Hotel Prince

Hotel Prince
New Face


__ADS_3

Person, a new person


My heart flutters so much, I'm getting dizzy


Encounter, a new encounter


My heart flutters so much, I'm going crazy


•Psy•



Beberapa hari yang lalu,Darren menghubungi Lidya langsung dan Darren memberitahu Lidya mengenai jadwalnya yang akan ke New York,dan mengatakan akan menginap di hotel DeParis. Darren meminta Lidya membantunya menyiapkan sebuah mobil dan supir untuknya,karena asistennya sedang cuti untuk menemani istrinya yang akan melahirkan sebentar lagi.



Darren juga meminta pada Lidya supaya tidak terlambat,karena jadwalnya yang sangat padat saat tiba di New York dan dia sangat tidak suka jika harus terlambat. Lidya tentu tidak keberatan akan hal itu dan dengan yakin menyanggupi semua permintaan Darren. Jauh hari sebelumnya,Lidya dengan segera mengurus semua persiapan yang di minta oleh Darren dan meminta Sheila memastikan semuanya tanpa ada kendala, karena Lidya tahu..Darren sangat konsisten dengan segala hal.



"Ada apa dengan Darren?" tanya Lidya.



Sheila sedikit menunduk "Mobil dan supir yang sebelumnya di persiapkan untuk sir Darren White,tengah terjebak kemacetan saat menjemput tamu dari bandara juga"



"Bukankah saya sudah mengatakan,setidaknya menyisihkan satu mobil dan supir khusus untuk sir Darren?" suara tegas Lidya membuat Sheila sedikit ketakutan.



"ka...karena hari ini banyak tamu yang datang dan request jemput,madam. Dan saya memprediksi waktu jemput dan tiba mereka,masih sempat untuk segera menjemput sir Darren. Sebab,semua mobil kita hampir tidak cukup untuk memenuhi request penjemputan" jelas Sheila dengan gemetar.



Lidya memijit keningnya "tidak ada mobil dan supir yang kosong?"

__ADS_1



"se..semua sedang terjebak macet,madam.." sahut Sheila.



Lidya menatap kearah jendela,terlihat salju putih yang mulai turun menyelimuti kota New York "dan sekarang salju mulai turun.." sahut Lidya pelan.



Sheila mengangguk pelan.



"Berapa jam lagi sir Darren tiba?"



"Satu jam lagi,madam.."




"mam..anda-"



"benar! aku sendiri akan menjemputnya! Dan segala urusan hotel, tolong kamu handle terlebih dahulu,Sheila.. Seharusnya aku sudah bisa mempercayaimu bukan?" tanya Lidya dengan intonasi yang menekan.



Sheila mengangguk cepat "tentu saja!! anda bisa mempercayaiku,madam!"



Lidya tersenyum "baiklah!! dan jika tidak ada urusan yang sangat penting,jangan menghubungiku!!". Lidya tidak ingin dirinya mengganggu Darren dengan harus menerima berbagai telepon yang tidak terlalu penting.

__ADS_1



"Baik,mam!!"



Suasana kota New York sangatlah ramai,ditambah salju yang turun menambah kemacetan dimana-mana. Lidya gelisah saat melirik jam tangannya yang menunjukkan jika hampir satu jam dia berkutat di jalanan.


Satu jam lewat sepuluh menit,akhirnya Lidya tiba di bandara. Sesampai di bandara,Lidya mendapatkan informasi jika pesawat yang ditumpangi Darren mengalami delay saat keberangkatan,dan diprediksi akan tiba di New York dua puluh menit lagi..Lidya pun bernafas lega.


Dua puluh menit kemudian, terdengar pesawat yang ditumpangi Darren telah tiba. Selang beberapa menit kemudian,para penumpang mulai terlihat keluar satu persatu. Lidya melirik satu persatu penumpang yang keluar hingga akhirnya dia tersenyum saat melihat sesosok laki-laki tinggi yang memakai baju sweater putih dan celana jeans di tambah mantel panjang yang berwarna coklat gelap.


Ibu Darren yang berasal dari Korea merupakan seorang model terkenal, dia bertemu dengan suaminya yang berasal dari Inggris saat di salah satu acara di London, keduanya yang jatuh cinta satu sama lain dan akhirnya menikah. Dan setelahnya ibu Darren memilih vakum dari dunia modeling untuk lebih fokus dengan kelurganya.


Darah blesteran yang didapat Darren dari kedua orang tuanya, membuat Darren mendapatkan wajah yang menawan dan tubuh yang tinggi layaknya model. Beberapa kali Darren mendapatkan tawaran menjadi model,namun ditolaknya..dia lebih berminat di dunia bisnis seperti ayahnya.


Darren tipe yang sangat workaholic,sehingga membuatnya begitu cepat mendapatkan kesuksesannya di dunia bisnis tapi tidak di dunia percintaannya. Sampai sekarang,Darren masih single dan belum mendapatkan wanita yang cocok menurutnya.


Lidya melambaikan tangannya pada Darren, Darren yang dari tadi melihat sekeliling mencari supir yang ditugaskan Lidya sampai akhirnya pencariannya berhenti pada seorang wanita yang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Wanita yang sekarang terlihat lebih menakjubkan dibandingkan terakhir kali mereka bertemu.


Darren berjalan dengan cepat mendekati Lidya dan memeluknya "Lidya!!! kamu terlihat berbeda sekarang!!! Bahkan aku hampir tidak mengenalimu!!" pekik Darren dengan nada britishnya.


Lidya membalas pelukannya dan tertawa "aku masih sama seperti dulu,Darren!! Tidak ada yang berubah denganku.." ucap Lidya.


Darren melepaskan pelukannya "tidak..tidak..kamu semakin cantik!! yeppo!!"


Lidya menatap Darren dengan bingung "yeppo?"


Darren tertawa "it's mean beautiful,lady"


Lidya tersipu "aku tidak yeppo,Darren..but..thank you lah" sahutnya sambil tertawa, Lidya menarik koper yang ada di tangan Darren "apakah hanya ini bawaan anda,Sir Darren White?"


"oh ya..apa yang terjadi? Bukankah kamu mengatur supir untukku?" tanya Darren yang baru menyadarinya.


"khusus untuk tamu spesial..manager hotel terpaksa turun tangan langsung menjadi supir anda,sir.." sahut Lidya.


Darren tersenyum lebar "sungguh suatu kehormatan bagi saya,Miss Lidya".

__ADS_1


Membayangkan seharian bersama Lidya membuat Darren menjadi bersemangat.



__ADS_2