
In this farewell
There's no blood, there's no alibi
'Cause I've drawn regret
From the truth of a thousand lies
So let mercy come and wash away
What I've done
•Linkin Park•
"Maafkan aku,Lidya..aku tahu aku salah,tidak seharusnya aku terpengaruh ucapan Dora. Aku mohon, Lidya jangan meninggalkanku..aku tidak ingin kita berpisah. Aku menyesal.. sangat menyesal.." isak Luckas "tidak bisakah kau memaafkanku,Lidya? Berikan aku kesempatan kedua..aku mohon.." pinta Luckas sambil memeluk Lidya tiba-tiba.
Lidya mendorong tubuh Luckas dengan kuat "hentikan, Luckas!! jangan memelukku!! Pergilah.." lirih Lidya sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Luckas "aku tidak ingin kamu masih disini saat Louis dan Ayles kembali.. Apalagi Ayles yang terlihat ketakutan padamu" sahutnya dengan nada getir sambil masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya.
Luckas mendekati pintu kamar Lidya,mencoba membuka pintu kamar yang telah terkunci dari dalam. Air mata Luckas mengalir, penyesalan selalu datang terlambat. "a..apa yang harus aku lakukan supaya kamu akan memaafkanku? aku mohon padamu.." lirih Luckas dengan suara perlahan bahkan hampir tidak terdengar, namun Lidya yang duduk sambil bersandar di pintu kamarnya tentu mendengar jelas ucapan Luckas. Saat Lidya masuk kedalam kamar,dia telah tidak kuasa menahan bendungan air matanya dan sekarang,ucapan Luckas membuatnya semakin terisak.
Di depan pintu rumah Lidya, terlihat sosok Luckas yang duduk termenung meratapi dirinya dengan penuh penyesalan. Lidya tidak menyadari keberadaan Luckas,hanya berada di dalam rumahnya.
Tidak lama kemudian,Louis dan Ayles kembali pulang ke rumah. Luckas berdiri,menyambut kedatangan mereka dan tentunya dibalas dengan dingin.
"buat apa kau masih disini??!" bentak Louis. Ayles berdiri bersembunyi dibelakang tubuh pamannya,dia takut dengan sosok Luckas.
Bukannya menjawab Louis, Luckas menatap Ayles sambil mencoba tersenyum "Ayles..ksatria daddy.." lirihnya sambil mencoba mendekati Ayles.
__ADS_1
Namun,Louis dengan cepat mendorong Luckas segera menjauhi Ayles "hei..hei..sejak kapan anda menjadi ayah Ayles,sir Luckas??"
Luckas menatap Louis dengan sendu "Louis..aku..aku sangat menyesal bahkan rasanya aku ingin mengakhiri hidupku.. aku tidak tahu apa yang merasukiku semalam hingga berbuat kasar pada anakku sendiri..bahkan sekarang Lidya juga ingin mengakhiri hubungan kami.."
Louis tersenyum sinis Luckas "sungguh suatu kabar yang baik,bukan?? Kamu tidak perlu bersusah payah mencoba 'mempercayai' Lidya dan juga tidak perlu pusing memikirkan kejelasan mengenai Ayles.. arti kata lain..anda FREE..bebas,tuan!! sekarang anda bisa dengan mudahnya menggaet wanita lain,atau minta saja pada yang mulia agung luhur dan terhormat..nenekmu itu mencarikan wanita untukmu!! aku yakin dia memiliki data stok wanita yang siap dijodohkan padamu!!" tukas Louis dengan sinis.
"Louis--" helaan nafas keluar dari mulut Luckas,dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki semuanya, matanya kembali melirik Ayles yang masih mengintipnya "Ayles..sama daddy yuk.."
Ayles menggeleng perlahan.
"sayang..sini sama daddy.." sahut Luckas dan perlahan mendekati Ayles,Luckas tidak memperdulikan Louis yang menatapnya begitu tajam. Baginya sekarang,dia harus membuat Ayles memaafkannya dan mau kembali dekat padanya.
Ayles terisak dan meminta Louis segera menggendongnya saat Luckas semakin mendekatinya.
Dengan cepat Louis menggendong Ayles yang terisak "pergi!! Ayles saja menangis dan menolak jika kau mendekatinya!!". Louis bergegas menggendong Ayles masuk ke dalam rumah.
Luckas hanya bisa menundukkan kepalanya sambil berjalan gongtai menuju mobilnya.
Begitu masuk kedalam penthousenya, Luckas langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan lemas. Melihat kondisi anaknya yang tidak bersemangat,Martha menyadari jika pembicaraan Luckas dan Lidya tidak berjalan mulus.
Martha kembali mengintip masuk ke dalam kamar anaknya,namun dia tidak melihat sosok Luckas di tempat tidurnya..tidak sampai dia melihat Luckas yang duduk di lantai sudut kamarnya dan Luckas terlihat begitu terpuruk.
"Luckas.." Martha mendekatinya.
"mom"
__ADS_1
"Bersabarlah.. mungkin Lidya masih merasa marah, tunggulah beberapa hari..dan mungkin dia akan mulai berpikiran terbuka dan mau memaafkanmu"
Luckas menggeleng "Aku bahkan tidak yakin mereka bisa memaafkanku,mom. Ayles sekarang bahkan menangis karena aku dekatin"
"lho..kenapa Ayles bisa menangis?" tanya Martha yang tidak tahu perilaku Luckas yang mendorong Ayles.
Luckas menunduk "karena.. aku mendorongnya hingga terjatuh.. itu saat aku dalam pengaruh alkohol,aku sangat menyesalinya,mom"
Mata Martha terbelak "Luckas!!!!" bentak Martha "apa yang kau lakukan pada cucuku??!!!" Martha memukul punggung anaknya tanpa henti.
Luckas meringis kesakitan dan segera merangkak menghindari amukan ibunya "aduh..sakit,mom"
"sakit?? apa Ayles tidak merasa sakit saat kau mendorongnya??!! bahkan bukan hanya Ayles yang merasa sakit,Luckas!! Aku yakin jika Lidya mengetahuinya,hatinya akan beribu kali lipat merasakan sakit hati!!" pekik Martha.
"aku tahu,mom..karenanya aku menyesalinya.."
Martha melotot pada Luckas "kali ini kamu harus berusaha ekstra keras,Luckas!"
__ADS_1