
"tapi..dia memang cantik!" tukas Gina.
Pretina melirik Lidya yang membeku,diam-diam dia merasa jika Lidya memiliki hubungan dengan Luckas. Tapi dia tidak berani mengungkapkannya terutama pada Gina.
"kamu baik-baik saja,Lidya?" tanya Pretina
"ah..oh..yes..I'm fine.. aku hanya sedikit kecapekan" balas Lidya berusaha tersenyum "hey..sepertinya aku akan ke pantry sebentar, kalian ingin kopi?"
"Aku tidak..sedang diet" sahut Gina
"aku akan ikut ke pantry juga.." sahut Pretina "aku ingin merenggangkan badan sebentar"
Lidya mengangguk dan berjalan ke pantry bersama Pretina. Pantry yang berukuran kecil itu tapi sangatlah nyaman, ada sofa kecil dan meja makan ukuran kecil dan makanan ringan juga minuman instan tersedia. Lidya mengambil dua gelas dari rak atas dan mengisi dengan kopi instan digelas kosong miliknya "how about you Pretina? tea or coffee?"
"coffee,please"
Lidya mengacungkan jempol pada Pretina yang terkekeh. Selesai membuat dua gelas kopi yang membuat seisi ruangan penuh dengan wangi kopi,mereka berdua duduk di sofa kecil berwarna coklat sambil menikmati kopi hangat di tangan mereka.
"Lidya"
"hm?"
"can I ask you something?"
"tentu saja"
Pretina berbicara pelan seakan berbisik,dia tidak ingin orang lain tiba-tiba masuk dan mendengar percakapan mereka "apa hubunganmu dengan bos?"
Lidya hampir menyemburkan kopi yang ada di mulutnya "a..apa maksudmu?"
Pretina tersenyum "hey kitty.. aku bisa merasakannya..aku tahu kalian ada 'sesuatu', awalnya aku tidak mau memikirkannya, 'cause thats your privacy. Tapi,sejak berita mengenai pertunangannya..aku khawatir tentangmu"
Mata Lidya mulai merah,dia terharu dengan ucapan Pretina yang begitu perhatian padanya. Diapun memeluk Pretina. Pretina mengelus punggung Lidya perlahan.
"jika kamu butuh teman cerita,ceritalah padaku. Bukankah kita sahabat?" ucap Pretina pelan.
__ADS_1
Air mata Lidya mengalir "thank you,Pretina"
Pretina melepaskan pelukan Lidya dan menatap Lidya dengan serius "okay..apa kamu memang ada hubungan dengan bos?" bisiknya.
Lidya mengangguk.
"Lidya..mmm..apakah hubungan kalian serius? atau..maaf..atau kamu hanya jadi mainannya saja?"
Lidya menggeleng "kami serius,Pretina. Sejak awal dia mengejarku..awalnya aku menolaknya. Tapi ketulusannya membuatku akhirnya jatuh cinta padanya. Aku jatuh terlalu dalam,Pretina"
"ja..jadi..bagaimana dengan pertunangan ini?"
"ini hanya ide sepihak dari nenek Luckas"
Pretina terkejut "bagaimana dengan bos?"
"Dia tengah berusaha membatalkan pertunangan ini. Bahkan dia diancam ayahnya untuk memilihku atau keluarganya"
Pretina semakin terkejut,dia tidak menyangka hubungan mereka berdua sudah begitu dalam.
Pretina memeluk sahabatnya itu "ya ampun Lidya.. Kamu sungguh beruntung!!" dia kembali tidak menyangka bos dinginnya itu bisa begitu romantis dalam mencintai seorang wanita dan wanita itu adalah sahabatnya sendiri.
"apa maksudmu 'beruntung'mu ,Pretina..aku capek dengan pertarungan ini" ucap Lidya
Pretina tertawa "aku akan menemanimu 'berperang'!!!!!"
Tawa mereka mengisi seluruh isi pantry.
##########
disisi lain,
Freya sengaja memilih menginap di hotel Ryans,dia memiliki alasan dibalik pilihannya itu. Rainy sendiri langsung mengurus keperluan Freya. Freya tentu meminta kamar terbaik yang ada di hotel Ryans. Setiba di kamarnya,Freya duduk di sofa besar berwarna putih itu "aku ingin memilih salah satu karyawan kalian untuk melayani keperluanku" sahutnya lembut penuh feminim kepada Rainy.
"dengan senang hati..apakah perlu saya memanggil salah satu karyawan kami?" tawar Rainy, dia tahu kedatangan perdana Freya di hotel..sangat tidak mungkin jika dia memiliki karyawan favorit di sini.
__ADS_1
"no..no.." balas Freya sambil menggerakkan jari telunjuknya "Aku ingin Lidya.. Lidya Claresta!"
"Lidya? tapi dia masih termasuk staf baru,bagaimana jika saya ganti dengan staf yang lebih berpengalaman?" tawa Rainy, dia tidak ingin Lidya mengacaukan segalanya. Melayani Freya sama artinya melayani Luckas, dan Rainy tidak ingin Lidya menjadi penghambat dalam karirnya. Sedikit kesalahan saja maka karirnya akan menjadi taruhannya,setidaknya itu yang dipikirkan Rainy.
Freya menggeleng sambil menyilangkan kedua tangannya "tidak! hanya dia!"
Rainy akhirnya mengalah,apa yang bisa dia paksa jika memang itu keinginan Freya "baiklah,Miss Green. Saya akan mengaturnya segera"
#########
Rainy mendapat info jika Lidya sedang berada di pantry, tanpa mengulur waktu..Rainy segera menuju pantry "santai sekali kalian berdua" hadrik Rainy
Pretina dan Lidya lekas bangkit berdiri "Kami baru saja duduk,Miss Rainy" tukas Pretina.
"Whatever..dan Lidya.. Kamu di cari oleh Miss Green" balas Rainy
Mata Lidya membesar begitu mendengar perkataan Rainy "sorry..Beliau mencari saya?"
"lebih tepatnya dia menginginkanmu!" sahut Rainy sambil menuang secangkir air putih.
Pretina memegang tangan Lidya diam-diam "Miss Rainy..bagaimana jika aku yang menggantikan Lidya? Lidya sudah terlalu banyak menghandle tamu dalam tiga hari ini"
Rainy menggeleng "aku juga tidak ingin Lidya. Tapi dia bersikeras menginginkannya.." Rainy meletakkan gelas kosong diatas meja "apakah kalian saling mengenal,Lidya?"
Wajah Lidya terlihat pucat "itu..sangat tidak mungkin"
"apapun itu.. hanya kamu yang dia inginkan.. pergilah..atau aku akan kena masalah nantinya!" tukas Rainy sambil meninggalkan kedua wanita itu.
Pretina memegang kedua bahu Lidya "kamu yakin? Aku akan menggantikanmu..aku yakin dia memanggilmu,pasti ada alasan tertentu dan aku ragu itu adalah sesuatu yang bagus"
Lidya menggeleng "terima kasih,Pretina. Tapi kamu juga mendengar perkataan Rainy.. She wants me"
__ADS_1