
She's so out of reach, and I'm finding it hard
'Cause she makes me feel, makes me feel,
Like I try, like I try, like I'm trying too hard,
'Cause I'm not being me, and it's getting me down
That she makes me think, makes me think,
That I try, that I try, that I'm trying too hard again
'Cause I'm trying too hard again
•5 seconds of summer•
Tiga hari kemudian,
New York,
Edward menyadari perubahan pada diri bosnya. Luckas terlihat lebih terpuruk di bandingkan tiga tahun lalu.
"sir..bagaimana jika anda istirahat selama beberapa hari?" tanya Edward yang cemas akan kondisi Luckas yang setiap harinya hanya di habiskan dengan bekerja dan menyendiri,tidak jarang Edward mendapati Luckas terkadang menitikkan air matanya. Dan Edward bahkan tahu jika Luckas selalu pergi ke hotel DeParis setiap harinya jika saat dia senggang tanpa peduli jam berapapun itu,tidak ada yang di lakukan Luckas..hanya duduk di lobi dan terlihat seperti menunggu seseorang.
Luckas menggeleng "tidak apa-apa..saya baik-baik saja..terima kasih,Edward.."
Edward mengangguk "jika anda membutuhkan bantuan saya,katakan pada saya sir.."
Luckas mengangguk. Suara dering dari telepon genggamnya,menghentikan pembicaraan keduanya. Luckas menatap layar teleponnya dan mengangkatnya dengan cepat.
"Luckas.."
"saya sibuk,mom.."
Martha menghela nafas "tidakkah kamu penasaran dengan keadaan grandma?"
"grandma? apakah saya memiliki grandma?" sindir Luckas.
"Luckas.. sudah tiga hari ini grandma berbaring tidak sadarkan diri.." sahut Martha walau dia tahu jika Luckas sendiri juga sudah mengetahui kondisi neneknya.
__ADS_1
"dan?"
"apakah kamu tidak ingin ke sini, menjenguknya?"
"maaf,mom..aku sedang sibuk.." sahut Luckas sambil menutup teleponnya.
Luckas berubah,dia yang sekarang sangat dingin..bahkan terlalu dingin dan menutup diri.
Seperti biasanya,Luckas kembali ke hotel DeParis..duduk di salah satu sofa yang ada di lobi dan telah menjadi spot favoritnya. Tidak tahu mengapa,Luckas berasumsi jika suatu hari Lidya akan kembali ke hotel ini. Karenanya,Luckas selalu menunggunya di hotel tersebut.
Dari kejauhan, salah satu resepsionis hotel selalu menyadari kehadiran Luckas tiap harinya. Dia pun segera memberitahu Elena tentang hal itu, dia sendiri tidak mengerti alasan di balik kedatangan Luckas tiap harinya.
Elena memijit keningnya "hari ini dia datang lagi?" tanya Elena.
"benar,madam..dan seperti biasa..sir Luckas hanya duduk di tempat biasanya.."
"baiklah..saya mengerti" sahut Elena sambil menutup teleponnya.
"anda sungguh-sungguh keras kepala juga,sir Luckas Ryans.." gumam Elena. Sebenarnya Elena sangat tersentuh melihat kegigihan Luckas yang tetap ngotot menunggu menanti kehadiran Lidya.
Selang sepuluh menit,Elena memerintahkan stafnya untuk mengantar Luckas ke ruangannya.
Pagi ini,Lidya bangun terlalu cepat sehingga dia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumahnya walau cuaca yang sedang bersalju begitu dingin menusuk.
Suasana sekitar masih begitu sunyi,walau diselimuti salju namun Lidya begitu menikmati 'me time'nya sendiri. Dan lagi-lagi..dia teringat akan Luckas,matanya kembali berkaca-kaca. Lidya mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Sejak kembali ke Lexington,Lidya tidak mendapatkan telepon ataupun pesan dari Luckas. Hati Lidya kembali terasa sakit.
Dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya, dan langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya.. '*Luckas*?' lirihnya dalam hati.
Pria yang keluar dari mobil tersebut membuat Lidya sedikit kecewa namun juga merasa senang.. dia berlari mendekati pria tersebut.
"Darren!!" pekik Lidya.
Darren tersenyum lembut padanya.
"Bagaimana kamu bisa kesini?" tanya Lidya yang kebingungan. Lidya tahu jika Darren memberitahunya jika dia akan kembali ke New York sesaat setelah Darren terakhir bertemu dengan Lidya. Bahkan Lidya telah menyuruh Sheila mengatur kedatangan Darren dan juga kamar untuk Darren. Tapi..mengapa Darren malah bisa berada di Lexington?
__ADS_1
Darren tersenyum "Kamu curang,Lidya..kamu pergi tanpa memberitahuku.." sahut Darren sambil memeluk Lidya "aku merindukanmu"
Lidya tersenyum dan segera melepaskan diri dari Darren,dia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi "bukankah kamu ada urusan bisnis di New York?"
Darren mengangguk "tapi aku juga ada urusan dengan anda Miss Lidya Claresta"
Lidya mengerutkan keningnya kebingungan "denganku?"
"tentu saja.." Darren tertawa.
Lidya menatap Darren dengan lekat "jadi bagaimana anda tahu aku berada di sini?"
Darren mengangkat kedua bahunya "tentu dengan sedikit paksaan pada asistenmu itu,Lidya.. tapi jangan salahkan Sheila.. Aku bukan hanya sedikit memaksanya namun mengancamnya" sahut Darren sambil tertawa mengingat raut wajah Sheila yang memucat saat Darren mengancamnya akan melaporkan keteledorannya karena melupakan kedatangannya dan bahkan tidak menjemputnya dari bandara. Bahkan dia memaksa Sheila untuk memberikan alamat Lidya di Lexington.
"kamu mengancamnya?"
"tidak perlu kamu pikirkan,Lidya..aku tidak serius dengan ucapanku.."
Lidya tertawa dan menggelengkan kepalanya "tapi..aku serius Darren.. urusan apa denganku yang kamu katakan tadi? Apakah ada hal penting sehingga kamu menyusulku disini?"
Darren terdiam dan menatap Lidya dengan serius "Bagaimana jika aku serius dengan ucapanku tadi? Jika aku begitu merindukanmu.."
Lidya terkejut, tatapan dan ucapan Darren membuatnya membeku seketika.
author: loha~
happy banget baca komen kalian❤️
banyakan lebih suka roman komedi dan ada yg request ada bumbu bawang dikit biar greget🤣
amin!! sudah masuk dalam list author dan mudah2an next project tidak mengecewakan 😚
oh ya..author minta maaf kalau tidak bisa upload banyak2 sekaligus.. karena sangat minim waktu,tp aku akan tetap usahain nulis setiap ada waktu senggang walau hanya 5 menit (maklum ya..makmak uda punya bocil😭). Tetep pantengin novel2ku ya readers🙏
Big love buat kalian semua❤️
__ADS_1