Hotel Prince

Hotel Prince
S2 : Posisi Baru


__ADS_3

Enam bulan kemudian, Hotel Ryans di Washington.


Terlihat seorang pria yang memakai jas lengkap berjalan bersama para petinggi hotel Ryans. Gina mengintip pria tersebut dengan wajah berbinar-binar. Sudah dua bulan,pria tersebut bekerja di hotel Ryans sebagai manager sementara,menggantikan manager sebelumnya, Miss Windy yang tengah cuti melahirkan. Dan sejak pertama kali Gina bertemu pria itu,dia telah jatuh hati padanya.


Pletak!


"Aduh!" rintih Gina saat merasakan pukulan di kepalanya, dia menoleh melihat Pretina yang menatapnya dengan kesal.


"Lagi-lagi kamu di sini,melirik manajer kita!" tukas Pretina.


Gina menunjukkan deretan giginya yang rapi, "dia begitu sempurna,bukan?" sahut Gina.


Gina dan Pretina sampai sekarang masih tetap bekerja di Hotel Ryans. Pretina telah menikah kembali untuk yang kedua kalinya,dan kali ini dia mendapatkan suami yang sangat pengertian dan begitu menyayanginya. Sedangkan Gina, masih tetap sama seperti dulu.. mencari kekasih pujaan hati yang tepat untuk dirinya, walau setiap kali selalu jatuh pada pilihan yang salah. Keduanya masih sering berhubungan dengan Lidya, walau tidak terlalu sering, mengingat Lidya yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan rumah tangga..di sisi lain, mereka yang berada di beda kota semakin membuat mereka kesulitan untuk bertemu. Setidaknya ke tiganya selalu ngobrol dan bertukar kabar melalui telepon.


Pretina telah menggantikan posisi Miss Rainy yang telah keluar karena harus kembali ke rumah orang tuanya, sedangkan Gina sendiri telah diangkat menjadi asisten dari Pretina.


"Tapi... tidak tahu mengapa wajahnya terlihat tidak asing.." sahut Pretina sambil mencoba memutar otaknya.


Gina menatap Pretina dengan kesal, "kamu sudah memiliki Ed! Jangan menyambar pria lain lagi"


Pretina kembali memukul ringan kening Gina, "siapa juga yang berpikiran seperti itu!. Aku dan Ed begitu saling mencintai hingga tidak terpisahkan!"


"Hoek!"


Tatapan tajam langsung mengarah ke Gina.


"A..haha.. sorry.. sorry.." sahut Gina sambil terkekeh.


"Sudahlah.. kembali ke kantor.. atau nanti kita akan kena masalah.. sudah susah payah naik jabatan,nanti bisa-bisa kita di pecat" sahut Pretina.


Gina mengangguk lemas, ditambah pria tersebut yang semakin menghilang dari pandangan mata Gina. Akhirnya Gina menuruti Pretina untuk kembali ke kantor mereka.



Sore itu,



Louis duduk menatap jendela besar yang ada di kantornya, sudah dua bulan dia menempati posisi manajer di hotel Ryans. Masa pelatihan yang awalnya memakan waktu enam bulan,namun Louis menguasainya hanya dalam empat bulan,karenanya Luckas mempercayai Louis untuk memegang sementara jabatan manajer di Washington untuk menggantikan manajer lama yang tengah mengambil cuti.



Dan terbukti,hanya dalam dua bulan..Louis dapat membuat peningkatan terhadap Hotel Ryans yang ada di Washington. Dan tentu tanpa memberitahu status asli dari Louis.



*Tok..tok*..



"Ya?" sahut Louis dari dalam.

__ADS_1



Molly,sekretaris Louis masuk ke dalam ruangan. Sejak Louis menggantikan atasan lamanya,Molly semakin semangat untuk bekerja. Wajah Louis yang tampan seakan menjadi penyemangat tersendiri untuknya.



"Ada apa,Molly?" tanya Louis sambil kembali duduk di kursinya.



"Tadi Mr.Ryans memberi kabar jika dia sedang berada di Washington bersama Mrs.Ryans,sir.. Dan beliau ingin makan malam bersama anda.." jelas Molly.



Louis tersenyum, "baiklah,saya mengerti.." sahut Louis.



Molly mengangguk dan kembali ke tempatnya, walau dalam hati..Molly bertanya-tanya tentang hubungan antara Louis dengan bos besar mereka,namun Molly tidak ingin bertanya lebih jauh.



