Hotel Prince

Hotel Prince
Apologize


__ADS_3

I'd take another chance, take a fall


Take a shot for you


And I need you like a heart needs a beat


But it's nothing new, yeah, yeah


I loved you with a fire red


Now it's turning blue, and you say


Sorry like the angel heaven let me think was you


But I'm afraid


•Timbaland•



Hotel DeParis merupakan hotel warisan dari sang ayah pada anak satu-satunya,Elena. Tapi, sejak dulu dunia perhotelan bukanlah hal yang menarik bagi Elena. Sejak kepergian ayahnya yang tiba-tiba,mau tidak mau Elena harus menggantikan posisi ayahnya. Karena dirinya yang awam dengan dunia hotel, hotel DeParis mengalami penurunan, Elena mulai putus asa. Mengurus satu hotel saja telah cukup sulit baginya, namun dia harus mengurus dua hotel yang diwariskan ayahnya. Namun,sekarang.. adanya Lidya membuat dia sedikit lega. Walau Lidya jauh lebih muda darinya,namun ternyata Lidya jauh lebih berkompeten darinya.



Elena memanggil Lidya ke ruangannya sore itu, sejak merasakan perubahan di hotelnya.. Sikap Elena pada Lidya juga berubah,tidak ada lagi wajah ketus di wajah Elena. Yang ada sekarang adalah rasa hormat Elena pada Lidya.



"anda memanggilku,Madam?" tanya Lidya saat masuk kedalam ruangan Elena.



"silakan duduk,Miss Lidya.." sahut Elena lembut "anda benar..saya telah kalah telak dari anda.."



Rasa puas dan bangga menyelimuti diri Lidya, namun dia tidak ingin merasa sombong. Lidya berpikir tidak ada gunanya baginya untuk merasa sombong, dia mendapatkan pekerjaan dan Elena menyelamatkan hotelnya..sama-sama menguntungkan bagi mereka berdua, Win-Win!



"terima kasih,Madam. Tapi..anda tidak perlu merasa kalah dari saya, saya yang seharusnya berterima kasih karena memberikan saya kesempatan untuk bekerja di sini" sahut Lidya.

__ADS_1



Elena tersenyum, dia tidak menyangka Lidya begitu rendah hati. Jika saja Lidya adalah orang lain,mungkin saja orang tersebut telah menertawakannya dan memandang rendah Elena. "panggil saya Elena,Lidya.. saya tidak setua itu untuk dipanggil madam"



"tapi-"



"anda mendapat izin dariku,Lidya. Ketekunan dan kerja kerasmu walau kondisimu yang tengah hamil tua membuatku salut padamu. Dan sesuai perjanjian kita,kebebasan waktu kerjamu telah aku penuhi"



"Tapi..Elena, ini belum enam bulan..tidak sesuai dengan perjanjian kita"



Elena menggeleng "saya telah melihat hasil kerja kerasmu dan saya yakin pada kemampuanmu!! ditambah.."Elena menunjuk perut Lidya yang telah membesar "sudah waktumu untuk sedikit beristirahat,Lidya. Saya tahu waktu untuk melahirkanmu semakin dekat,kamu harus sedikit fokus pada dirimu dan anak dalam kandunganmu"



Lidya tidak dapat berkata apa-apa karena dia benar.. waktu bersalinnya semakin dekat. Akhirnya dia menyetujui Elena "terima kasih banyak,Elena. Aku sangat menghargai perhatianmu. Walau beristirahat,aku akan tetap bertanggung jawab dan memantau pekerjaanku"




"tentu saja anda boleh bertanya padaku.." jawab Lidya, dia melihat wajah Elena terlihat ragu namun juga penasaran.



"aku.. tidak pernah melihat suamimu-" sahut Elena perlahan. Dia ragu untuk melanjutkan kalimatnya karena wajah Lidya langsung berubah begitu mendengar pertanyaannya "maaf Lidya..kamu tidak perlu menjelaskan padaku,aku hanya memikirkan wali yang akan mendampingimu saat kamu melahirkan kelak.. maaf jika pertanyaanku menyinggungmu" lanjut Elena.



"terima kasih,Elena. Mungkin kamu benar.. dan sekarang sudah seharusnya aku memberitahu keluargaku" lirih Lidya.



Elena terkejut "kamu.. keluargamu tidak tahu mengenai kehamilanmu??"

__ADS_1



Lidya menggeleng dan tertawa lirih "aku terlalu penakut,Elena. Aku telah merusak kepercayaan mereka, karena itu aku takut untuk memberitahu tentang keadaanku saat ini" sahut Lidya sambil mengelus perutnya.



Elena menghela nafas "Lidya.. seburuk apapun keadaan kita, hanya keluarga kita terutama orang tua kita yang sanggup dan selalu akan menerima kita apapun keadaan kita. Sebab hanya keluarga kita sendiri yang tulus menyayangi dan mencintai kita apa adanya,Lidya" sahut Elena yang teringat akan mendiang ayahnya yang merawatnya sendiri sejak kepergian ibunya saat dia masih kecil.



Lidya terdiam, menelaah perkataan Elena yang begitu mengena di hatinya.



Elena berjalan mendekati Lidya "tidak perlu merasa takut,Liyda.. Yakinlah, kedua orang tuamu akan menerimamu"



 ~~~~~~~~~



Hari telah larut, namun lampu di kantor Lidya masih menyala.. Lidya duduk di kantornya, memandang layar teleponnya. Berulang kali dia mencoba menekan tombol untuk melakukan panggilan,namun berulang kali juga dia membatalkan niatnya. Sejak delapan yang lalu,Lidya bukan saja menghilang dari Luckas dan keluarga Ryans..namun juga keluarganya sendiri. Dia merasa telah mencoreng wajah orang tuanya.



Setelah puluhan kali dia bimbang untuk melakukan panggilan,akhirnya dia memberanikan diri menelepon ibunya.



"Halo.." terdengar suara yang mengangkat telepon Lidya.



Nafas Lidya tercekat saat mendengar suara ibunya, dia tidak sanggup mengeluarkan suara. Sudah berbulan-bulan dia tidak menghubungi keluarganya,hanya sebuah pesan terakhir yang dia kirim pada ibunya dulu '*Maafkan Lidya,ma.. jangan khawatir,Lidya akan baik-baik saja*..'.



"Halo??? siapa ini?!" suara dari ujung telepon memecahkan lamunan Lidya.


__ADS_1


"....mom.." sahut Lidya pelan.



__ADS_2