
Ray's Bar,
Louis masuk ke dalam bar yang terlihat tidak terlalu ramai akan pengunjung, sehingga tidak terlalu sulit baginya untuk menemukan wanita bertubuh mungil yang dibalut dress kasual berwarna merah dan sedikit memperlihatkan lekukan badannya.
Louis menarik kursi tinggi yang ada di depan meja bartender,tepat di samping Ruby.
"Ada apa kau memanggilku kemari?!" sahut Louis dingin.
Ruby tersenyum,mencoba mengabaikan nada dingin Louis, "ayolah..anggap ini perpisahan kita.."
Louis hanya diam, "berikan aku minuman apapun yang tidak beralkohol"
Ruby menatap bartender tersebut,bartender tersebut mengangguk.
"Louis..aku telah menyerah, kamu dan Vanya pasangan yang cocok.. dan aku telah mengaku kalah.." lirih Ruby.
Louis menatap wajah Ruby yang terlihat menyesal.
"Dan aku juga mengaku salah karena mengganggu hubungan kalian.." lanjut Ruby.
"Sudahlah.." sahut Louis.
"Dan apakah sangat tidak memungkinkan bagi kita untuk menjadi teman baik?" tanya Ruby kembali.
Louis membisu.
Wajah Ruby berubah menjadi murung, "jika kamu menolaknya,aku tidak akan keberatan,Louis. Aku mengerti"
"Aku tidak tahu akan teman baik tapi jika sekedar berteman,aku tidak keberatan" sahut Louis datar sambil menyeruput minuman yang disodorkan bartender tadi, Louis mengerutkan keningnya "hei..kamu yakin ini tidak beralkohol?"
"Sangat pasti tidak,sir.. Ini minuman khusus racikan spesial dari bar kami khusus untuk pelanggan yang tidak bisa minum minuman beralkohol.." jelas bartender tersebut.
"Kamu yakin?"
"Sangat! kami sengaja mencampurkan dengan sedikit soda jadi minuman ini akan terasa seperti minuman beralkohol.." jelas kembali bartender tersebut dengan serius.
Louis kembali menyesap sedikit minuman itu, "hem..lumayan enak.."
"Terima kasih,sir.." sahut bartender tersebut.
Ruby menatap Louis yang begitu menikmati minuman yang di sodorkan bartender tersebut, "baiklah.. karena kamu telah menerimaku sebagai temanmu maka hari ini aku yang akan membayarnya" sahut Ruby.
Louis terkekeh, "tidak perlu seperti itu,Ruby.. aku tidak pernah membiarkan wanita yang membayarnya.."
"Oh..tolonglah,Louis.. Aku sangat senang kita bisa berteman kembali seperti biasa..jangan menolakku" lirih Ruby.
Louis membisu, "baiklah jika kamu memaksa.."
"Yei.." seru Ruby.
Keduanya saling mengobrol satu sama lain layaknya teman baik yang telah lama tidak berjumpa. Bahkan Louis tidak menyadari getaran ponselnya yang berbunyi sejak tadi.
Kediaman Vanya,
Vanya mengakhiri teleponnya, sudah tidak tahu berapa kali Vanya menghubungi Louis dan tidak di angkat. Vanya menatap tiket bioskop di tangannya, "sepertinya Louis lupa akan janji kami.." lirih Vanya. Siang tadi,Vanya telah memberitahu Louis jika dia ingin menonton film dari salah satu aktor favoritnya dan Louis bahkan berjanji akan menemaninya. Karenanya Vanya membeli dua tiket untuknya dan juga Louis.
*Ting tong*!
__ADS_1
Suara bel pintu mengejutkan Vanya, Vanya berlari kecil menuju pintu rumahnya sambil tersenyum, "ternyata kamu tidak lupa,Louis!!" gumamnya dalam hati.
"Kamu tel--" Vanya terdiam menatap pria yang berdiri di depannya, "kamu?! Darimana kamu tahu alamatku?!"
Pria tersebut tertawa "suatu sambutan yang kasar,Miss Vanya.." sahut pria tersebut, matanya menatap perut Vanya yang mulai terlihat sedikit membesar, rasa sakit di hatinya semakin mendalam.
Tanpa ingin berbasa-basi lagi,Vanya langsung menutup pintu hingga tidak memperhatikan jika tangan Peter berada di daun pintu.
"Aduh!!" rintih Peter kesakitan.
Hal itu membuat Vanya syok,dia bergegas membuka pintu kembali dan memeriksa jari tangan Peter yang telah memerah, "Astaga..maafkan aku,Peter.. masuklah,aku akan memberimu obat" lirih Vanya dengan wajah penuh penyesalan.
