
Bali,
Dengan lapisan blazer dan celana panjang yang berwarna merah menyala,Ruby berjalan diantara keramaian sambil menarik koper mininya.
"Papa,telah menyiapkan tiket dan hotel untukmu.. Pergilah ke Bali terlebih dahulu. Papa telah menyuruh Peter untuk menyusulmu. Namun,jika saja Peter telat tiba di Bali.. Maka,lakukan usaha terbaikmu untuk memenangkan proyek ini!" ucapan Simon,sang ayah masih terngiang-ngiang di telinga Ruby.
Sesampai di kamar hotelnya,Ruby langsung menghempaskan tubuh mungilnya di tempat tidur. Yang dia butuhkan sekarang hanyalah istirahat!.. Penerbangan yang lama cukup menguras tenaganya. Ruby bahkan terlalu lelah untuk sekedar membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Suara dering ponselnya,membuatnya kembali membuka kedua matanya yang hampir menutup, "Sial!" pekiknya lalu meraih ponselnya.
Dua pesan singkat menanti manis untuk dibaca olehnya, dua pesan dari pengirim yang berbeda. Ruby memutar kedua bola matanya lalu membuka salah satunya.
"Papa telah mengatur pertemuan kalian dengan hotel Ryans. Lusa! jam dua siang! Jangan telat dan berikan yang terbaik!!" jelas Simon di pesan singkatnya. Ruby tersenyum kecut, sang ayah bahkan tidak menanyakan kabarnya. Ruby membuka pesan yang satu lagi, pesan yang dikirim oleh Peter.
"Kemungkinan aku akan tiba sana besok malam.. Jadi siapkan sendiri berkas yang akan kita bawa pada pihak hotel!. Kamu tidak sebodoh itu kan, tidak mungkin hanya menyiapkan berkas saja kamu tidak mampu 🤭" Ruby melempar ponselnya ke sembarang tempat,pesan singkat dari Simon dan Peter sukses membuatnya semakin lelah.
Ruby menarik selimutnya dan membujuk matanya untuk terlelap, dia membutuhkan tenaga untuk besok. Dia harus menyiapkan data yang di bawanya, dan Ruby sangat tidak ingin kembali di hina oleh Peter. Dengan perasaan kesal,Ruby akhirnya terlelap.
Keesokan harinya,
Chandra mengetuk pintu ruangan Louis perlahan, tidak lama setelah mendengar suara Louis yang mempersilahkannya masuk,Chandra pun masuk ke dalam ruangan atasannya itu.
"Pagi,sir.." sahut Chandra sambil menaruh secangkir americano.
"Thank you!" sahut Louis sambil tersenyum dan kembali memeriksa berkas yang ada di mejanya. Dia harus memeriksa barang-barang yang akan di kirim nantinya.
"Sama-sama,sir.. Dan sir,besok ada jadwal pertemuan dengan pihak ekspedisi pada pukul tiga sore" sahut Chandra.
"Ekspedisi? Bukankah baru Beberapa waktu yang lalu kita telah meeting dengan pihak Ever Ship?" tanya Louis dengan mata masih tetap tertuju pada berkas yang ada di mejanya.
Chandra mengangguk, "benar.. tapi untuk besok adalah ekspedisi yang berbeda.."
"Oh ya? Ekspedisi apa?" tanya Louis acuh.
"Lee's Ship"
Nama perusahaan yang sontak membuat Louis berhenti bergerak. Dia menatap Chandra yang seketika merasa gugup, "Lee's Ship dari New York?"
__ADS_1
Chandra menelan salivanya dengan susah payah,lalu mengangguk, "benar,sir.. apakah ada masalah?" tanyanya pelan, seakan takut telah berbuat kesalahan.