Louis mencari ponselnya yang dia tinggalkan tadi saat berada dalam *meeting* bersama petinggi lainnya. Lidya telah meninggalkan pesan untuknya tentang makan malam mereka, hanya Luckas lebih ingin memastikan jika Louis benar-benar menerima pesan mereka melalui Molly.



Malam harinya,


Louis tertawa sambil memeluk kedua keponakannya itu, "Alysse.. kamu semakin cantik,sayang.." sahut Louis sambil mengecup pipi Alysse yang tertawa geli, "dan.. aduh.. banditnya uncle juga sudah semakin besar.."


Ayles menatap Louis dengan sedikit kesal, "aku bukan bandit,uncle.."


Louis tertawa, "baik-baik..pangeran Ryans.."


Lidya melambaikan tangan pada Louis dari tempatnya, Louis mengangguk dan langsung mendekati Lidya dan Luckas.


Lidya begitu senang melihat perubahan dalam diri Louis, dia telah bangkit dari keterpurukannya.


"Kamu terlihat menakjubkan,Louis.." sahut Lidya.


Louis hanya menggaruk-garuk kepalanya tersipu malu, "aku seperti biasa,Lidya.."


Luckas tersenyum, "duduklah.. dan pesan makananmu.. Banyak yang ingin aku bicarakan padamu"


Setengah jam kemudian, setelah semuanya telah selesai menikmati makan malam mereka. Luckas memesan sebotol wine untuk mendampingi obrolan mereka.


"Louis.. aku melihat potensi dalam dirimu.. dan semuanya terbukti dengan kerja kerasmu dalam dua bulan ini" sahut Luckas.


Louis hanya kembali tersenyum.


"Dan bahkan aku tidak menyangka kamu sanggup menyelesaikan pelatihanmu dalam waktu yang singkat.." lanjut Luckas "kamu ternyata tidak sebodoh dari yang kukira.."

__ADS_1


Baik Lidya dan Louis sama-sama menatap Luckas dengan tatapan mata yang seakan memancarkan pisau yang sanggup mencabik-cabik mulut Luckas.


"Hei!! Itu pujian.." tukas Luckas dengan gugup.


"Maka ubah kalimatmu" balas Lidya tidak kalah dingin.


"okay..okay.. itu kesalahanku.. jangan menatapku seperti itu lagi.." sahut Luckas.


"Lanjutkan!" sahut Lidya sambil menarik selembar tisu untuk mengelap wajah Alysse yang kotor.


"Dan.. Louis..cabang hotel Ryans yang berada di Bali telah selesai.. dan aku menginginkan kamu berada disana" sahut Luckas dengan serius.


"Bali? Dimana itu?" suatu nama yang asing di telinga Louis.


"Indonesia.. dan Bali merupakan tempat yang tepat untuk mengembangkan sayap hotel Ryans" sahut Luckas.


"Dan kamu ingin aku mengambil tugas yang sepenting itu? Kamu yakin padaku?"


"Aku yakin! Begitu juga dengan kakakmu" sahut Luckas.


Louis menatap Lidya dan tersenyum dan mengangguk padanya.


"Ta..tapi aku tidak yakin" sahut Louis.


"Louis.." Lidya memegang tangan adiknya, "percayalah pada dirimu.. kamu lebih sanggup dari yang kau kira"


Louis terdiam seribu bahasa, menanggung beban yang begitu berat membuatnya tidak yakin.


"Tidak perlu ragu,Louis.. Anggap ini perintah dari CEO.." sahut Luckas "dan sebagai CEO,aku yakin kamu lebih dari mampu"


Louis akhirnya tersenyum, "baiklah..jika CEO kita yang langsung memberi perintah" sahut Louis.


Luckas dan Lidya tersenyum, "terima kasih,Louis.." sahut mereka hampir bersamaan.


"Oh ya..satu hal lagi.." sahut Lidya tiba-tiba.


Luckas menatap istrinya dengan bingung.


"Kamu pasti melupakannya" sahut Lidya sambil menatap suaminya, "tentang itu.. bukankah itu juga menjadi alasan lain bagi kita ke Washington?"


"Astaga!! Kamu benar!! Lihatlah! Bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting itu!" seru Luckas.


"Ada apa??" tanya Louis dengan bingung, "Alysse bakal punya adik lagi?".


"Hmm.. doa yang bagus,Louis!!" sahut Luckas sambil melirik istrinya yang telah kesal.


"Dua anakmu sudah lebih dari cukup,sayanggg" sahut Lidya dengan penuh penekanan.


Louis tertawa keras.


"Ini tentang Vanya" sahut Lidya kembali dan sontak membuat Louis terdiam, "kami telah menemukan titik terang akan Vanya!"

__ADS_1



__ADS_2