
Peter semakin ketakutan saat melihat perut Vanya yang tertancap pisau yang tadi mereka perebutkan. Gaun putih yang di pakai Vanya,perlahan berubah menjadi merah karena darah yang tidak berhenti mengalir dari tusukan pisau di tubuhnya.
"Ti..tidak..tidak..Vanya!!!" pekik Peter.
Wajah Vanya mulai terlihat memucat, Peter mencoba mengambil ponselnya yang ada di kantong celananya. Dia tidak memperdulikan noda darah yang juga mengotori baju,celana dan juga ponselnya.
Namun,sesaat sebelum Peter menekan tombol di ponselnya.. dia terdiam sejenak. "Tidak!! A..aku harus pergi!!" sahutnya. Dia sadar jika dia akan mendapat masalah jika meminta bantuan. Dia memeriksa dirinya, bercak darah Vanya di pakaiannya, membuat Peter semakin gugup, "a..aku harus segera pergi.." sahutnya kembali. Peter menatap Vanya yang mulai tidak sadarkan diri, "ja..jangan salahkan aku,Vanya.. Kamu seharusnya menerimaku.. Mengapa kamu harus melawanku?!!!" pekik Peter. Vanya hanya meringis kesakitan dan mencoba untuk tetap sadar.
Perlahan Vanya menggerakkan bibirnya, "to..tolong aku.." sahut Vanya dengan suara parau hingga hampir tidak terdengar.
Peter mencengkram kepalanya dengan kedua tangannya, dia ingin menolong Vanya..tapi dia tahu, resikonya sangatlah besar. Jika Vanya selamat,dia tidak akan selamat.. Vanya pasti akan menuntutnya.
"A...aku harus pergi.." sahut Peter kembali,dan bergegas beranjak pergi dari kamar Vanya... tidak lebih tepatnya dari rumah Vanya. Dia bahkan tidak menghiraukan Vanya yang berulang kali meminta tolong padanya.
Ting..tong..
Suara bunyi bel yang seketika seakan menghentikan detak jantung Peter. Dia melirik jam dinding yang ada di rumah Vanya, waktu yang telah menunjukkan pukul satu malam. Dia kembali melirik Vanya, "ka..kamu sedang menunggu seseorang?" bisiknya.
Vanya telah tidak mampu menjawab hanya menitikkan air mata. Harapan satu-satunya hanyalah semoga orang yang menekan bel itu adalah Louis. Hanya dia yang mampu menolongnya dari semua ini.
Ting..tong..
Peter semakin gugup dan hanya bisa berjalan mondar-mandir sambil melihat sekeliling,memikirkan cara supaya dapat keluar dari rumah Vanya tanpa harus bertemu dengan siapapun. Perlahan dia mendekati pintu depan rumah Vanya dan mengintipnya dari lubang pintu yang kecil itu. Wajah Peter semakin pucat,saat melihat sosok Louis yang berdiri di balik pintu itu.
Louis sejak tadi mencoba menelepon Vanya,namun tidak dapat terhubung. Dia semakin merasa aneh saat tidak ada jawaban dari dalam rumah Vanya.
__ADS_1
"Vanya!!" sahut Louis sambil menggedor pintu rumah Vanya. Dia yakin Vanya berada di dalam rumahnya.
Suara gedoran pintu Vanya semakin membuat Peter ketakutan.
Prang!!!
Peter menoleh ke arah sumber suara dari kamar Vanya, dia tidak tahu jika Vanya berusaha keras mengumpul sisa tenaga yang ada untuk menarik taplak meja kecil yang ada di dekatnya. Dan hal itu membuat Vas bunga kecil berbahan kaca itu seketika pecah dan mengeluarkan suara yang pastinya akan terdengar hingga di depan rumah. Vanya akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.
Louis mendengar suara pecahan itu, dia kembali menggedor kencang pintu rumah Vanya "VANYA??!!!!" pekik Louis. Tanpa menunggu lebih lama,Louis memilih mendobrak pintu rumah Vanya. Dia yakin Vanya berada di dalam dan sedang dalam bahaya.
Peter semakin kebingungan saat mendengar Louis mencoba mendobrak pintu rumah Vanya, "Sial!!" bisiknya sendiri. Dia akhirnya bersembunyi di dalam kamar mandi, sebelum Louis berhasil mendobrak pintu itu.
Brak!
Pintu rumah Vanya akhirnya berhasil di dobrak oleh Louis. Louis masuk ke dalam, memanggil dan mencari sosok Vanya. Panggilan akan nama Vanya semakin menyayat hati saat dia melihat Vanya yang tergeletak di dalam kamar bersimbah darah.
Lidya yang baru saja menerima telepon dari Louis,langsung bergegas menghubungi Luckas. Tanpa menunggu lama,Luckas memberitahu Edward untuk memesan tiket penerbangan paling cepat menuju Bali.
Setelahnya,Luckas menghubungi Martha,ibunya. Dia tidak ingin meninggalkan kedua anaknya begitu saja dan juga dia yakin..dia dan Lidya tidak akan bisa membawa keduanya menuju Bali...sebelum mereka mengetahui kondisi Louis di sana.
__ADS_1
"Mom.. bisakah mom membawa Ayles dan Alysse menginap di rumah Mom untuk sementara waktu?" tanya Luckas saat sang ibu menerima panggilannya.
"Tentu tidak ada masalah.. Mom lebih senang jika mereka di sini.. tapi,apakah ada masalah?" tanya Martha.
"Ya.. aku dan Lidya harus segera ke Bali"
"Baiklah..mom mengerti.." sahut Martha.
"Aku akan menyuruh Edward mengantar mereka beserta Desya ke sana" sahut Luckas "dan.. thank you,mom"
Martha tersenyum, "untuk apa kamu berterima kasih..mereka adalah cucuku.. cucu kesayanganku!! Dan aku yakin.. nenekmu juga akan senang melihat mereka"
__ADS_1
Luckas menghela nafas lega, "baiklah,mom.. Aku harus segera pergi.."