Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 10


__ADS_3

Baru setengah perjalanan kini Marcel kembali menepikan motornya tapi bukan di tempat sepi melainkan di sebuah warung makan pinggir jalan lebih tepatnya seperti warung angkringan atau biasa dikenal dengan warung nasi kucing. Orin pun menjadi keheranan bukankah barusan Marcel keluar dari restoran tapi kenapa malah berhenti di tempat makan lagi.


"Kenapa berhenti disini pak?" Tanya Orin dengan raut wajah kebingungan.


"Saya mau makan dulu, kamu kalau mau ikut makan boleh tapi nanti bayar sendiri!" Jawab Marcel sambil melepaskan helmnya kemudian diikuti juga dengan Orin.


"Bapak kan tahu sendiri kalau saya nggak bawa uang!"


"Iya sudah kalau gitu kamu tungguin saya makan aja."


Orin pun dibuat melongo oleh jawaban Marcel, dimana jika seseorang laki-laki biasanya akan mentraktir wanita yang diajaknya ke tempat makan tapi ini semua justru kebalikannya. Orin benar-benar tidak mengerti orang seperti apa Marcel ini, dia memiliki IQ tinggi tapi kenapa sifatnya sangat dingin.


"Pak teh hangat dua!"


"Kamu tunggu saya, saya mau ambil makanan dulu!" Perintah Marcel pada Orin kemudian dia mengambil satu bungkus nasi dan beberapa jenis lauk pauk.


Orin pun berjalan dengan kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai. Guru bermulut cabenya itu memang tidak peka sama sekali. Apalagi sekarang Orin merasakan perutnya juga keroncong ketika melihat beberapa lauk yang tersaji. Ketika tadi di restoran Orin sendiri tidak makan dengan baik. Dia hanya memakan beberapa sendok saja, suasana hatinya sedang buruk jadi nafsu makannya juga buruk.


"Ini pak Marcel teh hangatnya!" Ucap seorang laki-laki paruh baya pemilik warung tersebut.


"Terimakasih pak!" Jawab Marcel dengan hangat. Orin pun mencibir kesal pada Marcel dengan dirinya dia begitu dingin tapi dengan orang lain dia tampak begitu ramah.


"Ini satu untukmu teh hangat gratis agar tidak kedinginan dan besok tidak ada alasan membolos."


"Terimakasih." Jawab Orin dengan ketus dan tanpa berpikir panjang dan juga karena sudah kesal dia langsung meminumnya tanpa meniup terlebih dahulu alhasil mulutnya pun kepanasan.


"Awww...!" Pekiknya ketika lidah serta mulutnya terasa terbakar oleh teh hangat tadi.


"Minum saja masih seperti anak kecil!" Sindir Marcel tapi dia juga dengan telatennya mengusap bibir Orin yang belepotan dengan teh panas tadi.

__ADS_1


Untuk sesaat Orin terpesona dengan perlakuan Marcel tapi dengan sebisa mungkin dia menyangkal akan hal itu. Sedangkan Marcel tiba-tiba dia merasakan hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya. Sebelumnya dia belum pernah merasakan hal itu dan ini untuk pertama kalinya.


"Terimakasih!" Jawab Orin dengan malu-malu, dia yakin untuk saat ini pasti wajahnya sudah memerah. Sebelumnya dia belum pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari laki-laki manapun kecuali Daddy dan kakak laki-lakinya.


Marcel tidak menjawab, dia melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi.


"Ngeselin banget sih! Udah bilang makasih bukannya dijawab malah diem aja!" Batin Orin.


"Pak pesan satu nasi sama lauknya seperti punya saya!" Kata Marcel pada pemilik warung tersebut.


Tak beberapa lama kemudian pemilik warung tersebut pun datang dengan membawa nasi serta beberapa lauk pauk sama persis seperti kepunyaan Marcel.


"Pacarnya yo Pak Marcel? Ayu tenan lho! Pilihane pak Marcel pancen Sawe banget!" Ucap pemilik warung tersebut ketika mengantarkan pesanan makanan milik Marcel.


"Bukan pak tadi Nemu aja dijalan!"


"Pacarnya juga nggak apa-apa to pak? Wong ya kalian berdua kelihatan cocok banget e!"


