
Vanya berlari keluar dari kamar hotel itu tanpa memperdulikan suara Louis yang berulang kali memanggil namanya.
Bergegas Louis memakai semua pakaiannya dan mencoba mengejar Vanya,namun Peter dan Ruby menahannya.
"Apa yang kamu lakukan?!. Kamu tidak bisa kemana-mana sebelum kamu memberiku penjelasan tentang ini!!" hadrik Peter.
"Lepaskan aku!!" pekik Louis sambil mencoba melepaskan cengkraman tangan Peter.
"Sayang.." isak Ruby "jangan pergi..kamu sudah janji padaku untuk bersamaku"
Louis menatap Ruby bagaikan harimau yang siap menerkamnya, "aku belum perhitungan padamu!!. Aku yakin ini semua jebakanmu saja!"
Bugh!!
Sebuah pukulan mendarat di pipi Louis hingga membuatnya tersungkur di lantai hotel yang beralasi karpet merah itu, suara jeritan Ruby langsung memenuhi ruangan, "Louis!!" pekiknya sambil bergegas memeriksa Louis lalu menatap abangnya dengan kesal, "apa yang kamu lakukan?!".
"Menyadarkannya!!" jawab Peter kesal, "jangan pikir kamu bisa kemana-mana sebelum kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat pada adikku,bajing*n!"
Peter berjalan keluar dari ruangan,mencoba mengejar Vanya yang telah menghilang.
Louis yang masih mencoba menelaah semua kejadian ini,tapi dia sungguh-sungguh tidak mengingat apapun setelahnya, sama seperti saat dia bersama Vanya, "Bajing*n kau,Louis!!" pekiknya sendiri.
Seulas senyuman singkat terhias di wajah Ruby, senyuman yang penuh kemenangan, "Louis..berdirilah.." sahut Ruby lembut.
"Jangan menyentuhku!!" pekik Louis sambil menepis tangan Ruby.
Ruby membisu menatap Louis, "pergilah.."sahut Ruby sambil menitikkan air mata, "aku.. tidak akan mempermasalahkan tentang apa yang terjadi diantara kita.."
Louis menatap Ruby yang tengah menitikkan air mata, sekilas Louis merasa bersalah. Bagaimana pun Ruby adalah seorang wanita dan walau Louis tidak mengingat apa yang terjadi,tetap saja sikap Louis pada Ruby telah menyakitinya. Louis bangkit berdiri, "Aku bukan lari dari tanggungjawabku, tapi tidak... sebelum aku bertemu dengan Vanya dan menjelaskan semuanya padanya!"
Tanpa menjawab Louis,Ruby yang masih duduk di lantai hanya menutup matanya dan terdengar suara isakan.
Louis mengepal tangannya, "kamu bisa memakiku,memukulku, memarahi sebagai bajing*n atau apapun itu,Ruby.. tapi satu hal yang ku minta, biarkan aku menemui Vanya terlebih dahulu sebelumnya.." sahutnya sambil berlari keluar dari kamar hotel itu.
Menyadari Louis yang telah meninggalkannya sendiri,Ruby membuka matanya. Suara tawanya memenuhi kamar tersebut kembali.
Peter yang sebelumnya mencari-cari Vanya,tepat saat berada di depan hotel,Peter menemukan sosok Vanya yang tengah berdiri di tepi jalan,menanti lampu lalu lintas berubah menjadi merah untuk menghentikan semua kendaraan yang berlalu lalang.
Dengan cepat Peter berlari dan menarik tangan Vanya,Vanya berbalik menatap Peter dengan wajah yang sembab berlinang air mata.
"Lepaskan aku!" pekik Vanya.
__ADS_1
"Aku akan melepaskanmu jika kamu mau mendengarkanku!!" pekik Peter kembali.
Vanya terdiam, perlahan Peter melepaskan cengkraman tangannya, "lupakan bajing\*n itu!!. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik darinya!!"
Vanya kembali terisak, "a..aku.."
"Lupakan dia dan semuanya,Vanya!. Ikutlah bersamaku ke Beijing!. Aku akan membantumu membuka lembaran baru" lanjut Peter dengan wajah serius.
"VANYA!!" suara jeritan Louis membuat mereka berdua memalingkan wajahnya.
Louis berlari mendekati mereka berdua,namun Vanya seakan tidak ingin bertemu dengan Louis. Vanya menoleh dan berlari menyeberangi jalan tanpa memperhatikan lampu lalu lintas yang telah kembali normal.