Tiba-tiba Louis kembali tersenyum, "tidak..tentu tidak" sahut Louis lalu kembali menatap berkas di mejanya, Louis tahu dirinya yang sekarang tidak perlu menghindar ataupun lari dari siapapun dari Lee's Ship,terutama Ruby Lee. Lagipula,sangat kecil kemungkinan jika perusahaan Lee's Ship mengutus Ruby Lee sebagai perwakilan mereka.
Chandra kembali merasa lega, "sir..sepertinya hotel kita sangat terkenal" sahut Chandra dengan wajah tersenyum lebar.
"Apa yang membuatmu berkata seperti itu?" tanya Louis.
"Bahkan pihak Lee's Ship menyuruh anak dari pemilik Lee's Ship untuk bertemu dengan anda besok" sahut Chandra dengan bangga.
"Apa?! Anak?" tukas Louis terkejut.
Chandra kembali terkejut,lalu mengangguk pelan "be..benar. Anak perempuan mereka jika tidak salah bernama--"
"Ruby Lee" sahut Louis menyambung kalimat Chandra.
Louis tersenyum sinis, "apakah hanya dia seorang?"
"Tidak.. sepertinya kedua anak pemilik Lee's Ship.." jawab Chandra.
"Ke..keduanya?"
Chandra mengangguk, sedangkan wajah Louis langsung berubah.
"Apakah Vanya masuk kerja hari ini?" tanya Louis.
"Vanya??" nama yang asing di telinga Chandra, "siapa Vanya, sir?"
"Ah.. maksudku.. Miss Rose"
__ADS_1
"Miss Rose hari ini masuk seperti biasa, sir.." jawab Chandra.
"Beritahu Miss Rose untuk cuti hari ini.. dan jika dia menolak,katakan ini perintah dariku" lanjut Louis.
Chandra kembali mengangguk,walau dia tidak mengerti mengapa Louis memberi perintah seperti itu,tapi dia juga tidak berani membantah.
Setelah Chandra keluar dari ruangannya,Louis bersandar di kursi kebesarannya sambil menatap ruangannya dengan pandangan kosong, "hari ini akan menjadi hari yang melelahkan.." gumam Louis sendiri "namun,aku tidak ingin Vanya bertemu kembali dengan salah satu ataupun keduanya" lanjut Louis.
Menuruti perintah Louis,Chandra menemui Vanya yang tengah berada di ruangannya. Chandra menatap Vanya yang tengah duduk membelakanginya sambil tersenyum. Wanita ini sangat menarik dan Chandra tidak bisa berhenti untuk menggodanya setiap kali bertemu.
"Vanya?" sahut Chandra yang sengaja memanggil nama yang di sebutkan Louis tadi.
Dengan refleks Vanya berbalik dan menjawab Chandra, "Ya?"
Curcol Author:
"Loha.. sebelumnya author mau minta maaf terlebih dahulu. Sepertinya author akan hiatus untuk sementara waktu 🙇🙏.
Seperti yang kalian tahu, aku punya usaha di bidang kuliner dan dimana usaha yang sangat makan waktu dan tenaga. Nah,biasanya saya dan suami saya di bantu oleh anggota kerja saya.
Tapi,beberapa hari yang lalu.. dia minta izin cuti untuk pulkam karena nenek satu-satunya meninggal dunia😭.
Dan..its mean, aku kembali harus handle semua! Baik dari urus jualan,urus anak,urus rumah,masak,beres2💪😭. Untuk pegang HP doang juga kadang ga kesentuh. Di tambah,anakku yang lagi lengket2nya sama mamanya🥺.
At least, aku kelelahan🥴.
Tiap malam,bahkan terlalu capek untuk megang hp.
Dan juga,anggotaku yang mesti kudu ku beri 14hari jika sudah balik dari kampungnya (u know.. coz the pademic).. jadi dengan berat hati,aku memutuskan untuk hiatus sebentar dari nulis. Feel so sorry🙏.
But,I'll be back kog❤️
Tetap dukung aku ya.. thank you guys and love you all😍
__ADS_1