
Rockabye don't bother cry
Lift up your head, lift it up to the sky, yo
Rockabye don't bother cry
Angels around you, just joy your eye
•Clean Bandit•
Steward kembali mengangguk pelan "aku tidak berbohong,madam.."
"Dan..madam melihat Lidya bersama pria lain,hingga membuat mereka bertengkar?" lanjut Martha.
Steward mengangguk.
"Apakah kalian salah lihat atau mungkin ada salah paham? atau mungkin pria yang kalian lihat adalah Louis?"
Steward terdiam "saya dan madam melihatnya,madam. Miss Lidya tengah berpelukan dengan pria lain,karena itu madam Dora menjadi marah"
"Mungkin itu adalah adiknya..Louis"
"yang kami dengar bukanlah nama tersebut,madam.." Steward terdiam,otaknya berpikir keras mencoba mengingat nama pria tersebut "sa.. saya lupa,madam..hanya saja yang saya yakin bukan nama Louis"
"baiklah..terima kasih,Steward. Kamu boleh pergi"
Steward mengangguk dan pergi meninggalkan Martha yang termenung seorang diri.
'*Tidak mungkin Lidya bermesraan dengan pria lain, dan lebih tidak mungkin jika Lidya memiliki kekasih lagi. Bukankah Luckas telah memberitahuku jika Lidya telah menerima lamarannya*?'
Martha menghela nafas,pikirannya sekarang bercampur aduk. Diatas semua itu,dia lebih pusing memikirkan Dora. Dora yang baru saja membukakan diri untuk Lidya,sekarang bertengkar kembali dengan Lidya..bahkan disaat mereka bertemu kembali untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Hotel Kingdom,
Seperti biasa.. Luckas tengah berada dalam dunianya, mengurus semua pekerjaannya yang berserakan diatas meja kerjanya. Suara bunyi teleponnya membuyarkan konsentrasinya seketika. Luckas meraih teleponnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo?!"
"Apakah kamu sedang sibuk?" tanya Martha dengan ragu.
"oh..mom?? ada apa,mom? maafkan aku..aku tidak melihat layar telepon karena aku sedang sibuk melihat berkasku" sahut Luckas.
"ohh..maafkan mom telah mengganggumu.." lirih Martha.
"jangan berkata seperti itu,mom..mom tidak pernah menggangguku.. ada apa mom meneleponku?"
"tidak..tidak ada apa-apa..mom hanya ingin menyapamu..oh ya..bagaimana hubunganmu dengan Lidya? kalian baik-baik saja,bukan?"
"tentu saja,mom!"
"Apakah kamu belum membicarakan tentang Dora padanya?"
Luckas terdiam "aku ragu untuk memberitahukannya. Kami baru saja memulai hubungan kami dan aku tidak ingin memperkeruhnya"
Giliran Martha yang terdiam "pikirkanlah grandma-mu,Luckas.. Setidaknya kamu cobalah memberitahu Lidya,belum tentu juga dia akan menolaknya seperti yang kamu bayangkan. Apapun itu keputusannya,setidaknya dia telah mengetahui niat baik Dora"
'Niat baik??' lirih Luckas dalam hati "baiklah..aku akan mencobanya" sahut Luckas.
Rumah Lidya,
Panggilan telepon Luckas sejak tadi sore hingga malam ini,tidak dihiraukannya. Dia membutuhkan waktu untuk sendiri..pikirannya sedang menerka alasan kedatangan Dora sore tadi. Kedatangan Dora sendiri saja sudah cukup menjadi sebuah kejutan baginya.
Louis mengintip dari balik pintu kamarnya, dia mendekati kakaknya yang tengah termenung seorang diri.
"kamu baik-baik saja?" tanya Louis.
Lidya memandang Louis dan mengangguk.
"kamu bertengkar dengan Luckas?"
Lidya kembali menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1
"Jika begitu,mengapa kamu tidak mengangkat teleponnya? Dia begitu mengkhawatirkanmu hingga meneleponku"
Lidya mengangkat kedua bahunya sambil menyeruput air hangatnya "aku..membutuhkan sedikit '*me time*'.. aku lelah hari ini" sahut Lidya '*bertemu dan bersitegang dengan Dora cukup menguras pikiranku*' lanjutnya dalam hati.
Louis ingin kata-katanya namun dia menahannya "fine..istirahatlah lebih cepat jika begitu. Tapi Lidya,setidaknya jawab telepon atau kirimlah pesan pada Luckas..supaya dia tidak terlalu khawatir padamu" sahutnya sambil kembali masuk kedalan kamarnya.
Lidya meraih handphonenya dan mengirim pesan pada Luckas.
"*Maaf,Luckas..aku agak lelah hari ini.. dan ingin beristirahat lebih awal*.."
Luckas yang baru saja ingin mengetuk pintu rumah Lidya, mengurungkan niatnya saat membaca pesan dari Lidya.. Luckas membalas pesan Lidya dan memilih pulang kembali.
"baiklah,*istirahatlah,sayang*.." balas Luckas.
Dua hari kemudian,
Hari minggu yang biasanya cerah,tapi tidak kali ini.. hujan turun begitu lebat tiba-tiba membasahi bumi. Lidya menatap keluar dari jendela rumahnya,hanya bisa menghela nafas. Hari minggu biasanya dia habiskan diluar rumah seharian bersama Ayles,tapi sepertinya dia harus mengurungkan niatnya. Lidya menoleh saat sepasang tangan kecil yang menarik celananya.
"Ayles sayang..sepertinya hari ini kita hanya bisa bermain di rumah saja.."
Wajah Ayles berubah menjadi sedih. Lidya memeluknya.
"hanya hari ini saja,sayang..mama akan memasak cookies kesukaanmu sebagai gantinya,kamu mau?"
Ayles mengangguk "Ailes mau yang cokat"
Lidya terkekeh "tentu saja,pangeran mama.. Ayles jangan nakal ya karena hari ini Ayles sama mama saja berdua.. Uncle Louis sedang dirumah temannya"
Ayles tersenyum "ciapa?"
"uncle Louis.."
"ceman...ciapa?"
"temannya uncle Louis"
"ciapa?"
Lidya terkekeh dan mencubit ringan pipi tembem anaknya "nanti kita tanya nama temannya uncle ya..mama mau buatin cookies dulu buat Ayles.. Ayles bisakan main-main sebentar sendirian?" tanya Lidya sambil menyodorkan mainannya.
Melihat mainannya,Ayles langsung disibukkan dengan semua mainan-mainannya.
__ADS_1