
Orin pun mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok sahabatnya yang katanya sudah tiba itu. Tapi bukannya Aneta yang dia lihat melainkan pemandangan panas yang lagi-lagi membakar mata serta hatinya.
"Cih dasar tukang tebar pesona!" Decih Orin kemudian dia pun mengalihkan pandangannya. Tapi rasanya sulit seperti ada magnet yang menarik lehernya untuk melihat ke arah Marcel. Dan tiba-tiba saja pandangan mereka bertemu dimana membuat Orin gugup seketika. Buru-buru dia mengalihkan kembali pandangannya ke sembarang tempat sebelum lebih malu lagi.
"Kenapa disini jadi panas banget sih!" Geurutu Orin pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian orang yang di tunggu-tunggu pun datang. Aneta dengan gaun berwarna hijau tua dengan perpotongan yang pas pada tubuhnya. Tak lupa dia juga menenteng tas yang jika ditafsir harganya puluhan juta itu.
"Lu lama banget sih Net?" Tanya Orin dengan nada kesal, kakinya rasanya sudah kesemutan berdiri menggunakan high heels sejak tadi.
"Sorry sorry tadi gue masih di salon." Jawab Aneta sembari menyengir kuda dimana membuat Orin hanya bisa menghembuskan nafasnya kesal.
"Ya udah yuk, kita keliling-keliling siapa tahu ada cogan yang bisa di jadiin pacar!" Ajak Aneta dan Orin pun hanya bisa pasrah mengikuti kemana Aneta membawanya.
Saat mereka berkeliling, mereka pun bertemu dengan Marcel dan para fans fansnya yaitu para siswi siswi yang mencari perhatian pada Marcel. Padahal Marcel terkenal guru killer serta dingin tapi itu malah menjadi daya tarik pada dirinya sendiri.
Banyak para siswi yang mengerubungi Marcel, mereka berbondong-bondong memberikan kado pada Marcel. Sebenarnya Marcel sendiri tidak nyaman dengan perlakuan para siswi tersebut tapi demi menjaga imagenya dengan terpaksa dia menerima setiap kado yang diberikan lalu mengucapkan terimakasih tak lupa dengan senyum manisnya yang mampu melelehkan candi Borobudur itu.
"Ih pak Marcel ganteng banget sih malam ini!" Ucap Aneta yang memandang Marcel dari kejauhan.
"Ganteng apanya, tukang tebar pesona gitu! Pasti tuh dia playboy!" Kata Orin dengan kesal. Orin sendiri tidak mengerti kenapa dia menjadi kesal ketika melihat Marcel tersenyum dengan siswi lainnya.
"Ya elah pak Marcel tuh bukan tebar pesona kali Rin emang pesonanya aja yang menebar kemana-mana!"
"Masih gantengan juga Zayn Malik." Jawab Orin semakin kesal karena sekarang para siswi tersebut berebut untuk ber-swa foto dengan Marcel.
__ADS_1
Semakin malam acara tersebut pun semakin ramai. Bagaimana tidak ramai, tanpa tanggung-tanggung panita penyelenggara mengundang band-band terkenal tanah air. Lagipula sekolah Orin merupakan sekolah paling elit di ibukota dan siswa-siswinya pun banyak dari anak pengusaha bahkan penjabat negara.
Orin mulai tidak nyaman dengan situasi seperti itu, dia mulai mengeluarkan keringat dingin. Rasanya dia sangat gugup dengan adanya banyak orang seperti ini. Apalagi saat acara dimulai yang menimbulkan semakin keriuhan dari semua orang.
"Net gue pergi ke toilet bentar ya?" Pamit Orin pada sahabatnya itu. Saat ini mereka tengah berdiri di pinggiran dan bergabung dengan teman-teman lainnya.
"Lu gapapa Rin?" Tanya Aneta khawatir saat melihat raut pucat dari wajah Orin. Apalagi dengan keringat sebesar biji jagung yang membasahi keningnya itu.
"Gue gapapa Net, pengen ke toilet aja!" Jawab Orin sambil meyakinkan Aneta jika dirinya baik-baik saja. Padahal saat ini Orin sudah sangat gugup, bayangan akan masa kecilnya tiba-tiba berputar di otaknya tanpa diminta sekalipun.
"Mau gue temenin?" Tawar Aneta dia tidak yakin jika sahabatnya itu baik-baik saja.
"Nggak perlu, gue bisa sendiri. Lu gabung sama temen-temen yang lain aja!"
