Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
62


__ADS_3

Sesampainya di rumah Retha belum menemukan mobil suaminya. Retha pun mendesah kesal pasti dia belum sampai dirumah padahal tadi berjanji untuk pulang cepat, pikir Retha.


Padahal baru tadi pagi Arga meminta izin untuk pergi bekerja dan ini baru sore hari tapi dia sudah merindukan suaminya itu.


Kemudian Retha berlalu masuk kedalam kamarnya. Sesampainya dikamar dia segera membersihkan diri, tubuhnya terasa lengket seharian berada diluar rumah.


Selesai mandi dia ingin menonton tv sembari menunggu suaminya itu pulang. Dia tidak henti-hentinya menggerutu dan memaki suaminya yang tak kunjung pulang itu.


"Awas saja nanti kalau pulang!" Gerutu Retha.


Ditempat lain Arga sedang memeriksa beberapa berkas sebelum dia pulang kerumah. Hari ini cukup melelahkan untuknya, dia harus menghadiri empat meeting sekaligus dalam sehari. Dia pun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya.


Saat sedang mengecek beberapa berkas tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelepon dia segera mengangkatnya.


"Sayang....!" Ucap seorang wanita diseberang telepon sana.


"Mau apa lagi?" Tanya Arga dengan nada dingin.


"Emm sepertinya kau mau bermain-main denganku ya?"


"Apa maksudmu?" Tanya Arga kembali.


"Kau menyuruh orang untuk meretas semua ponsel dan juga laptopku kan? Untuk apa memangnya, kau mencari video kita? Jangan harap kau bisa menemukannya. Aku tidak sebodoh yang kau kira. Jadi jangan macam-macam denganku!"


"Jangan terlalu sombong dulu Ivanka, mungkin saat ini aku memang belum menemukannya tapi jika aku sudah menemukan bukti itu, jangan harap nyawamu masih ada dibadanmu!" Peringat Arga pada Ivanka.


Kemudian Arga segera mematikan ponselnya dia benar-benar kesal bagaimana bisa anak buahnya gagal untuk meretas ponsel Ivanka bukankah itu sangat memalukan.


Arga pun kembali mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Arga pada seseorang diseberang telepon sana.


"Maaf tuan untuk saat ini kami belum menemukannya." Ucap orang itu dengan takut-takut.


"Kenapa bisa Joe? bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mencari orang yang pandai dalam bidang ini?"


"Benar tuan tapi sepertinya nona Ivanka mempunyai orang-orang dari petinggi pemerintahan, jadi itu sangat sulit untuk kita langsung melakukan eksekusi."


Arga pun geram dia segera mengakhiri panggilan telepon tersebut. Membahas Ivanka benar-benar membuat moodnya menjadi buruk. Dia harus segera pulang kerumah dan bertemu istrinya.

__ADS_1


Dia segera keluar ruangan kerjanya dan langsung disambut oleh Leo sang asisten yang begitu setia padanya.


"Pulang sekarang tuan?" Tanya Leo.


"Hem."


Saat sudah sampai di lobby perusahaannya, Arga melihat jam tangannya ternyata sudah pukul delapan. Dan tadi dia sudah berjanji untuk pulang awal pada istrinya. Sudah bisa dipastikan saat ini pasti istrinya akan marah.


Didalam perjalanan Arga sangat gelisah menurutnya mobil yang ditumpanginya melaju dengan sangat pelan.


"Kau ini bisa lebih cepat lagi tidak Le?" Tanya Arga.


"Bisa Tuan muda."


Kemudian Leo memacu kendaraannya dengan lebih cepat lagi. Untung saja jalanan sudah mulai agak sepi dan mobil yang mereka tumpangi juga merupakan mobil dengan kecepatan tinggi jika tidak bisa bisa Leo akan ditelan hidup-hidup oleh bos arogannya itu.


Sesampainya dirumah tanpa menunggu Leo membukakan pintu untuknya dia segera berlalu masuk kedalam rumah. Saat akan naik tangga dia bertemu dengan salah satu maid.


"Dimana Retha?"


"Nyonya muda sedari tadi sore berada dikamarnya tuan muda," Ucap maid itu dengan hati-hati.


