
"Aku ada ide tapi..yang aku butuhkan sekarang kerja samamu!" sahut Peter sambil tersenyum licik.
"Sebentar.. mengapa kakak mau membantuku?" tukas Ruby.
"Sebab,dia merebut sesuatu yang aku inginkan! Bahkan tepat didepanku!"
"Ha? Sesuatu?" tanya Ruby bingung.
"Lebih tepatnya..manusia"
"Jangan kakak katakan karena wanita?"
Peter tersenyum lebar "tentu saja..menurutmu?! Tidak mungkin demi laki-laki.. Aku pria normal,adik sayang.." sahut Peter.
"iieuwww.." ejek Ruby yang sedetik kemudian terdiam, "sebentar sebentar...wanita??? Wanita?!! Vanya???".
"Kamu kenal?"
"Ya ampun..rendah sekali selera abangku.." ejek Ruby.
"Begitu juga denganmu!! Pria busuk seperti itu saja bisa membuatmu rela harus bekerja" tukas Peter.
"Tarik ucapanmu!! Louis pria sempurna!" tukas Ruby kembali.
Peter tertawa keras "sempurna karena matamu buram!"
"Jika aku memilih Louis karena mataku buram, maka kakak memilih Vanya karena buta!" seru Ruby.
Peter mengepal tangannya "sudahlah..mau di bantu tidak?!"
"Tentu saja!" seru Ruby.
Peter tertawa dan mengelus kepala Ruby, "dasar anak kecil"
"Aku sudah dewasa!! Sekarang,katakan!! apa idemu?!"
"Kemarilah.." sahut Peter.
Keduanya berbincang-bincang hingga tengah malam demi ide rencana untuk Louis dan juga Vanya.
Kediaman Vanya,
Sejak tadi, Louis menemani Vanya dan melayaninya. Louis bahkan turun tangan ke dapur untuk membuat makanan khusus untuk Vanya.
"Apa ini?" tanya Vanya saat Louis menaruh dua piring spagethi di meja makan.
__ADS_1
"Spagethi.." jawab Louis singkat.
Vanya menatap spagethi yang ada serpihan hitam-hitam, "spagethi?"
"Jangan dilihat bentuknya.. tadi sedikit gosong..sedikit saja.." sahut Louis.
Vanya menggelengkan kepalanya, lalu menyeruput sedikit spagethi ke dalam mulutnya. Louis menatap Vanya penuh harapan. Vanya menatap Louis.
"Tidak enak?" tanya Louis lesu, "kemarikan..jangan dimakan lagi.." sahutnya.
"Enak!" seru Vanya, tidak tahu mengapa.. spagethi aneh buatan Louis malah terasa enak di mulutnya.
"Sungguh???" seru Louis gembira.
Vanya mengangguk,lalu menyeruput kedua kalinya. Louis yang penasaran,akhirnya mencobanya sendiri. Dia sengaja membuat dua piring untuknya dan Vanya. Dan Louis hanya mengandalkan resep yang dia dapat dari internet.
Vanya menatap Louis dengan bingung, "ada apa?"
"Kamu menggodaku!! Ini sangat buruk!! Bagaimana kamu bisa memakannya??" tukas Louis sambil menarik piring milik Vanya. Dengan cepat Vanya menahannya.
"Apa yang kamu lakukan?! Aku belum habis!!" sergah Vanya.
Louis memutar kedua bola matanya, "jangan menggodaku lagi,Vanya.. aku tahu aku salah mengira garam yang ada di dapur mu adalah gula, dan yang ada spagethi ini menjadi manis!! di tambah.. kegosongan itu membuatnya sedikit pahit.."
Vanya mengerutkan keningnya, "tapi ini enak..". Vanya membalikkan badannya dan cepat-cepat menyeruput spagethi terakhir yang ada di piringnya.
__ADS_1
Louis melongo menatap Vanya yang terlihat begitu lahap, "kamu tidak sakit?" tanya Louis cemas "sepertinya kita harus ke dokter THT untuk memeriksamu"
Vanya menatap Louis dengan tatapan tajam, lalu matanya tertuju pada sepiring spagethi yang masih utuh di atas meja Louis, "kamu tidak mau? Berikan padaku!" sahut Vanya sambil mengambil spagethi tersebut dari tangan Louis. "Ini spagethi terenak yang pernah aku makan!!"
"Ya Tuhan..apa yang terjadi padamu?!" pekik Louis yang masih kebingungan menatap Vanya yang begitu lahap. Vanya hanya tertawa membalas tatapan mata Louis.
Louis akhirnya memilih menyerah, dia menatap Vanya yang begitu lahap sambil tersenyum, "makanlah..makan.." sahutnya.
"Buatkan lagi besok.." pinta Vanya.
"Tidak!! Aku tidak mau kamu resiko keracunan nantinya" tukas Louis.
"Pelit!!"
"Gantinya..aku akan belajar masak yang lain lagi.."
Kediaman Luckas,
Lidya menatap kedatangan Louis dengan penuh selidik "Katakan padaku..apa yang membuatmu tidak kesini hingga begitu lama?".
Louis tertawa, "sepertinya ada yang merindukanku.." sahut Louis sambil menarik kursi di meja makan,tepat di sebelah Lidya, "Desya..bolehkah aku meminta piring? Ayam gorengmu membuat cacing di perutku demostrasi"
Desya tersenyum lalu mengangguk "dengan senang hati,tuan Louis" sahutnya,lalu berjalan masuk ke dalam dapur kembali untuk mengambil piring pesanan Louis.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Lidya.
Louis mengangkat bahunya, lalu menerima piring dari Desya "thank you,Desya.." sahutnya. Louis mengambil potongan ayam goreng yang sejak tadi terlihat begitu mengiurkan, setelah spagethi aneh buatannya, ayam goreng yang biasa saja membuatnya kelaparan. "Pekerjaanku biasa saja.. dan tidak menantang.." Louis menatap Lidya "sepertinya aku ingin berhenti dari sana.." sahut Louis. Dia yang awalnya hanya sekedar iseng bekerja di Lee's Ship,sekarang..sejak mengetahui kehamilan Vanya,dia tidak ingin sekedar bermain-main lagi,demi Vanya dan anaknya kelak.
Lidya menatap Louis dengan lekat, "dan..apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya jika kamu berhenti dari sana?"
"Mempertimbangkan apa yang pernah di tawarkan oleh kakak iparku.." jawab Louis.
Lidya tersenyum, "apapun itu,aku akan tetap mendukungmu.."
Louis menelan daging ayam yang ada di mulutnya,lalu menatap Lidya dengan tatapan serius "Lidya..apa yang ada dipikiranmu dulu saat kamu mengetahui kamu sedang hamil?"
Pandangan mata Lidya langsung berubah,Lidya bahkan melempar tulang paha ayam yang ada di piringnya kr kepala Louis, "aduh!" rintih Louis sambil mengelus keningnya.
__ADS_1
"Jangan kamu katakan jika kamu telah menghamili anak perempuan orang!!" hadrik Lidya seketika.