
Let me come through (let me come through)
I'm tired being in the back (a'ight)
I'm just tryna move up front
A lil more of this, a lil less of that, yeah
•Leon Bridges•
"*Bos.. ini list pegawai yang bernama Vanya. Dan karena tiba banyak yang memiliki nama Vanya, jadi mungkin pegawai yang anda cari ada diantara ketiga wanita ini*.." jelas Liang dalam pesannya,berikut lampiran data ketiga pegawai yang memiliki nama Vanya.
Tanpa butuh waktu lama, Peter langsung menemukan data dengan foto wajah Vanya. Peter tersenyum lebar, "sepertinya aku sudah menemukannya.." sahut Peter.
Simon mengerutkan keningnya, "siapa dia?" tanya Simon Lee penasaran, bagaimana mungkin Peter dengan mudah menemukan pegawai di sini padahal dia sendiri tidak mengenal satu pun pegawai yang ada di perusahaan di New York, ditambah tanpa bertanya pada Mr.Zhang.
Peter tersenyum menatap ayahnya, "sebelumnya..aku ingin berbicara pada uncle Zhang terlebih dahulu.." sahut Peter Lee.
"Bukankah kamu mengatakan kamu telah menemukannya?" tanya Simon.
Peter mengangguk, "tapi.. aku tetap ingin bertanya pada uncle terlebih dahulu.." sahut Peter, bagaimanapun ini adalah mengenai pekerjaan. Peter tidak ingin perasaannya mengesampingkan kinerja perusahaan.
Beberapa menit kemudian, Mr.Zhang mengetuk pintu ruangan Simon Lee dan berjalan masuk setelah mendapat jawaban dari pemilik ruangan tersebut.
Wajah Mr.Zhang tersenyum lebar saat menyadari kehadiran Peter Lee di ruangan yang sama dengannya.
__ADS_1
"Uncle!!" seru Peter Lee.
"Ya ampun.. keponakanku sayang!! kapan kamu kembali ke sini?" sahut Mr.Zhang tidak kalah antusias.
Peter Lee tertawa mendengar ocehan Mr.Zhang, sejak kecil Peter sangat dekat dengan Mr.Zhang, begitu juga sebaliknya.. karenanya,baik Peter maupun Ruby keduanya telah seperti anaknya sendiri.
"Baru saja,uncle.. Uncle,bagaimana kabarmu?" tanya Peter.
Mr.Zhang mengangkat kedua bahunya, "sama seperti biasa,Peter.. setiap hari hanya mengurus pekerjaan" sahutnya sambil melirik Simon Lee yang telah tertawa keras.
"Jangan salahkan aku karena pekerjaanmu.." sahut Simon sambil tertawa.
"Hei..aku tidak menyalahkanmu.. hanya, 'pekerjaan tambahan' yang kamu titipkan padaku,sangat menguras tenagaku dibandingkan pekerjaan asliku" sergah Mr.Zhang.
Suara tawa Simon semakin keras, dia mengerti maksud ucapan Mr.Zhang jika pekerjaan tambahan yang dia sebutkan,tidak lain adalah Ruby,anak perempuannya.
"Dan sekarang aku melihat dia mulai berubah.." sahut Simon.
Mr.Zhang mengangguk "dan..untungnya semua karena pria itu..." sahut Mr.Zhang sambil mendaratkan bokongnya di sofa coklat tua tepat di hadapan Peter.
"Tunggu..tunggu.. apa hanya aku yang tidak mengerti maksud pembicaraan ini?" tanya Peter sambil mengerutkan keningnya.
Baik Simon dan Mr.Zhang kembali tertawa, "yang kami bicarakan tidak lain adalah adikmu" jawab Simon.
"Seperti yang sudah papa katakan,Peter. Adikmu telah bekerja dan.." Simon melirik kearah mr.Zhang "dia sekarang bekerja di naungan Mr.Zhang..".
Peter menatap Mr.Zhang,seakan meminta penjelasan lebih lanjut, "Semua ide ayahmu,Peter..jangan menatapku seperti itu"
"Peter.. Ruby berbeda denganmu.. Dia harus berkecimpung secara langsung, papa tidak bisa menyuruhnya belajar secara sendiri tentang mengurus perusahaan, sama seperti dirimu dulu. Ruby sedikit manja dan acuh.." sahut Simon.
"Dan papamu menyuruhnya bekerja di perusahaan ini tanpa memberitahu statusnya pada pegawai lainnya.." lanjut Mr.Zhang.
Peter tertawa "ide brilian,papa. Memang sudah saatnya Ruby dewasa.. tapi,apa maksud pria yang kalian katakan?"
"Dan kamu pikir, Ruby akan menurut begitu saja jika papa menyuruhnya bekerja? Kamu mengenal sifat adikmu,Peter.." sahut Simon lalu menjelaskan secara singkat tentang Louis pada Peter.
Suara tawa keluar dari mulut Peter begitu mendengar habis penjelasan sang ayah "sepertinya adikku mulai dewasa.."
Simon mengangguk "dan berterima kasihlah pada pria itu.. karenanya,dia bisa sampai sekarang"
__ADS_1
"Dan papa akan setuju tentang pria itu?" tanya Peter penasaran.
Simon menggoyangkan jari telunjuk kanannya "tentu tidak! Bagaimana mungkin aku mempercayakan anak perempuanku pada sembarang orang?!"
Peter kembali tertawa.
"Ta..tapi..mereka telah berpacaran" sahut Mr.Zhang menyela pembicaraan ayah dan anak itu.
Simon dan Peter Lee menatap Mr.Zhang dengan syok.
Dua hari setelahnya,
Mr.Zhang memanggil Vanya ke ruangannya. Ruangan yang jarang di tempati Mr.Zhang. Dia lebih memilih bekerja di ruangan yang sama dengan pegawainya, hanya jika ada hal penting baru dia memakai ruangan itu supaya bisa berbicara lebih leluasa.
"Vanya.." sahut Mr.Zhang begitu Vanya duduk di kursi yang ada di hadapannya. Keduanya hanya di batasi meja kerja Mr.Zhang yang tidak terlalu besar.
"Ada hal apa anda memanggilku,Mr.Zhang?" tanya Vanya dengan bingung.
Mr.Zhang terdiam sejenak "jadi begini.." sahut Mr.Zhang yang kembali terdiam.
"Mr.Zhang? anda baik-baik saja?"
Mr.Zhang mengangguk "Sebenarnya begini,Vanya.. kamu terpilih mengikuti pertukaran pegawai dengan perusahaan kita di Beijing.." sahut Mr.Zhang lemas. Dia sangat menyayangkan jika Vanya yang harus ke Beijing, tapi Peter bersikeras akan hal itu. Di tambah saat Simon mendengar tentang Vanya yang mengetahui soal Ruby, Simon semakin menyetujui hal itu.
__ADS_1
"A..apa?!"