Setelah itu Arga kembali berlalu meninggalkan maid tersebut dan naik keatas. Saat sampai didepan pintu dia terlihat begitu gugup alasan apa yang digunakan untuk membujuk istrinya itu. Dia pun menarik nafas dan kemudian menghembuskan lagi guna menetralkan rasa gugupnya. Melihat istrinya yang sedang marah akan lebih mengerikan daripada melihat seekor singa.


Kemudian Arga masuk kedalam kamar, dilihatnya sang istri sedang menonton tv. Tetapi saat melihat keberadaan suaminya itu Retha segera merebahkan diri kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Sudah tidur sayang?" Tanya Arga sembari melepaskan sepatunya.


"Sudah!" Jawab Retha ketus.


Arga pun menahan tawanya, bagaimana tidak mana ada orang yang sedang tidur tetapi bisa menjawab pertanyaan. Arga ingin meledakkan tawanya tapi dia tahan, jika Retha sampai tahu Arga menertawakan dirinya bisa-bisa Arga tidur dikamar tamu selama satu Minggu.


Kemudian Arga segera membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mendekati istrinya. Arga benar-benar menjaga kebersihan dirinya apalagi jika sedang berada disamping istrinya dia harus tetap wangi.


Selesai membersihkan diri kemudian Arga menuju walk in closet untuk mencari piyama tidurnya. Hari ini Retha benar-benar tidak menyiapkan kebutuhannya itu berarti dia benar-benar marah. Arga pun dapat memakluminya karena sepulang dari liburan kemarin mereka belum pernah pergi berdua lagi. Jangankan untuk jalan-jalan pergi ke rumah mama dan papanya saja dia tidak sempat.


"Sayang...!!!" Ucap Arga sembari naik ke atas ranjang.


Retha yang merasakan ranjangnya sedikit bergoyang-goyang pun segera menepikan tubuhnya dan membelakangi Arga.

__ADS_1


"Sayang ayo bangun makan malam dulu!" Kata Arga sambil merapatkan dirinya ke tubuh Retha. Retha segera menepikan tubuhnya lagi. Tiba-tiba saja.....


Bughh....


Tubuh Retha terjatuh dari atas ranjang. Arga yang melihat itu pun rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Tapi dia menahan tawanya agar tidak keluar begitu saja.


"Sayang kau tidak apa-apa?" Tanya Arga kemudian dia turun dan melihat tubuh istrinya apakah ada yang lecet atau tidak.


"Sakit..." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian Arga segera meraih tubuh mungil istrinya lalu mengangkatnya kembali ke atas ranjang.


"Mana yang sakit?"


"Ini!" Jawab Retha sambil menunjukkan sikunya yang terbentur lantai.


Kemudian Arga meniup pelan-pelan siku istrinya itu. Lihat bagaimana sekarang manja istrinya itu padahal dahulu yang lebih terlihat manja adalah suaminya.


"Makanya jangan terlalu kepinggir jadinya jatuh kan?"


"Ini semua juga gara-gara kamu," Ucapnya tidak mau kalah.


"Iya iya aku minta maaf ya sayang?"


"Tidak mau!" Ucapnya kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.


Arga menghembuskan nafasnya pelan, tampaknya dia harus berusaha lebih untuk membujuk istrinya itu.


"Kalau begitu bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?"


Retha yang mendengar kata jalan-jalan itupun langsung membalikkan wajahnya menatap suaminya.


"Benarkah?"


"Iya, besok aku akan menuruti semua yang kamu mau, jadi jangan marah lagi!" Kata Arga sambil memelas kan wajahnya untuk menarik simpati sang istri.


"Baiklah kalau begitu aku mau besok kita berkencan seperti anak-anak remaja itu."


"Terserah kau saja yang terpenting jangan marah lagi ya sayang?"

__ADS_1


Retha pun mengangguk-anggukkan kepalanya, Arga seperti mendapat hawa segar. Terserah besok istrinya mau melakukan apa untuk dirinya yang terpenting sekarang dia bisa tidur dan memeluk istrinya.


__ADS_2