
Lidya duduk perlahan di sofa empuk yang ada di kamar mereka..ya,kamarnya dan Luckas. Lidya merenggangkan badannya yang kelelahan setelah bekerja seharian, sambil menatap foto pernikahannya..tanpa terasa kehamilannya telah menginjak sembilan bulan,dokter mengatakan usia kehamilan Lidya tinggal menunggu hari. Luckas telah melarangnya bekerja. Penghasilan dari Luckas sendiri telah lebih dari cukup untuk mereka,namun Lidya tetap kekeh. Akhirnya,mau tidak mau Luckas pun mengalah. Luckas pernah menyarankan pada Lidya untuk bekerja di hotelnya jika dia begitu ingin bekerja namun lagi-lagi Lidya menolak..dia tidak ingin keluar dari DeParis.
Lidya mengelus perutnya yang semakin membesar,dia memutar lagu klasik untuk menenangkan dirinya dan juga untuk anak dalam kandungannya.
"tetap sehat ya,sayang.. mama sudah tidak sabar menanti kehadiranmu di dunia ini.." gumam Lidya.
"mommy!!!" sahut Ayles yang tiba-tiba mengintip dari balik pintu.
Lidya tersenyum "Ayles!! sini sayang.. jagoan mama.. gimana sekolahnya hari ini? seru?"
Ayles mengangguk "seru,mommy!! Tadi Nico nangis karena lupa bawa mamam,jadi Ayles bagiin mamamnya Nico"
"anak pintar.. mama bangga sama kamu,Ayles" sahut Lidya.
Ayles tersenyum cerah, tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Madam.." sapa Desya dari balik pintu.
"iya,Desya..masuklah.."
Desya adalah wanita paruh baya yang bekerja di rumah Luckas dan Lidya. Luckas sengaja memperkerjakan asisten rumah tangga untuk meringankan Lidya dalam mengurus rumah dan anak-anak nantinya. "Sudah waktunya untuk makan malam,madam.."
"tuan belum pulang?"
Desya menggeleng.
"Baiklah,saya mengerti.." sahut Lidya yang dibalas anggukan kepala dari Desya sambil kembali ke dapur.
"Ayles sudah lapar? kita makan dulu yuk.." ajak Lidya sambil beranjak dari posisi nyamannya.
"daddy?"
"tadi Daddy telepon jika dia sedang menemui tamu di luar.. Ayles mau tunggu daddy?"
Ayles mengangguk.
"baiklah..mommy telepon daddy ya" sahut Lidya sambil meraih ponselnya untuk menelepon suaminya.
"Halo,sayang.." sapa Luckas.
"Kamu dimana,Luckas?"
"ini sedang dalam perjalanan pulang.. ada kepengen makan apa?" tanya Luckas, selama hamil Lidya selalu menyuruhnya membeli makanan yang tentunya kebanyakan makanan yang aneh dengan alasan ngidam...?. Bahkan pernah sekali Lidya menyuruh Luckas mencari mangga muda,dan harus baru petik..fresh from the tree,katanya...Luckas hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya dan akhirnya selalu Edward kena getahnya..yaitu memanjat pohon, pastinya Luckas telah membayar pemilik pohon mangga tersebut.
Lidya tersenyum "tidak kali ini..Ayles menunggumu untuk makan malam.."
Diam-diam Luckas bernafas lega "kalian bisa makan terlebih dahulu,Lidya..aku sudah mau sampai juga.."
"baiklah.." sahut Lidya sambil menutup teleponnya.
"Ayles..kata daddy..daddy sudah mau sampai..mau makan dulu?"
Ayles menggeleng.
"Aunty Desya masak ayam goreng loh.."
"Ayles mau..Ayles laparrr" sahut Ayles seketika sambil ngeluyur keluar menuju meja makan. Lidya tertawa dan mengikuti Ayles menuju meja makan.
Tidak lama kemudian,terdengar suara bel pintu. Desya dengan sigap berjalan menuju pintu.