\*Tin..tin!!!!
Suara histeris para wanita yang melihat kecelakaan itu terdengar begitu menyakiti telinga siapapun. Peter berlari mendekati Vanya yang telah tersungkur bersimbah darah, dan terlihat tidak sadarkan diri.
Kedua kaki Louis seakan tersihir, hanya mematung menatap apa yang baru saja terjadi, semua bahkan terjadi begitu cepat.
"VANYA!!!" suara jeritan nama Vanya dari mulut Peter kembali menyadarkan Louis. Louis berjalan perlahan mendekati Vanya, darah yang mengalir di bagian bawah perut Vanya membuat Louis semakin ketakutan.
"Tidak..tidak!!" Louis merampas tubuh Vanya dari Peter "tidak..Vanya!! Aku mohon!! sadarlah!!" isak Louis, "siapapun!! Aku mohon telepon ambulans!!" Louis memeluk tubuh Vanya yang terasa dingin, "Tidakk.." isak Louis sambil menitikkan air mata, beberapa menit yang lalu,dimana baru saja dia melihat sosok Vanya berdiri menatapnya sambil menangis dan beberapa menit setelahnya..wanita tersebut telah tersungkur di aspal dengan bersimbah darah. Suara tangisan Louis terdengar begitu menyayat hati semua orang. Kepedihan yang begitu dalam yang sanggup membuat semua orang ikut menitikkan air mata.
Suara ambulans terdengar semakin mendekat, dan tanpa menunggu lama..para petugas medis begitu sigap membantu Vanya dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat, Louis bersikeras untuk ikut bersama Vanya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan,Louis tidak berhenti menggenggam tangan Vanya sambil terisak meminta maaf.
__ADS_1
Tok..tok..
Terdengar suara ketukan pintu kamar hotel tempat Ruby berada. Ruby telah berpakaian rapi, seakan tidak terjadi masalah apapun sebelumnya, berjalan mendekati pintu dan membukanya.
Ruby terkejut saat melihat kakaknya berdiri di depan pintu dengan pakaian yang berlumuran darah,
"ka..kak.. ada apa denganmu?" tanya Ruby dengan cemas sambil mengikuti Peter yang berjalan masuk ke dalam kamar, "mengapa bajumu seperti ini.. kamu terluka?" tanya Ruby.
Dengan wajah pucat,Peter menatap adiknya, "Vanya kecelakaan!"
"Vanya?"
"Dan dia terlihat parah" lanjut Peter
Ruby membisu.
"A..aku tidak menyangka semua akan jadi seperti ini.." sahut Peter penuh sesal.
"Dimana dia sekarang?" tanya Ruby dengan suara datar.
"Ambulans membawanya ke rumah sakit.."
"Louis mengetahuinya?"
Peter mengangguk "Louis menemaninya.."
Ruby meraih handbag Channel berukuran mininya, dan beranjak keluar dari kamar, namun Peter menahannya.
"Mau kemana kamu?!" tanya Peter.
"Mencari Louis!!" hadrik Ruby.
"Ruby!!. Biarkan Louis bersama Vanya dulu!"
"Setelah apa yang aku lakukan,kakak ingin aku membiarkannya bersama wanita licik itu lagi?" seru Ruby.
"Kamu sadar tidak,Ruby???" sahut Peter dengan suara keras sambil menggoyangkan tubuh Ruby, "ini semua salah kita!!!. Jika terjadi apa-apa dengan Vanya,itu semua karena ki--"
"Bukan karena kita!!" sahut Ruby memotong perkataan Peter, "dan aku tidak peduli akan dia!!. Yang aku inginkan sekarang hanyalah Louis yang menjauh darinya!!"
Peter menatap adiknya dengan bergidik, dia tidak menyangka Ruby berubah begitu posesif dan bahkan tidak merasa bersalah atas apa yang menimpa Vanya, "aku tidak akan membiarkanmu pergi!!" sahut Peter sambil menahan Ruby.
"Lepaskan aku!!" pekik Ruby.
"Biarkan Louis menemaninya!!" hadrik Peter, "kondisi Vanya terlihat kritis dan berbahaya,Ruby! Apakah kamu tidak merasa kasihan padanya,hah?!"
Ruby terdiam, menatap Peter lalu tersenyum "benarkah??" tanya Ruby "akan lebih sempurna jika Vanya mati, bukan?" lanjut Ruby dengan suara berbisik yang langsung membuat Peter kembali merinding melihat wajah adiknya.
.~~~~~
__ADS_1