
Drink it up and get sick
Bottom's up, get wasted
Pour it up, drink it up, live it up, give it up
Oh my God, dammit, there's the f*cking limit
•PSY•
Semua orang menatap Louis dan Ruby dengan lekat,tidak ada suara yang memenuhi ruangan itu kecuali detuman musik dari luar ruangan mereka yang diam-diam sedikit memenuhi ruangan mereka sekarang,layaknya seperti irama detak jantung mereka yang tengah menanti saat bibir Louis menyentuh bibir Ruby.
"Hoekk.." suara Vanya membuat harapan semua orang sirna seketika,termasuk Ruby yang langsung kecewa. Vanya menutup mulutnya, dia menyambar tasnya dan berlari menuju kamar kecil. Isi perutnya seakan meminta untuk keluar secara paksa,dan tentunya melalui mulut.
Semua orang menatap kepergian Vanya lalu kembali menatap Louis dan Ruby dengan mata berbinar-binar penuh harapan kembali.
Louis menoleh menatap kepergian Vanya, dia yakin Vanya pasti sedang kewalahan akan dirinya sendiri. Saat pertama kali melihat Vanya minum minuman yang disodorkan Ruby,dia tahu Vanya sangat tidak pernah menyentuh minuman itu. Berbeda dengan dirinya yang tidak bisa mentolerir minuman beralkohol.
"Cowok lemah!!" itu yang Luckas katakan padanya, saat tiap kali Louis tepar hanya dalam beberapa tegukan.
__ADS_1
Ruby menarik baju Louis dan menolehkan kepala Louis kembali menatapnya. Ruby mendekatkan dirinya pada Louis, "lihat aku,Louis.. cukup aku saja!" bisik Ruby lalu mendekatkan wajahnya pada Louis.
Dengan cepat,Louis mendorong pelan tubuh Ruby.. dia meraih segelas minuman beralkohol yang terisi penuh dan meneguknya sekaligus, "aku memilih minum.." sahutnya lalu berjalan keluar ruangan diiringi seruan kekecewaan dari semua orang yang ada diruangan itu.
Ruby mengepal kedua tangannya dengan murka. Dia merasa sangat dipermalukan dan terlebih dari itu...dia bahkan gagal mendapatkan ciuman Louis. "*Awas kau,Vanya!! aku akan membalasmu*!" gumamnya dalam hati yang tidak berhenti mengutuk Vanya.
Mr.Zhang menyadari perubahan sikap Ruby, "Ah...permainan yang membosankan..bagaimana jika kita bernyanyi sedikit?!" seru Mr.Zhang.
Semua orang yang mulai merasakan aura kecanggungan setelah kepergian Louis, memberi sorakan setuju dengan saran Mr.Zhang.
Louis menoleh sekelilingnya hingga menemukan sosok gadis muda yang mencoba menghentikan taksi yang berlalu lalang, terlihat gadis itu yang berdiri dengan sedikit sempoyongan. Gadis yang kita kenal dengan nama Vanya.
Louis berlari kecil mendekati Vanya, saat melihat Vanya yang hampir terjatuh masuk ke dalam jalan raya yang ramai..Louis berlari kencang dan menarik Vanya yang telah dalam dekapannya.
Suara klakson mobil terdengar begitu keras, mobil yang hampir saja tertimpa sial jika Louis terlambat satu menit saja menarik Vanya. Vanya bersusah payah menyadarkan dirinya,menatap pemilik tubuh bidang yang tengah dia peluk.
"Maafkan aku.." sahut Vanya lalu terisak "ka..kamu Louis kan? kamu menolongku?" sahutnya.
"Iya..iya..dan sekarang kita pulang ya" sahut Louis sambil membuka pintu taksi yang baru saja berhenti di depannya, dia pun mendorong lembut Vanya masuk ke dalam mobil diikuti dirinya. Louis menyebutkan alamat rumah Vanya pada supir taksi tersebut.
__ADS_1
Selama perjalanan,berulang kali Louis mencoba menyadarkan dirinya. Minuman beralkohol yang diminumnya tadi memiliki kadar alkohol yang tinggi dan membuat Louis sangat kewalahan sekarang. Dan sepanjang perjalanan itu juga berulang kali Vanya berperilaku aneh. Louis hanya bisa menggelengkan kepalanya,dia mengerti sifat Vanya sekarang hanyalah efek dari minuman yang diminumnya itu, dan hal itu membuat Louis tersenyum karena melihat sisi lain dari seorang Vanya yang dingin dan pendiam.
Sesampai di rumah Vanya,Louis mencoba memapah Vanya untuk masuk ke dalam rumah walau dirinya juga hampir mulai kesusahan.
"Vanya..berikan aku kuncimu" sahut Louis.
Vanya menggerakkan jari telunjuk kanannya "mama bilang tidak boleh sembarangan kasih kunci rumah ke orang lain.."
"Aku bukan orang lain.. berikan sekarang atau kita berdua akan tidur diluar rumahmu? Aku hampir di ambang batas" sahut Louis.
Vanya menatap Louis sambil memicingkan mata "ah...kamu ganteng sekali,anak muda.." sahutnya sambil tersenyum lalu meraba isi tasnya "karena kamu ganteng..aku akan memberimu hadiah.." sahutnya sambil menyodorkan kunci rumahnya.
Tanpa basa basi,Louis bergegas membuka pintu rumah Vanya. Dia memapah Vanya ke dalam kamar tidurnya dan membaringkannya. Louis mulai sempoyongan,jika saja bukan karena wanita yang didepannya sekarang.. sejak tadi Louis sudah menyerah.
Tiba-tiba Vanya duduk "akhhh..panas sekali!!!" pekiknya lalu membuka baju luarnya.
Louis menghidupkan pendingin ruangan di kamar Vanya, "istirahatlah..aku akan pulang sekar..." Louis memegang kepalanya yang berputar hebat.
Vanya menarik Louis hingga terjatuh dan berbaring di tempat tidurnya yang besar "jangan pergi.." lirih Vanya "jangan meninggalkanku.."
"Lepaskan aku,Vanya.." sahut Louis yang mulai tidak bisa mengontrol dirinya.
Vanya memeluk Louis dengan erat, "tidak mau.. aku..aku tidak mau sendirian..." lirih Vanya kembali.
"Va...Vanya..." Vanya menghentikan ucapan Louis dengan mengecup bibir Louis.
"Maafkan aku karena berbohong padamu.. pakaian itu milik ayahku dulu..aku bahkan tidak memiliki teman pria..bagaimana mungkin aku memiliki pacar.." bisik Vanya sambil menutup kedua matanya,dia bahkan tidak menyadari apa yang baru saja dia katakan.
Louis mengelus lembut wajah Vanya, "dasar bodoh.." bisiknya lalu tidak sadarkan diri.
__ADS_1