Hotel Prince

Hotel Prince
Peek-A-Boo!


__ADS_3

Peek-A-Boo!


It’s strange, you’re different


I stop this game and I look at you again


I’m not afraid, because I just felt


That a new story will begin


•Red Velvet•



"sepertinya kamu sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu tadi,Luckas" sahut Lidya sesaat setelah Luckas menutup telepon dari ibunya.



Luckas begitu malu pada dirinya sendiri "mengapa kamu tidak memberitahuku jika dia adalah adikmu?"



Lidya mengangkat kedua bahunya "aku baru saja mau menjawabmu tapi.. Martha yang mendahuluiku" jawab Lidya dengan sikap acuh.



"Apapun itu,Lidya..aku serius dengan ucapanku! Aku mencintaimu! dan akan memperjuangkanmu kembali"



Lidya mengalihkan pandangan matanya,tidak tahu mengapa..dia tidak ingin menatap kedua mata pria yang di depannya.



"Terima kasih,Luckas. Sekarang biarkan aku pulang,Ayles menungguku" sahut Lidya sambil mencoba melepaskan dirinya dari Luckas.



"Lidya.. apakah aku sungguh telah hilang dari hatimu?"



"Luckas..Ayles menungguku"



Membayangkan wajah Ayles yang menangis menunggu ibunya,membuat Luckas luluh hingga akhirnya membiarkan Lidya pergi.

__ADS_1



Kediaman Lidya,


Dengan pikiran yang melayang-layang, Lidya masuk kedalam kamar Ayles,menatap Ayles yang telah terlelap. Lidya tersenyum dan mengecup pipi tembem anaknya,dan berjalan perlahan keluar dari kamar anaknya dan menutup pintu kamar Ayles.


"Lho..sejak kapan pulang?" tanya Louis yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"barusan.. Ayles sudah lama tidur?" tanya Lidya.


"baru saja..tidak lama" sahut Louis sambil berjalan kearah kulkas,mengambil sebotol air dingin dan meneguknya.


Louis sangat tidak mirip dengan Lidya, Louis lebih tinggi daripada Lidya. Tubuhnya yang ramping layaknya seorang model dan wajahnya yang tampan mampu membuat wanita-wanita berdecak kagum saat melihatnya.


"Oh ya..td mom meneleponku.." sahut Louis.


Lidya berjalan dan merebahkan diri di sofa kecilnya yang empuk "ada perihal apa?"


"Mom menyuruhku pulang,karena kuliahku sedang libur" jawab Louis sambil menyodorkan sebotol air putih untuk Lidya.


"thanks" jawab singkat Lidya sambil meneguk air minumnya "apa ada masalah di rumah?"


Louis menggeleng "toko sedang ramai karena masa liburan,dan karyawan mom ada yang sedang cuti karena itu mereka memintaku untuk pulang"


Lidya mengangguk "okay!"


Louis melirik kakaknya "Martha.. ibu dari pria itu?"


"berarti pria itu juga sudah tahu?" tanya Louis.


"iya..tadi dia menemuiku"


Louis terkejut "benarkah?!! Aku penasaran dengannya!! Mengapa kamu tidak pernah bercerita tentang pria itu?"


Lidya berdiri "dia hanya lelaki biasa.. lagipula semua telah berlalu, aku yang sekarang lebih memilih fokus pada Ayles dan pekerjaanku" jawabnya sambil berjalan menuju kamar mandi.


"benarkah dia hanya lelaki biasa bagimu? Bukankah kamu sering melamun dan menangis karena memikirkannya?" sindir Louis,tinggal bersama Lidya..tentu membuatnya tau perilaku kakaknya.


Wajah Lidya memerah "I need take a bath"


"Lidya.." Lidya menoleh melihat adiknya "Aku tidak tahu apa yang terjadi..tapi, jika memang dia sungguh-sungguh mencintaimu dan Ayles..kembalilah padanya. Jika dia telah dan sanggup menunggumu selama tiga tahun ini,bukankah itu berarti dia begitu mencintaimu?!" sahut Louis.


Lidya hanya membalas dengan senyum getir.


"about his family.. Kamu bisa sedikit egois,bukankah begitu? Kamu dan dia akan seumur hidup bersama, tapi tidak dengan keluarganya..begitu juga keluarga kita" lanjut Louis.


Lidya menahan air mata harunya, dan berlari mendekati Louis sambil tersenyum "aduh..sejak kapan adik kecilku ini menjadi begitu dewasa?" sahut Lidya sambil mengucek-ucek rambut Louis.

__ADS_1


Louis tertawa sambil menepis tangan kakaknya "please..I'm not little boy anymore!!" sahutnya.


Lidya tertawa melihat adiknya yang sekarang semakin tinggi darinya.


"terkadang kamu terlalu memikirkan orang sekitarmu,dan selalu mementingkan mereka terlebih dahulu daripada dirimu sendiri. Jadi..aku hanya memberitahumu,sis..terkadang, it's okay to be selfish...okay?" sahut Louis sebelum Lidya masuk kedalam kamar mandi.


Lidya hanya tertawa dan berjalan masuk tanpa menghiraukan adiknya,namun..diam-diam,perkataan adiknya membuatnya termenung.



Beberapa hari kemudian,



Hotel Kingdom,



Sejak pertemuannya dengan Lidya,Luckas terlihat semakin tidak fokus dengan pekerjaannya. Bahkan tidak jarang Luckas terlihat melamun disaat rapat. Karyawannya menyadari perubahan sikap bos mereka tapi mereka tidak tahu apa penyebab dari perubahan itu, berbeda dengan Edward.. hanya Edward yang menyadari dan tahu apa yang membuat Luckas seperti itu.



Tanpa sepengetahuan Luckas,Edward menyelidiki sesuatu.. dan tentunya tidak perlu lama untuk mendapatkan hasilnya. Edward berjalan menuju ruangan Luckas dan menyodorkan selembar kertas memo pada bosnya. Luckas menatap isi memo itu dengan bingung.



"Itu alamat Miss Lidya,sir.." sahut Edward.



"Edward,kamu-"



"Maafkan jika saya lancang menyelidiki Miss Lidya tanpa persetujuan anda,sir"



"Ti..tidak..tidak Edward.. Aku sangat berterima kasih!"



Malam itu,Luckas mengendarai mobilnya menuju alamat yang di berikan Edward. Sesampai di alamat tersebut,Luckas turun dari mobilnya dan melihat rumah kecil dengan halaman mini. Walau rumahnya tidak terlalu besar namun tertata rapi dan nyaman.


Luckas membuka perlahan pintu pagar dan berjalan menuju pintu depan rumah tersebut.


'Ting Tong'

__ADS_1


"siapa?" tanya sosok dibalik pintu yang perlahan terbuka



__ADS_2