"Halo..bandit kecil!!!!" sahut Louis tiba-tiba.
"uncleeeeee...." pekik Ayles kegirangan sambil berlari mendekati pamannya.
"kamu sudah makan,Louis? Jika belum,bergabunglah dengan kami.." sahut Lidya yang langsung di setujui Louis.
"hari ini,aku nginap sini.." sahut Louis di sela-sela makan.
"untuk apa?!" tanya Luckas yang baru saja sampai di rumah.
"aku merindukanmu, abang iparku!" sahut Louis sambil memuncungkan bibirnya.
"jangan membuat selera makanku menghilang" sahut Luckas sambil mengecup kening Lidya dan pipi Ayles.
Lidya tertawa "sudahlah..jangan ribut.. Luckas duduklah..kamu sudah lapar bukan?"
Luckas mengangguk,akhirnya makan malam hari itu berlangsung aman tanpa ada perang berkepanjangan antara kedua pria tersebut.
Tengah malam, pukul dua..
Lidya terbangun dari tidurnya,perutnya terasa sedikit mulas '*apa karena aku tadi makan cabe ya*?' gumamnya dalam hati sambil berjalan menuju kamar mandi.
Setelahnya dia pun kembali berbaring di tempat tidurnya,namun dia tidak bisa terlelap..sebab tidak lama kemudian perutnya kembali mulas.
"sepertinya aku sudah mau melahirkan.." bisik Lidya,dengan cepat dia menepuk tubuh Luckas..mencoba membangunkannya.
Luckas terbangun dengan wajah masih ngantuk "ada apa,Lidya?" tanyanya dengan mata tertutup.
"aku sepertinya sudah mau melahirkan,Luckas.." sahut Lidya.
"ohh..ya..ya..baguslah.." sahut Luckas sambil kembali berbaring di tempat tidur, kegiatannya hari itu sangat melelahkannya sehingga dia begitu terlelap.
__ADS_1
"aduh..ni orang.." Lidya kembali menepuk suaminya,kali ini lebih keras.
"aduh.. sakit" rintih Luckas,kali ini dengan mata sedikit terbuka "ada apa,Lidya?!"
"aku bilang aku sepertinya mau melahirkan!!"
"iya..aku tahu..bagus bukan?" sahut Luckas kembali.
"Ya Tuhan.. Luckas Ryans!! anakmu mau keluar!! kamu mau aku melahirkan disini dengan kau yang jadi dokter dan susternya??!!" pekik Lidya.
"hah?? anakku?? keluar?? ya ampun,kenapa baru bilang??" pekik Luckas kali ini dengan matanya telah terbuka sempurna. Bergegas dia berdiri dan berjalan kesana kemari "aduh..bagaimana ini??"
"kau ngapain?" tanya Lidya yang bingung melihat suaminya mondar mandir.
"aku? ah iya..aku harus apa,Lidya?"
"Demi apa.. Bantu aku!!! cari kunci mobil mu!!" pekik Lidya yang frustasi.
"ah...iya..iya.." sahut Luckas sambil mendekati Lidya dan menbantunya berjalan.
Sesampai di ruang tamu,Louis yang baru saja keluar dari kamarnya untuk ke kamar mandi..menatap kedua suami istri tersebut dengan bingung.
"kalian ngapain?" tanya Louis.
"Lidya..Dia mau melahirkan!!" sahut Luckas dengan gugup.
Louis dengan sigap menuju kamar Desya dan mengetuk keras,membangunkan pemilik kamar itu.
"ada apa,tuan?" tanya Desya yang juga masih mengantuk.
Desya langsung gugup dan mengangguk, dia keluar dari kamarnya untuk menuju kamar Ayles "semoga persalinannya lancar,madam.."
"terima kasih,Desya..tolong bantu jaga Ayles sebentar ya.."
"tidak perlu mencemaskan tuan muda Ayles,madam..saya akan menjaganya baik-baik.."
Lidya mengangguk dan tersenyum "cepatlah.."
