
I'm friends with the monster that's under my bed
Get along with the voices inside of my head
You're tryin' to save me, stop holding your breath
And you think I'm crazy, yeah, you think I'm crazy
•Eminem•
#######
Hari ini Martha berulang kali dikejutkan oleh Luckas dan Lidya, dimulai dari Lidya yang tiba-tiba menghilang, terluka dan sekarang...hamil???
Melihat Martha yang terdiam tanpa ekspresi, Luckas membisu dan menundukkan kepalanya. Luckas sangat gembira akan kabar ini,tapi Luckas tidak tahu bagaimana dengan reaksi keluarganya terutama ibunya. Dia hanya membisu tanpa berani menatap ibunya layaknya anak kecil yang telah ketahuan mencuri permen.
"A..pa... apa itu berarti aku akan segera menjadi nenek?" tanya Martha, suaranya terdengar tenang. Saat Luckas melirik Martha,dia terkejut mendapati Martha yang tengah menangis "apakah itu benar,Luckas??"
Luckas mengangguk "aku juga baru tahu dari dokter,mom.. apakah mom sedih akan hal ini?"
Martha menghapus air matanya "apa yang kamu katakan??!!! Mom sangat bahagia,sayang!!"
"tapi mengapa mom menangis?"
"Because I'm happy,dear... Mom tidak menyangka akan segera menimang cucu.." ucap Martha sambil menoleh menatap dan mengelus lembut perut Lidya yang masih belum terlihat "Oh Lidya sayang.. terima kasih telah memberi mom hadiah yang begitu istimewa ini..Mom tidak menyangka akan menjadi seorang nenek..segera menjadi seorang nenek"
"tapi..sepertinya Lidya sendiri belum mengetahuinya" sahut Luckas sambil tersenyum menatap ibunya yang terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
"Dia harus tahu. Setelah dia bangun,beritahu dia segera,Luckas. Dia akan sangat bahagia!! Dan mom akan memaksa ayahmu melangsungkan pernikahan kalian.. masa bodoh dengan nenekmu!!" sahut Martha.
Luckas terkekeh mendengar ucapan ibunya,dia mendekati Martha "dan sekarang..kita tinggal menanti Lidya sadar.."
###########
saat yang sama di hotel Hilton,
Freya masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu hotelnya,dia duduk disamping tempat tidurnya dan menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Sekujur tubuhnya gemetar hebat, dirinya di limuti perasaan takut yang sangat hebat.
Suara ketukan pintu membuatnya semakin gemetar dan semakin membenamkan dirinya dalam selimut, dia tidak berani menjawab ataupun membuka pintunya.
"Freya..kamu didalam?? Ini mama" sahut Eva dari balik pintu. Dia sangat kelabakan saat mengetahui Freya menghilang dan mencarinya kemana-mana,ditambah nomor telepon Freya yang tidak aktif membuatnya semakin gelisah. Sampai dia akhirnya mencoba kembali ke hotel dengan berharap jika Freya telah kembali terlebih dahulu.
Salah satu cleaning service terlihat baru saja membersihkan kamar sebelah,melirik Eva dengan mata yang sedikit ketakutan. Eva mendekatinya "apakah anda melihat seorang gadis masuk kedalam kamar ini?" tanya Eva pada wanita yang terlihat telah berkepala lima tersebut.
Eva menyadari ada yang disembunyikan darinya "aku mohon,Madam. Gadis tersebut adalah anak semata wayangku,dan dia sedang terpuruk karena kejadian yang menimpanya.."
Wanita tersebut menjawab dengan nada ketakutan, "apakah anak anda sendirian di kamar itu?".
Eva mengangguk "apakah dia bersama orang lain?"
"sebaiknya anda segera masuk kedalam,Madam. Anak anda tadi terlihat sedikit berantakan..dan ada..." wanita tersebut terdiam.
"ada apa?"
"terlihat ada bercak darah di baju dan tangannya.. semoga saja saya hanya salah lihat,Madam" jawab wanita tersebut dengan perlahan.
__ADS_1
Eva terkejut mendengar perkataan wanita itu,keringat dingin mulai mengalir di tubuhnya "apakah ada yang mengetahui hal itu?"
"sepertinya tidak,Madam. Karena ini juga hampir tengah malam jadi hotel mulai sunyi.."
Eva mengeluarkan beberapa lembar dollar dari tasnya "ambil ini,dan saya harap jika apa yang kamu lihat hanya menjadi rahasia kita saja"
Melihat uang yang disodorkan Eva, wanita tersebut menerimanya dengan senang hati dan mengangguk "anda dapat mempercayaiku,madam.. terima kasih" ucapnya. Uang yang di sodorkan Eva hampir senilai gaji setahunnya selama bekerja sebagai cleaning service.
Eva kembali di pintu kamar hotel Freya dan kembali mengetuk pintu "Freya..ini mama..mama mohon bukalah pintumu..apakah kamu terluka,sayang? jangan membuat mama khawatir..biarkan mama melihatmu.."
klik.. pintu kamar perlahan terbuka,Eva bergegas masuk kedalam kamar dan segera mengunci pintu kamarnya. Nafasnya tercekat saat melihat kondisi putri semata wayangnya.. Freya terlihat lebih berantakan dari sebelumnya. Rambutnya acak-acakan dengan potongan yang tidak jelas, ada sedikit lebam di wajahnya dan.. darah di baju dan tangannya.
"a..ada..apa denganmu???!!! Siapa yang melakukan ini padamu??!!" pekik Eva, tidak ada lagi sosok putri yang anggun di depannya..hanyalah sosok putri yang hampir terlihat seperti gelandangan "dan..dar..darah?? kamu terluka??" Eva memelankan suaranya,dia memeriksa tangan anaknya,mencoba mencari bagian tubuh anaknya yang terluka.
Freya menepis tangan ibunya, Freya menggigit kuku ibu jari kanannya tanpa memperdulikan ada bekas darah di tangannya. Eva meneteskan air matanya melihat putrinya, dia ingin mengutuk dirinya sendiri atas apa yang menimpa putrinya hingga berubah seperti ini "Freya.." lirih Eva.
"ma.." suara Freya terdengar begitu pelan "se..sepertinya.. aku telah membunuh seseorang.."
Eva membeku "a..apa maksudmu?!!"
Freya terdiam dan menatap tangannya yang masih penuh bekas darah "a..aku..melihat Luckas dan Lidya sedang berduaan..ak..aku benci..aku menusuknya.. tapi aku tidak sadar,ma.." ucap Freya sambil menangis.
"apa maksudmu,Freya??!!!! siapa yang kamu tusuk?"
"aku..aku benci mereka,ma.. sangat benci.." tiba-tiba Freya tertawa "Lidya..Lidya mati..hahahaha"
Tubuh Eva bergetar hebat,tangannya bersusah payah menggapai telepon genggamnya. Dia mencoba mencari nomor suaminya,dia membutuhkannya sekarang, kondisi Freya semakin membuatnya takut dan sekarang..dia membunuh??
__ADS_1