Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
100


__ADS_3

Arga pun membulatkan matanya ketika melihat Retha dan Bella berjalan berdampingan. Diantara mereka bisa ada aura membunuh dari satu sama lain. Sepertinya tembok permusuhan berdiri kokoh diantara mereka. Lihat saja wajah-wajah dingin serta menahan amarah itu. Bisa dipastikan jika mereka berdua berlama-lama dalam satu ruangan bisa terjadi peperangan. Batin Arga.


Mereka berdua berjalan lenggak-lenggok layaknya seorang model diatas karpet merah. Menunjukkan pada siapapun orang yang melihat bahwa mereka mempunyai keunggulan tersendiri. Arga semakin pusing melihatnya.


"Sudah selesai bicaranya?" Tanya Arga basa-basi sepertinya dia harus mencairkan suasana yang sedingin gunung es itu.


"Ternyata kau menyimpan rahasia sebesar ini di belakangku, aku tidak menyangka!" Jawab Retha dengan dingin tak lupa dia juga menampakkan wajah datarnya. Sebetulnya dia sudah ingin tertawa lepas melihat wajah pucat Arga. Dia sudah bisa menebak pasti Arga sudah berpikiran yang tidak-tidak.


"Apa maksudmu?"


"Sudahlah kak jangan mengelak lagi, katakan yang sebenarnya pada istrimu itu."


"Ada apa ini? Aku benar-benar tidak mengerti." Jawab Arga.


"Katakan yang sebenarnya tentang hubungan kita kak!" Desak Bella lagi, kali ini dia benar-benar menikmati wajah Arga yang sudah pucat pasi itu.


"Kita hanya sebatas adik kakak Bella kau tahu dari dulu bukan?"


"Sudahlah Arga jangan mengelak lagi, aku benar-benar tidak habis pikir denganmu. Kita sebentar lagi akan memiliki anak tapi kau masih saja seperti ini!" Ucap Retha dengan wajah sedihnya. Kini air matanya juga sudah mulai merembas keluar membasahi pipinya.


"Sayang... sayang dengarkan aku dulu!" Kata Arga sembari menggenggam kedua tangan Retha.


"Aku hanya sebatas kakak untuknya dan tidak lebih kau bisa tanyakan itu pada Hans." Katanya lagi dia benar-benar pusing sudah mengatakan yang sejujurnya tapi Retha masih saja tidak percaya padanya.


"Kau pasti sudah bekerjasama dengan kak Hans untuk menutupi hubungan kita bukan?" Tanya Bella dia benar-benar berperan sebagai pemanas suasana rumah tangga Retha dan Arga.


"Bel jangan berkata yang tidak-tidak, ku mohon sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda!" Mohon Arga, dia sangat tahu sifat Bella yang sangat jahil itu tapi Retha tidak mengetahui hal itu bukan jadi bisa saja Retha terpengaruh dengan ucapan Bella.

__ADS_1


"Sudah sudah jangan berdebat kalian membuatku semakin pusing saja! Dan untukmu Bella aku berterimakasih banyak kau sudah mengatakan yang sejujurnya!"


Bella hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Retha. Dalam hati dia bersorak gembira dapat menjahili Arga dan sekarang lihatlah wajah paniknya.


"Re kau harus mendengarkan penjelasanku, aku tahu Bella pasti sudah mengatakan hal-hal yang tidak-tidak padamu. Kau harus tahu dia itu sangat pandai menjahili orang dan bersandiwara. Ku mohon percayalah padaku sayang."


"Mana yang harus aku percaya suamiku yang pernah membohongiku atau orang lain yang baru ku kenal!"


"Tidak re, kali ini aku berkata jujur. Dia hanya sebatas adikku tidak lebih, ayolah kau percaya padaku bukan?"


Retha pun melenggang pergi meninggalkan Arga yang masih mencari cara agar Retha percaya padanya. Dengan sigap Arga pun ikut kemana Retha pergi sembari tetap memohon agar Retha mempercayainya. Dan Bella juga mengikuti kemana mereka tentu saja itu membuat Arga semakin kesal setengah mati. Jika saja itu bukan Bella pasti dia sudah melipat anak itu dan membuangnya ke Afrika sana.