"Ini makan mumpung saya lagi baik!"


"Terimakasih tapi saya tidak lapar pak!" Jawab Orin kesal bagaimana tidak kesal rasanya dia ingin meremas mulut Marcel yang seenaknya itu.


Krukkkkk


Oh ya Tuhan saat ini Orin sudah seperti kehilangan muka di depan Marcel. Baru saja dia mengatakan jika tidak lapar tapi tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Dasar perut menyebalkan tidak bisa diajak kompromi.


"Jangan berbohong, saya tidak mau jika kamu pingsan karena kelaparan dan merepotkan saya setelahnya."


Orin pun sudah seperti kehilangan harga dirinya di depan Marcel. Ingin rasanya dia tenggelam ke dasar lautan yang paling dalam dan tidak pernah bertemu dengan Marcel lagi.

__ADS_1


"Ayo dimakan ini juga gratis tapi mungkin lain kali akan saya anggap hutang!"


Akhirnya Orin pun mengambil makanan yang sudah dipesankan oleh Marcel. Percuma dia menolak pun sudah terlanjur malu. Jadi lebih baik dia makan saja toh perutnya juga sudah sangat lapar.


Dalam hati Marcel ingin tertawa terbahak-bahak. Dia menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan sedikitpun suara tertawanya di depan Orin. Marcel tahu pasti saat ini Orin sangat kesal padanya. Bagaimana dia tidak tahu dia adalah mahasiswa lulusan psikologi di Universitas ternama di luar negeri. Jadi gerak tubuh Orin dapat terbaca dengan mudah olehnya.


Orin pun memakan nasi tersebut dengan lahap. Dia sendiri belum pernah makan ditempat seperti itu. Kebanyakan dari keluarga maupun teman-temannya mereka memilih makanan restoran yang sudah terjamin kebersihannya.


Setelah selesai makan mereka pun melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan Orin pulang. Di dalam mereka hanya diam berkelut dengan pikiran masing-masing. Tak beberapa lama kemudian mereka pun sampai di depan rumah Orin.


"Terimakasih banyak pak atas timpangnya, ini adalah perjalanan paling menegangkan yang pernah saya rasakan!" Sarkasme Orin ketika dia sudah mulai melepaskan helmnya.


"Sama-sama saya harap kamu tidak pernah melupakan perjalanan yang menegangkan ini."


"Oh ya saya mau minta nomor ponsel kamu, saya akan mengirim jadwal tambahan matematika padamu nanti?"


Orin pun mengambil ponsel yang sodorkan oleh Marcel. Jari-jari lentiknya menyentuh beberapa angka lalu menyimpannya pada ponsel Marcel.


"Cepatlah masuk jangan tidur terlalu malam! Kau bisa terlambat besok dan akan mendapatkan hukuman yang tidak akan kamu lupakan."


Orin langsung membalikkan badannya tanpa melihat wajah Marcel yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Setelah Orin masuk rumah Marcel baru pergi dari tempat tersebut dan kembali ke tempat tinggalnya sendiri.


Sesampainya di dalam rumah Orin tidak melihat orang tuanya. Dia hanya melihat beberapa penjaga yang selalu berada di pos penjaga rumahnya. Orin pun segera masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan dirinya di atas ranjang.


Dia baru teringat jika ponselnya masih bersama sang Oma, akhirnya dia pun mengambil ponsel yang ada di laci nakasny dan menghubungi seseorang. Setelah beberapa dering panggilan akhirnya orang diseberang sana pun mengangkat panggilan darinya.


"Ada apa sih Rin? lu kagak tahu ini tuh udah malem banget!" Kesal Aneta karena Orin mengganggu jam tidurnya.


"Baru juga jam sebelas Net biasanya lu juga belum tidur, gue mau cerita sesuatu nih!"

__ADS_1


"Besok aja kalau mau cerita, gue udah nggak kuat pengen tidur!" Jawab Aneta lalu mematikan panggilan sepihak dan melanjutkan tidurnya.


Orin pun semakin kesal, sudah kesal dengan Oma serta opanya lalu dengan Marcel dan sekarang dengan Aneta yang tidak mau mendengarkan ceritanya. Akhirnya dia pun memutuskan untuk berganti pakaian dan tidur.


__ADS_2