Louis menatap Luckas dengan bingung "kamu..pergi mengantar kakakku dengan berpakaian seperti ini?" sahut Luckas sambil menatap Luckas yang hanya memakai celana training panjang dan tanpa atasan.
Luckas menepuk keningnya "ya ampun..tunggu sebentar.." dia bergegas kembali ke kamarnya mengganti baju dan segera membawa istrinya menuju rumah sakit bersama Louis.
Saat dalam perjalanan,Lidya mulai merasakan kontraksi yang semakin hebat dan tidak lama kemudian,dia merasakan tempat duduknya basah "oh tidak.."
Luckas menatap arah yang ditatap Lidya "Lidya?? kamu buang air kecil??"
Lidya menatap Luckas dengan kesal sambil menahan sakit kontraksi yang sedang melandanya. Louis tertawa keras di depan sambil mengendarai mobil "Itu ketuban,tuan muda!!! bukan pipis!!"
Luckas tersipu malu dan kembali menjerit keras saat Lidya mencengkeram keras tangannya karena sakit yang melandanya "arrgghhhh.." pekik Luckas yang kesakitan "Louisss!!! cepat!!! ngebut!!" pekik Luckas.
Louis malah cekikikan,dia menikmati rintihan Luckas karena kakaknya. Namun,dia mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit.
Para suster dengan sigap membantu Lidya, mereka mendorong Lidya dengan kursi roda menuju ruang bersalin bersama sang suami,Luckas. Sesampai di ruang bersalin,suster dengan cepat memasang semua perlengkapan melahirkan, tidak lama kemudian.
"maaf,madam..kita akan memeriksa terlebih dahulu ya.." sahut suster tersebut sambil memakai sarung tangan karetnya. Lidya mengangguk karena dia sudah mengerti maksud suster tersebut.
__ADS_1
Tidak lama kemudian,suster tersebut memasukkan jari tangannya di lubang intim milik Lidya,dan membuatnya sedikit meringis kesakitan dan kembali mencengkeram tangan Luckas "arrghhhh!!" pekik Luckas kembali dan mengejutkan suster yang tengah memeriksa Lidya.
"yang diperiksa istrinya,yang menjerit suaminya ya" sahut suster tersebut bergurau.
Luckas kembali tersipu,dia sangat awam dengan kejadian yang sedang dia alami sekarang.
"masih belum ya.. tenangin diri terlebih dahulu,madam.. nanti saya akan kembali lagi.." sahut suster tersebut.
Sudah tidak tahu berapa jam lamanya Lidya mengalami kontraksi yang semakin lama semakin sering dan sudah tidak tahu berapa kali dia mencengkram tangan suaminya hingga membekas.
"Lidya..maafin aku.. kamu terlihat begitu kesakitan.." lirih Luckas sambil mengelap keringat di kening istrinya,dia begitu perih melihat perjuangan istrinya yang berulang kali di periksa bagian bawanya oleh suster yang lalu lalang dan juga rasa sakit yang mendera istrinya.
Lidya mencoba tersenyum dan menggeleng "memang seperti ini perjuangan seorang ibu melahirkan,Luckas.."
Hati Luckas semakin hancur mengingat masa Lidya melahirkan Ayles sendirian dulu "maafin aku,Lidya.. aku..aku tidak akan menghamilimu la-- arrghhh!!" pekik Luckas kembali karena cengkraman Lidya.
"apa yang kamu katakan,Luckas?" sahut Lidya sambil mencoba menetralkan nafasnya
"aku tidak akan menghamilimu lagi.." sahut Luckas dan akhirnya membuat Lidya tertawa.
"yakin? jika begitu,kamu tidak boleh meminta jatah lagi!!" goda Lidya.
"hemmm...aku pikir-pikir dulu.." sahut Luckas.
Tidak lama kemudian suster kembali lagi dan kembali memeriksa Lidya "wah..sudah..sudah tiba waktunya,saya panggil dokter anda terlebih dahulu" sahutnya sambil keluar menghubungi dokter.