Retha benar-benar sudah tidak mampu menahan tawanya melihat Arga yang kelimpungan memohon untuk mempercayainya. Dia pun dengan sebisa mungkin tidak memperlihatkan wajahnya kepada Arga agar memuluskan rencana jahil mereka.


"Ada apa ini?" Tanya Hans, dia sudah mengamati tiga orang tersebut dan sepertinya terjadi sesuatu diantara mereka.


"Tidak ada apa-apa kak, pergilah nikmati pesta pertambahan umurmu itu!" Jawab Bella.


"Apa benar itu Bella?"


"Tidak kak aku tadi hanya mengatakan yang sebenarnya pada kak Retha tapi kak Arga tetap saja mengatakan jika aku sedang berbohong." Jawab Bella karena memang benar adanya dia mengatakan kejujuran tentang hubungannya dengan Arga.


Hans benar-benar tidak mengerti dengan mereka bertiga. Arga yang biasanya terlihat santai dan juga dingin dalam menghadapi masalah tapi kini wajahnya terlihat panik ketika memiliki masalah dengan Retha. Sedangkan dia mengamati Bella sepertinya juga mengatakan yang sebenarnya.


"Hahaha....!" Retha pun tertawa terbahak-bahak. Dia sudah tidak bisa menahan dirinya. Retha pun masih tertawa sembari memegang perutnya yang ikut terguncang. Dimana membuat dua orang laki-laki didepannya menatap heran dengan Retha.


"Aku sudah tidak bisa menahan tawaku lagi Bel, sepertinya rencana kita sudah berhasil!"

__ADS_1


"Aku pikir juga begitu kak." Jawab Bella dia juga sudah tidak bisa menahan tawanya. Dua wanita itu tertawa diatas kebingungan dua laki-laki yang berada didepannya itu.


"Apa maksud kalian?" Tanya Arga yang masih tidak mengerti.


"Bella tadi menyuruhku berbohong untuk mengerjai mu dan ku pikir itu sangatlah berhasil."


Arga hanya bisa melongo menghadapi dua wanita yang sama-sama berharganya dihatinya itu. Yang satu pendamping hidup yang sangat dicintainya dan satunya lagi adik dari temannya yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri itu.


"Jadi kalian berdua bersekongkol untuk membohongiku?"


"Itu rencana Bella ku harap kau tidak marah padaku!" Jawabnya dengan tersenyum dimana membuat Arga tak mampu lagi untuk marah.


"Ya tentu saja aku tidak akan marah tapi kau harus membayar mahal untuk ini semua!"


"Ya Tuhan untung kalian tidak tinggal satu rumah, bagaimana jika kalian tinggal satu rumah mungkin akan membuat rumah itu kebakaran dalam sekejap!" Kata Hans sambil memijat pelipisnya ikut merasakan kekesalan yang Arga rasakan.


"Oh Bella kau tetap saja dari dulu tidak pernah berubah!" Kesal Arga yang berhasil dijahili oleh Bella.


"Hahaha tidak rugi bukan aku merengek pada kalian ketika ingin melanjutkan study aktingku. Sekarang sudah terbukti aku mempunyai bakat akting yang mumpuni!"


"Hans sepertinya aku sedikit menyesal menyetujuinya untuk melanjutkan study aktingnya!"


"Aku mempunyai pendapat yang sama sepertimu Ar!"


"Re lebih baik kita pulang dan tunggu hukumanmu di rumah!" Ajak Arga, dia juga sudah lelah dan kasihan jika melihat Retha lama-lama berdiri seperti itu.


"Tapi pestanya belum selesai Ar!"

__ADS_1


"Tidak perlu menunggu pesta selesai, sekarang hukuman sudah menantimu di rumah!"


Mereka berdua pun berpamitan untuk segera pulang. Selain sudah lelah, kesehatan Retha juga sangat penting bagi Arga. Bergadang juga tidak baik untuk kesehatan ibu hamil. Selain itu Arga juga sudah tidak sabar untuk memberikan hukuman pada Retha.


__ADS_2