Orin pun pergi meninggalkan teman-temannya, rasanya dia sudah tidak sanggup lagi berdiri disana lebih lama lagi. Dia berjalan menepi meninggalkan keramaian menuju tempat sepi yang akan membuatnya lebih nyaman.
"Huft kenapa jadi gini banget sih gue! Gue juga pengen kayak temen-temen yang lain. Tersenyum, ketawa, buat pesta yang mewah!" Monolog Orin pada dirinya sendiri tak terasa air matanya jatuh begitu saja. Dengan cepat dia mengusap kasar air matanya.
Kenangan masa kecil memang mampu merubah sikap serta perilaku seseorang dimasa yang akan mendatang. Apalagi kenangan buruk dimasa lalu itu sangat berpengaruh pada kepribadian saat ini. Contohnya saja yang terjadi pada Orin, masa lalunya yang buruk di masa kecil sangat berpengaruh dengan kehidupannya yang sekarang. Padahal orangtuanya sendiri sudah mengupayakan segala cara agar Orin bisa terbebas dari kenangan buruknya tapi ternyata semuanya hanya nihil.
"Biar kamu nggak terlalu tegang!" Ucap seseorang sambil menyerahkan satu cup hot chocolate. Orin pun segera menengok siapa gerangan yang mendatanginya saat ini.
"Pak Marcel?" Ucap Orin gugup entah kenapa bertemu dengan guru bermulut pedas itu sekarang malah membuatnya gugup.
"Minumlah agar kamu rileks, kata orang-orang minuman coklat mampu membuat seseorang menjadi rileks." Katanya sambil duduk di dekat Orin tanpa permisi.
__ADS_1
"Kenapa bapak disini? Bagaimana dengan fans-fans bapak tadi?" Tanyanya dengan nada kesal yang kental. Setelah bertanya seperti itu dia baru sadar, untuk apa dia bertanya seperti itu? Bahkan mereka saja bukan sepasang kekasih tapi rasanya Orin sudah seperti kekasih yang sedang cemburu.
Marcel pun mengernyitkan keningnya, sedikit bingung dengan nada bicara Orin yang dirasa kurang bersahabat.
"Maksudnya?"
"Ah tidak tidak lupakan. Terimakasih!" Jawabnya dengan gugup kemudian mengalihkan pandangannya ke lain tempat.
"Saya juga tidak mengerti dengan mereka, padahal yang sedang berulang tahun itu sekolah bukan saya tapi mereka malah memberi kadonya ke saya!" Ungkapnya sambil menggelengkan kepalanya dan tak lupa senyum manisnya yang dia sunggingkan.
Oh tidak senyum manis itu mampu menggelitik hati Orin yang paling dalam. Senyum dari pria yang sekarang duduk disampingnya.
"Kenapa disini? Apa kamu tidak nyaman dengan pesta atau keramaian?" Tanyanya dan sekarang dia memutar tubuhnya menghadap ke Orin sepenuhnya. Orin benar-benar merasa dibuat melayang, dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya tapi tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat sepasang mata tajam itu mengamati dirinya dengan intens. Orin tak mampu menatap mata itu balik dia hanya bisa melirik dengan ekor matanya.
"Ti..tidak aku hanya lelah saja, tidak terbiasa menggunakan sepatu hak tinggi!" Bohongnya. Tentu saja Orin berbohong tentang traumanya yang berada di keramaian pesta. Dia hanya tidak mau dianggap aneh orang lain. Dimana pesta membuat orang lain bahagia tapi malah membuat dirinya sesak.
"Jangan berbohong Orin! Aku tahu kau sangat tidak nyaman berada disini!" Batin Marcel masih menatap siswinya yang mampu memporak-porandakan hatinya itu. Dia akui cinta itu tumbuh kembali setelah melihat sosok yang amat dia rindukan.
"Mau ikut dengan saya?"
"Kemana?"
"Ke tempat yang mungkin akan membuatmu merasa nyaman."
Orin masih menimbang-nimbang keputusannya terlebih dahulu. Malam ini banyak perubahan yang Orin lihat dari Marcel. Biasanya dia akan berkata pedas tapi untuk malam ini rasanya malah menjadi manis.
__ADS_1
Setelah mendapatkan keputusannya akhirnya Orin pun menyetujui untuk ikut kemana Marcel membawanya. Dia yakin jika Marcel tidak akan berbuat macam-macam padanya. Sebelum pergi dia lebih dulu memberi kabar jika pulang terlebih dahulu. Dan tak lupa juga memberikan kabar pada mang Asep yang sejak tadi menunggunya.