
Martha tersenyum sambil mengelus lembut kepala anaknya, tidak terasa baginya jika anak kecil yang dulu selalu dipeluknya dan manja sekarang telah menjadi lelaki dewasa dan mandiri sendiri "Mom akan selalu mendukungmu dan selalu ada untukmu". Luckas memeluk ibunya,dia sangat bersyukur memiliki ibu yang seperti Martha.
Suara ketukan di pintu apartemen Luckas mengganggu ibu dan anak tersebut,Martha berjalan membukakan pintu "Maafkan saya,Madam. Tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan pada Sir Luckas" sahut Edward.
Martha tersenyum "kamu tidak perlu minta maaf,Edward. Silakan masuk, Luckas ada didalam".
Luckas yang tengah duduk di sofa kesayangannya, menatap kearah Edward yang mendekatinya dengan wajah serius "Ada apa,Edward?"
"Anda harus segera melihat ini,Sir" sahut Edward sambil menyodorkan tablet yang berisi berita mengenai Freya dan Lidya,tapi kebanyakan darinya adalah mengenai Lidya.
Luckas membaca satu persatu,dia heran bagaimana bisa nama Lidya muncul di berita. Luckas menatap berbagai judul yang terpampang di tablet itu.
'FREYA GREEN DIDORONG OLEH KEKASIH GELAP LUCKAS RYANS'
__ADS_1
'**CEMBURU..KEKASIH GELAP DARI LUCKAS MENCELAKAI FREYA GREEN'
'LUCKAS RYANS MEMILIKI KEKASIH LAGI?'
'PIHAK KETIGA ANTARA HUBUNGAN LUCKAS RYANS DAN FREYA GREEN**'
Luckas menahan amarah yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya,peringatannya pada Freya malah dibalas dengan berita aneh yang bahkan dia menarik Lidya ke dalamnya "Dasar ********!!" bentak Luckas dengan suara yang penuh amarah.
"dari penjelasan para staf yang berada disana, saat Miss Freya akan keluar dari hotel..para wartawan mengelilinginya dan Miss Lidya juga berada disana. Tapi tidak tahu mengapa Miss Freya menuduh Miss Lidya yang mendorongnya" jelas Edward.
"Dan aku yakin Lidya tidak mendorongnya!! Semua itu hanya akal-akalan Freya sendiri. Kenapa dia tidak mengasah kemampuan beraktingnya daripada modeling???!!!! Sungguh hebat aktingnya!!!" ucap Luckas geram. Luckas melirik Edward dengan pandangan yang menusuk "Bukankah aku telah menyuruhmu memberitakan tentang kejelasan hubunganku dengan Freya??!!!"
Bentakan dan pandangan yang tajam dari tuannya,seketika membuat Edward merinding. Bertahun-tahun lamanya dia bekerja dengan Luckas,belum pernah dia melihat Luckas yang begitu marah seperti ini. Sekalipun ada kesalahan besar lainnya, Luckas tidak pernah begitu marah seperti ini. Hanya karena menyangkut Lidya-lah,dia berubah seperti ini.
__ADS_1
"ma..maafkan aku,Sir. Awak media yang kita hubungi telah merencanakan untuk mempublikasikannya siang ini,tapi Miss Freya terlebih dahulu membuat keributan seperti ini" ucap Edward dengan nada ketakutan.
Martha mendekati Luckas "tenanglah,Luckas. Bukankah kamu harus tetap berpikir dengan jernih untuk membantu Lidya? Jika kamu emosional seperti ini,maka kamu akan sulit membuat keputusan dengan baik" ucap Martha lembut seakan menghapus kabut kemarahan yang mulai menyelimuti kedua mata Luckas.
Luckas menatap Edward "Kita ke hotel sekarang,jelaskan secara rinci padaku selama diperjalanan!!" lugas Luckas. Edward mengangguk,diam-diam dia berterima kasih pada Martha,jika bukan karena Martha mungkin kemarahan Luckas belum reda hingga saat ini.
Luckas memeluk Martha sebelum pergi "terima kasih,Mom", Martha menepuk punggung bidang Luckas seakan memberinya tambahan semangat bagi putra semata wayangnya.
"Mom akan membatalkan tiket pulang. Jika kalian membutuhkan bantuanku, Mom ada disini" sahut Martha diiringi anggukan Luckas sambil berjalan keluar bersama Edward.
__ADS_1