
Lidya mengangguk, lalu menatap Vanya yang terlihat gugup. Lidya menggenggam tangan Vanya, "Vanya.. ada yang ingin aku tanyakan padamu.."
"Ada apa,Lidya? Kamu terlihat serius"
"Kamu.. apakah sungguh-sungguh mencintai Louis?" tanya Lidya.
Vanya menunduk,wajahnya terlihat merona.. perlahan dia mengangguk pelan. Lidya bernafas lega setelah melihat jawaban dari Vanya.
"Terima kasih,Vanya.." sahut Lidya.
Vanya menatap Lidya dengan bingung, "terima kasih?"
Lidya tersenyum, "terima kasih karena telah mencintai Louis.. terima kasih karena telah bertahan dengan apa yang telah menimpa kalian"
Vanya tersipu, "a...aku"
"Louis biasanya memang terlihat seperti kekanak-kanakan.. tapi, aku bisa melihat dia sangat serius denganmu.." sahut Lidya "hanya saat bersamamu atau membicarakan tentangmu.. dia terlihat berbeda"
"Benarkah?"
Lidya mengangguk, "kamu mungkin tidak menyadarinya.. tapi aku..kakaknya sangat menyadari hal itu"
Vanya kembali menunduk, terdiam dan tersipu.
"Vanya.. aku sangat berharap kalian berdua dapat bahagia.. dan jangan lupa..." sahut Lidya.
Vanya melirik Lidya, "jangan lupa?"
Lidya tersenyum, "jangan lupa.." Lidya mendekati telinga kanan Vanya, "memberiku keponakan yang imut dan lucu secepatnya!" bisiknya.
Wajah Vanya seketika layaknya kepiting rebus, hal itu membuat Lidya tertawa keras.
Malam harinya,
Lidya tersenyum menatap Vanya yang telah siap dengan gaun hitam panjang yang dia pinjamkan untuk Vanya. Vanya menatap bayangan dirinya di dalam cermin sambil berusaha menarik gaun bagian dadanya. Gaun berwarna hitam kilat dengan belahan V besar di bagian dada.. dan Vanya merasa risih akan belahan yang baginya terlalu turun.
"Apakah ini tidak berlebihan?" tanya Vanya "jika memang hanya sekedar acara makan malam biasa,bukankah memakai kaos dan celana saja sudah bisa,Lidya?"
"Tentu! Tapi.. tempat makan malam kita nantinya merupakan restoran mewah dan formal.. sangat tidak mungkin kita hanya memakai celana jeans dengan kaos oblong biasa,sayang.." sahut Lidya sambil merapikan rambut Vanya "kamu terlihat menakjubkan" lanjutnya.
__ADS_1
Vanya tersenyum kecut, "bagaimana denganmu? Mengapa kamu belum bersiap,Lidya?" tanya Vanya yang melihat Lidya masih memakai baju kaos dan celana pendek.
"Setelah ini,Vanya.. Aku harus mengurus kedua anakku sebelum aku memakai baju sepertimu.. sangat tidak mungkin aku mengurus mereka dengan baju gaun" sahut Lidya "ahh.. kamu akan mengerti ucapanku saat kamu punya anak nanti".
Vanya tertawa, "bagaimana jika aku membantumu?"
"Hah?? Tidak! Tidak perlu!! Maksudku.. dengan gaun seperti ini,kamu bersiap untuk mengurus mereka?? aku yakin kamu akan menyesali ucapanmu nanti"
Vanya kembali tertawa.
"Baiklah.. aku akan kembali mengurus mereka terlebih dahulu.." sahut Lidya diiringi anggukan kepala Vanya.
Lidya kembali masuk ke ruangan Vanya dengan masih pakaian yang sama, "Vanya.." sahut Lidya dengan wajah muram.
"Ada apa,Lidya? Apa ada masalah?"
"Sepertinya kamu harus pergi terlebih dahulu.. Louis telah menantimu di sana bersama Luckas"
"Mengapa aku harus pergi terlebih dahulu?" tanya Vanya.
"Desya.. dia tiba-tiba tidak enak badan.. Dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
__ADS_1
"Ya ampun.. aku akan menemuinya.." sahut Vanya namun Lidya menahannya.
"Dia tengah beristirahat di kamarnya,Vanya.. Dan kamu akan terlambat.. Edward akan mengantarmu dan dia telah menunggumu dibawah" sahut Lidya.
"Ta..tapi bagaimana denganmu?"
Lidya tersenyum, "aku tentu akan menyusulmu... Setelah aku memastikan Desya tidak apa-apa, aku akan segera menyusulmu" jelas Lidya. Dia menatap Vanya yang terlihat muram, perlahan dia mendekatinya "tenanglah,Vanya.. aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk di traktir Louis.."
Vanya tertawa lalu mengangguk "baiklah.. tapi berjanjilah kamu akan menyusul kami nanti"
Lidya mengangguk "pergilah.."
Sesampai di restoran,
Vanya diantarkan ke dalam sebuah ruangan VVIP, ruangan khusus yang hanya berisikan sebuah meja panjang dengan beberapa kursi di dalamnya. Meja panjang yang dialasi kain putih dan terlihat sebuah vas yang berisi sebelas kuntum bunga mawar merah di tengah meja.
Pelayan tersebut mengantarkan Vanya masuk ke dalam ruangan yang kosong lalu menarik sebuah kursi untuk Vanya.
Vanya menatap sekeliling dengan bingung, "permisi.. bukankah ada orang lain yang telah sampai?"
Pelayan tersebut tersenyum, "sir Louis mengatakan jika beliau akan sedikit terlambat dan beliau menyuruh kami untuk melayani anda terlebih dahulu.. silakan duduk,Miss".
Perlahan Vanya duduk dengan canggung, setelah ditinggal oleh pelayan tersebut. Suasana ruangan itu seketika menjadi sunyi dan dingin. Vanya mengelus kedua lengannya, "mengapa harus berpakaian seperti ini jika makan malamnya berada dalam ruangan tersendiri" bisik Vanya kesal.
Tok..tok..tok
Suara ketukan pintu membuat Vanya menoleh, terlihat tiga orang pria masuk ke dalam ruangan dengan alat musik ditangan mereka, dari biola,saksofon bahkan gitar. Vanya menatap mereka dengan bingung, ditambah seorang pelayan yang meletakkan semangkuk sup hangat diatas meja.
"Se..sebentar.. Temanku yang lain bahkan belum datang.. mengapa kalian telah menyuruh mereka bermain musik?" tanya Vanya pada pelayan itu dengan bingung.
"Mereka hanya bermain sesuai dengan waktu yang telah di janjikan pada mereka sebelumnya,Miss.." sahut pelayan tersebut sambil tersenyum, "dan sup hangat ini khusus untuk menghangatkan anda terlebih dahulu,Miss.. Silakan menikmati" sahutnya lalu beranjak pergi meninggalkan Vanya.
Vanya menatap ketiganya dengan canggung, dia tersenyum lalu meraih ponselnya dan mencari nama Louis di kontak ponselnya.
__ADS_1