.."



Keesokan paginya,



Lidya menelepon Elena.



"Halo,Lidya.." sapa Elena ramah.



"Elena..aku minta maaf karena tidak masuk kerja selama beberapa hari ini"



"tidak perlu kamu pikirkan itu,Lidya. Selama tiga tahun ini,kamu bahkan jarang meminta izin padaku"



"terima kasih,Elena.. tapi sepertinya aku akan mengambil cuti panjang..aku..aku ingin pulang ke Lexington untuk beberapa hari.." sahut Lidya "aku sangat minta maaf dan malu padamu,Elena"



"untuk apa kamu harus merasa malu,Lidya.. kamu mendapat izinku.. aku tahu kamu sudah lama tidak berkumpul bersama kedua orang tuamu.."



Lidya tersenyum gembira "terima kasih,Elena..aku berhutang padamu.. kamu tidak perlu khawatir mengenai pekerjaanku..aku akan tetap memantau dan Sheila akan tetap membantuku di lapangan"



"aku percaya padamu,Lidya.."



"oh ya..satu hal lagi..bisakah kamu merahasiakan keberadaan diriku pada Luckas?"



"tentu..tentu saja..selamat berlibur,Lidya.." sahut Elena sambil mengakhiri telepon mereka.



Elena menatap sosok yang tengah menatapnya. Pria itu tersenyum dan berterima kasih pada Elena sambil keluar dari ruangan Elena.

__ADS_1



__ADS_2