Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : jangan menolak ku


__ADS_3

Lidya,Luckas dan Louis tertawa hampir bersamaan, sedangkan Vanya menundukkan kepalanya menahan malu.


"Tidak perlu merasa malu atau bersalah,Vanya.. Saya telah tahu jika semua hanya salah paham kog.. Louis hanya ingin menggodamu" sahut Lidya menenangkan Vanya.


Louis tertawa lalu diam-diam menggenggam tangan Vanya di bawah meja, Vanya menepis tangan Louis. Dia kesal pada Louis yang telah membuatnya malu. Namun,Louis kembali menggenggam tangan Vanya sambil tersenyum menatap wajah Vanya yang masih merona.


Lidya dan Luckas tersenyum menatap mereka, "oh ya.. kami telah memesan perabot dari China dan.." Lidya menyodorkan berkas dari beberapa perusahaan pelayanan ekspedisi yang mengirimkan proposal "ini beberapa ekspedisi.. coba kamu periksa dan pertimbangkan ekspedisi yang tepat".


Berita tentang hotel Ryans yang tengah mencari ekspedisi pengiriman telah terdengar oleh beberapa perusahaan ekspedisi, dan tentunya mereka bersaing untuk bisa terpilih menjadi ekspedisi mereka. Bahkan mereka tahu jika pihak hotel Ryans pasti memerlukan banyak trip pengiriman untuk furniture yang ukuran besar. Beberapa diantara mereka bahkan memberikan penawaran harga yang gila-gilaan, salah satunya Lee's ship.


Louis mempelajari berkas-berkas tersebut, dan saat dia melihat nama perusahaan Lee's Ship, Louis terdiam. Vanya melirik Louis yang tiba-tiba saja berubah muram.


"Ada apa?" tanya Vanya. Diam-diam dia melirik berkas yang ada di tangan Louis.


Louis menatap Vanya sambil menutup berkas yang di tangannya lalu tersenyum, "tidak.."


"Apakah aku boleh memberi saran?" sahut Vanya sambil menatap Luckas dan Lidya


"tentu..tentu saja" jawab Lidya.


"Aku telah bekerja lama di bidang ekspedisi.. Dan memang.. salah satu perusahaan ekspedisi yang terbaik adalah Lee's Ship.." sahut Vanya.


Louis terdiam.


"Sebab hanya mereka yang memiliki cabang tersendiri di Beijing,berbeda dengan perusahaan ekspedisi lainnya.." lanjut Vanya.


"Karena itu kami menyerahkannya padamu Louis.. Aku percaya apapun keputusanmu,pasti yang terbaik untuk hotel kita yang di sini" sahut Luckas.


"Apakah hanya mereka?" gumam Louis.


Vanya tersenyum menatap Louis, "kamu bisa mempertimbangkannya dengan profesional tanpa memakai emosimu,Louis.."


"Vanya benar,Louis.. Dan jika bisa,jangan terlalu lama..kita harus mempertimbangkan waktu perkiraan sampainya barang di Bali" sahut Lidya.


"Baiklah.. sepertinya cukup untuk hari ini.. Aku dan Lidya masih ingin berjalan-jalan di sekitaran terlebih dahulu.. Bagaimana dengan kalian?" tanya Luckas.


Louis menatap Vanya yang tengah menyeruput tehnya, "aku.. akan tetap bersama Vanya.. Sepertinya masih banyak yang masih harus kami bicarakan,bukankah begitu,Miss Rose???" tanya Louis sambil menatap Vanya dengan dalam.


"A..aku.. tidak..tidak a--"


"Ada!! Banyak yang harus kami bicarakan!" potong Louis.


Lidya dan Luckas tertawa kecil melihat sejoli itu,akhirnya mereka memilih meninggalkan mereka. Bukankah mereka juga pernah berada di posisi mereka, dan mereka yakin jika memang akan banyak yang harus mereka berdua bicarakan.



Louis memaksa Vanya untuk membawanya ke tempat tinggal Vanya selama di Bali ini. Rumah kontrakan mini Vanya terlihat tertata rapi. Louis menatap sekeliling rumah itu dan mengingatkannya akan rumah Vanya di New York.

__ADS_1



Vanya keluar mengeluarkan sekaleng bir pada Louis, "tidak ada minuman yang spesial di rumah ini.. Jadi,minumlah itu.."



Louis menatap Vanya dan bir yang ada di tangannya, "kamu sengaja?"



Vanya mengerutkan keningnya, "apa maksudmu?"



"Bukankah kamu tahu aku tidak bisa mentolerir alkohol?. Atau kamu sengaja supaya aku tidur di sini?" goda Louis dengan wajah yang nakal.



Wajah Vanya memerah karena godaan Louis, "Te..tentu aku tidak lupa!!! ini tidak mengandung alkohol!!" sahut Vanya sambil meletakkannya di meja dan berbalik untuk kembali ke dapur.



Tapi, Vanya merasakan tangannya di tarik dan membuatnya terduduk di atas pangkuan Louis.



"A..apa yang kamu lakukan?" seru Vanya.




"Hentikan.." sahut Vanya dengan suara yang hampir seperti bisikan.



"Tidak akan pernah.."



"Louis" lirih Vanya.



"Menikahlah denganku"


__ADS_1


Kalimat yang sontak membuat Vanya menatap Louis langsung, "Louis.."



"Kamu tidak mencintaiku?"



"A..aku mencintaimu tapi.."



"Tapi apa?" potong Louis.



"Apakah kamu yakin?"



"Yakin akan apa?" tanya Louis.



"A..aku tidak sempurna.."



"Keberadaanku akan menyempurnakanmu.." sahut Louis yang langsung membuat Vanya kembali tersipu.



"Aku bahkan pernah meninggalkanmu.."



"Maka itu akan menjadi suatu pelajaran bagiku untuk lebih mencintaimu dan lebih menyanyangimu!" jawab Louis.



"Louis.."



Louis langsung menghujankan ciuman dalam pada bibir Vanya, "jangan menolakku lagi,Vanya.. sebab aku tidak akan membiarkanmu pergi dari hadapanku sampai selamanya" bisik Louis sambil kembali mencium bibir Vanya, begitu dalam..begitu lembut hingga Vanya hanya bisa pasrah menerima perlakuan dan ciuman lembut dari pria yang ada dihadapannya ini.


__ADS_1


Jantung Vanya berdebar kencang bagaikan remaja yang baru saja jatuh cinta pada kekasihnya.



__ADS_2