Peter mengangguk sambil memegang jari tangan kirinya yang berdenyut, Peter menatap ruang tamu mini Vanya yang bahkan tidak lebih luas dari kamar tidur pembantu di rumah mereka. Semuanya tertata rapi,Peter tersenyum melihat semua foto yang terpajang rapi di dinding. Senyum Peter menghilang saat melihat dua buah bingkai foto mungil yang terletak di meja kecil di sudut ruang tamu tepat disamping sofa, foto berdua antara Vanya dan Louis dan juga foto hasil USG yang kemarin Vanya dapatkan dari dokter Kelly. Peter kembali merasa murka, dia mengambil foto berdua Vanya dengan Louis, ingin rasanya dia menghancurkan foto tersebut hingga tidak terbentuk.
"Peter?"
Suara Vanya seakan menyadarkannya kembali, "ah..maafkan aku.. Aku hanya melihat foto-fotomu dan baru sadar jika pria yang waktu itu adalah kekasihmu.." sahut Peter sambil menunjukkan foto tersebut.
"Tidak perlu merasa bersalah,Vanya.. Aku yang salah karena tidak segera menghindar"
Vanya membuka obat oles tersebut dan menyodorkannya pada Peter dengan wajah yang masih merasa bersalah saat menatap jari tangan Peter yang mulai membengkak.
Peter menyadari tatapan mata Vanya, "hei..tidak perlu merasa bersalah,Vanya.. aku baik-baik saja.." sahut Peter "hmm..jika kamu memang merasa bersalah,bagaimana dengan menyetujuiku untuk ke Beijing?"
Wajah Vanya berubah, "kamu belum menyerah".
"Tidak pernah menyerah!" wajah Peter muram "Vanya..bukan karena perasaan pribadi.. tapi,semua murni karena kinerja kamu di perusahaan sangat memuaskan dan itu menjadi salah satu alasan aku berada disini.. sebagai atasanmu,bukan siapapun.."
Vanya membisu.
"Tanyakanlah pada Mr.Zhang..beliau sendiri merekomendasikan kamu padaku dan papaku" lanjut Peter.
__ADS_1
Vanya menatap Peter seakan tidak percaya.
"Untuk apa aku bersikeras memilihmu jika kamu tidak berkompeten,bukankah sama saja aku mencoreng mukaku sendiri?" lanjut Peter.
Vanya membisu dengan wajah yang terlihat merenungi ucapan Peter, diam-diam Peter tersenyum puas.
"Dengar Vanya, aku tetap akan menunggu jawabanmu tiga hari lagi,karena aku akan kembali ke Beijing segera. Dan jika kamu menolak,Mr.Zhang telah menyiapkan penggantimu yang juga telah bersedia. Tapi Vanya,aku lebih mengharapkan dirimu.." sahut Peter dengan wajah memelas.
*Tring*..
Suara notifikasi ponsel Peter memotong pembicaraan mereka yang terkesan serius.
"Ruby?" Peter menyebut nama yang membuat Vanya memalingkan wajahnya menatap Peter, "apa ada dengannya?" lanjut Peter dengan suara pelan.
"Ada hal penting?" tanya Vanya.
"Ah..tidak..hanya,ya kamu juga tahu sendiri.. Ruby.. dia selalu suka menggangguku.." sahut Peter sambil tersenyum dan membuka pesan dari adiknya.
Wajah Peter yang awalnya cerah,berubah murka seketika, "a..apa?!!!" pekiknya "dasar bajingan!!"
"Ada apa?" tanya Vanya dengan bingung.
"Maafkan aku jika mengejutkanmu,Vanya.. tapi.." Peter menyodorkan ponselnya,layarnya telah dipenuhi oleh sebuah gambar Ruby bersama seorang pria yang tengah tertidur pulas dan terlihat sepertinya tidak berpakaian. Ruby terlihat tersenyum di foto itu.
Vanya menatap lekat di wajah pria yang ada di dalam foto tersebut, wajah pria tersebut tidak terlalu jelas karena dia tidur menyamping. Peter merebut kembali ponselnya.
"Maafkan aku, Vanya..aku harus menemui Ruby.. Berkali-kali aku telah mengatakan padanya untuk menjaga dirinya..tapi,lihatlah!" sahut Peter sambil menghela nafas, dia meraih kunci mobilnya. "Terima kasih juga atas obatmu, Vanya."
Vanya hanya tersenyum kecut, pikirannya telah melayang kemana-mana, "a..apakah aku boleh ikut?" sahutnya.
"Beijing?"
Vanya menggeleng, "menemui Ruby"
__ADS_1