
Kediaman Vanya,
Malam itu,Vanya memilih menikmati waktu untuk dirinya sendiri. Dia pun mulai memilih sebotol wine yang ada di lemarinya dan memutar lagu klasik kesukaannya.
Setelah selesai berendam di bathtub, dibalut dengan jubah mandi..Vanya menyeruput perlahan wine yang ada di tangannya. Suara dering ponselnya membuyarkan waktu indahnya, dia meraih ponselnya dengan wajah kesal. Namun,hal itu tidak bertahan lama.. wajahnya langsung berubah cerah saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.
"Louis.." sahut Vanya begitu menerima panggilan itu,sambil mengecilkan suara akan lagu klasiknya.
"Apa yang sedang kamu lakukan,Vanya?" tanya Louis.
"Aku? Sedang menikmati waktuku sendiri,tidak sampai diganggu oleh telepon dari seseorang.." jawab Vanya.
Louis terkekeh, "waktu yang sempurna,bukan??" goda Louis.
Vanya tertawa kecil, "jadi.. ada apa kamu meneleponku, Louis?"
"Aku? tentu saja merindukanmu!" jawab Louis yang sontak membuat wajah Vanya merona merah, "apakah aku boleh menemuimu?" tanya Louis.
"Ha? Sekarang?" Vanya menatap jam dinding yang bertengger di dinding rumahnya, waktu yang telah menunjukkan hampir jam dua belas malam. Vanya mengerutkan keningnya, "bukankah ini sudah terlalu malam?".
"Tapi aku begitu merindukanmu!" sahut Louis dengan nada memelas.
Jantung Vanya berdebar kencang, suara memelas Louis sukses membuatnya semakin salah tingkah.
"Tidak ada tapi.. tidak ada penolakan!! Aku akan ke sana sekarang!" sahut Louis.
.
"Louis.." Vanya menyebut Louis dengan nada lirih.
"Aku berjanji hanya melihatmu sebentar saja,Vanya.." sahut Louis, "bagaimana dengan satu pelukan dan satu ciuman?"
__ADS_1
Vanya tertawa kecil, "mengapa kamu jadi membuat penawaran?"
"Setuju?"
"Louis.."
Louis menghela nafas, "baiklah.. hanya satu pelukan dan aku akan pulang.. Jangan membuatku tidak bisa tidur,Vanya.." rengek Louis,layaknya anak kecil.
Mendengar suara rengekan Louis membuat Vanya kembali tertawa, "baiklah.."
Seketika Louis kembali bersemangat, "tunggu aku!!".
Sesaat sebelum Louis menutup pembicaraan mereka... "Louis!!" pekik Vanya tiba-tiba, sehingga membuat Louis kembali mendekatkan ponselnya di telinga kanannya.
"Vanya??"
"Sejujurnya...aku juga merindukanmu.." bisik Vanya dan langsung menutup telepon.
Beberapa menit kemudian, Vanya tersenyum sambil menatap bayangan dirinya yang ada di cermin. Dia sengaja memilih gaun kasual berwarna putih, dan juga sengaja memberi sapuan riasan ringan di wajah manisnya. Tidak lupa,Vanya menggerai rambutnya dan di tata bergelombang..menambah kesan manis di wajahnya.
Vanya tertawa kecil, "sempurna.. tapi.. apakah ini tidak berlebihan?" sahutnya pada dirinya sendiri, lalu memberi sapuan lipstik tipis berwarna pink muda di bibirnya, seketika.. wajah manisnya semakin menawan. "Memberi sedikit kejutan untuk Louis, tidak salah bukan?" sahutnya kembali lalu tersenyum, membayangkan wajah Louis yang terpana akan dirinya..membuat Vanya tidak dapat berhenti tersenyum.
Gaun putih kasual pilihannya itu terbalut sempurna di tubuh rampingnya, Vanya kembali memandang bayangan dirinya di cermin, "sepertinya gaun ini sedikit..." Vanya menatap dirinya dari ujung rambut hingga ujung kaki, "...terbuka?". Gaun kasual putih tidak berlengan dan sedikit diatas lutut, Vanya jatuh cinta pada gaun ini saat dia berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan. Dan ini pertama kalinya dia memakai gaun itu. "Tidak apalah.. Demi menyenangkan Louis.." sahut Vanya kembali.
__ADS_1
Vanya yang sekarang layaknya gadis remaja yang tengah jatuh cinta. Ya..dia memang telah jatuh cinta pada Louis sejak awal mereka bertemu.
Wajah cerah Vanya tiba-tiba berubah menjadi muram, "*aku akan menceritakan apa yang terjadi di Beijing pada Louis..malam ini juga*" tekadnya dalam hati.
Memikirkan Beijing membuatnya teringat akan pertemuannya dengan Peter dan Ruby saat di hotel, ingin rasanya Vanya memaki dirinya sendiri yang begitu pengecut,terutama saat bertemu dengan Peter. Dia tidak menyangka jika dia akan begitu ketakutan, Vanya menghela nafas panjang lalu menatap kedua matanya di cermin.
"Vanya!!!! Kamu harus kuat!! Kuat menghadapi bajing\*n itu!!!. Kamu tidak perlu bersembunyi!!. Kamu bisa menghadapinya!!" sahutnya pada dirinya sendiri.
*Ting..Tong*..
Suara bunyi bel seketika membuat detak jantung Vanya berpacu lebih cepat, wajahnya kembali tersenyum cerah. Dia kembali memeriksa dirinya di balik cermin sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu depan.
Setelah memastikan dirinya telah terlihat sempurna,Vanya berlari kecil menuju pintu depannya dan membukanya.
"Kamu lebih ce--" namun... Vanya mematung, "ka..kamu-"
__ADS_1