Luckas menatap Lidya "sudah berapa kali kamu di 'coblos' trus..huh.. masa mahkotamu seperti colokan listrik dibuat suster itu"
Lidya kembali tertawa sambil menahan kontraksi yang semakin hebat. Tidak lama kemudian, sang dokter masuk bersama beberapa suster lainnya dan segera memulai persalinan. Lidya mencoba mengejan berulang kali dan berulang kali pula Luckas ikut menahan rasa sakit di tangannya akibat cengkraman Lidya. Hingga akhirnya,terdengar suara tangisan bayi.
"Selamat,sir..bayi anda perempuan dan sangat sehat.." sahut sang dokter. Luckas tersenyum bahagia menatap anaknya dan mengecup kening istrinya.
"terima kasih,Lid--" brakk..
"tuan?? tuan??" suster-suster dan dokter di sana terkejut dan dengan sigap langsung menyuruh suster lainnya mengangkat Luckas dan mengeluarkannya dari ruang bersalin.
"ya Tuhan.. suamiku..suamiku kenapa,dok??" sahut Lidya dengan bimbang, dia bahagia karena kelahiran anak keduanya tapi dia juga cemas melihat suaminya yang pingsan dan dia juga bingung karena tidak bisa melihat suaminya. 'ahh..iya..untung ada Louis..' pikir Lidya seketika.
Louis menatap Luckas yang masih tidak sadarkan diri sambil menggeleng kepala.
"hoi bangun!!" sahut Louis "HOI!!"
"arrgggghhh!!" pekik Luckas karena cubitan Louis di bagian perutnya "sakitttt.." rintihnya.
"sakit,tuan?? kakakku lebih sakit lagi!!" sahut Louis sambil menggelengkan kepalanya "bagaimana mungkin seorang Luckas Ryans pingsan melihat istrinya melahirkan?"
"hahaha.. aku juga tidak tahu.." tawa Luckas dengan canggung dan malu, dia sungguh tidak menyangka bisa pingsan "bagaimana dengan Lidya dan anakku?"
"makanya segera bangkit!!! anakmu menunggu bapaknya" sahut Louis sambil memutar kedua bola matanya "aku tidak menyangka malah menemanimu disini,bukan kakakku"
"sorry,bro.. bukan niatku untuk pingsan.." lirih Luckas dan segera bangkit berdiri, dia bersama Louis berjalan menuju ruangan Lidya.
Luckas tersenyum bahagia menatap Lidya yang tengah menggendong anak mereka "Lidya.."
"Luckas?? kamu baik-baik saja?" tanya Lidya dengan cemas.
"tidak perlu khawatirkan dia!!" sahut Louis
"mana tuan putri kecilku?" tanya Luckas cepat,dia tidak ingin Louis melanjutkan kalimatnya.
Lidya menyerahkan anaknya pada Luckas,Luckas menggendong dengan berhati-hati layaknya sedang menggendong sesuatu yang sangat rapuh.
"dia.. cantik sekali,Lidya.." bisik Luckas dan tanpa sadar menitikkan air mata bahagia "sangat cantik.." bisiknya sambil mengecup kening bayi mungil tersebut.
"kamu belum memberinya nama,Luckas.." bisik Lidya yang tidak kalah terharu melihat Luckas yang begitu bahagia.
"Alysse Livy Ryans.." ucap Luckas "yang artinya kepercayaan dalam cinta" sahut Luckas sambil mengecup kening Lidya "terima kasih,Lidya telah memberiku pangeran dan tuan putri yang begitu sempurna.
author : loha~~ Author back🤪
nah..bab terakhir ya.. dan tanpa kerasa malah begitu panjang extra storynya 😂
sekali lagi,terima kasih banyak telah membaca dan mendukung Hotel Prince ❤️
Mampir di novel keduaky ya "PRICKLY CHERRY"🙏
__ADS_1
ga kalah seru kog🤩
love you all readers🎊