
"Itu pak Marcel kan Rin? Gue nggak salah lihat kan?" Tanya Aneta yang terkejut ketika melihat Marcel sedang duduk bersama dengan seorang wanita. Tampak dari raut wajahnya mereka terlihat begitu bahagia. Saling tertawa bersama terkadang bertukar lelucon.
"Iya mata lu masih normal kok, gue juga lihat! Ya udah pergi aja yuk!" Ajak Orin dan hendak mendorong Aneta keluar dari kafe tersebut.
"Jangan pergi dong! Emang lu nggak kepo sama cewek cantik yang di depan tuh pak Marcel?"
"Nggak sama sekali!" Bentak Orin dengan ketus dimana membuat Aneta menoleh seketika.
"Lu kenapa Rin cemburu ya?"
"Siapa juga yang cemburu sih! Yang bener aja lu Net!" Jawab Orin agak gugup. Dia sendiri tidak tahu kenapa malah membentak Aneta. Yang lebih tidak dia mengerti ketika melihat Marcel tertawa dengan wanita lain hatinya terasa seperti dicubit sedikit nyeri.
"Ya udah kalo lu emang nggak cemburu mending kita nguping duduk disana tuh!" Ajak Aneta kemudian mereka duduk tepat dibelakang Marcel. Dalam hati Orin berharap Marcel tetap fokus ke depan dan tidak menoleh sedikitpun jika sampai itu terjadi habislah dia.
Sebenarnya Orin sendiri juga penasaran siapa wanita yang sekarang sedang berbicara dengan Marcel. Mereka tampak sangat akrab, apakah itu kekasih Marcel? Bisa jadi karena mereka juga terlihat begitu kompak.
Dalam hati Orin benar-benar merutuki tingkah Marcel yang menurutnya kekanakan itu. Ya, Marcel kekanakan sebab menurutnya Marcel tidak masuk mengajar tapi malah berkencan.
Setelah beberapa saat mereka duduk, tak lama kemudian seorang pelayan wanita dengan membawa daftar menu serta sebuah buku catatan kecil.
"Mau pesan apa kak?" Tanya pelayan tersebut dengan ramah. Sementara mereka berdua memilih beberapa menu makanan yang menggugah selera mereka berdua. Karena mereka berdua tidak ingin mengeluarkan suara yang nantinya akan menimbulkan kecurigaan Marcel jadi mereka hanya menunjuk beberapa makanan tersebut dimana membuat pelayan tersebut kebingungan.
Tadi saat melihat dua gadis itu masuk, mereka tampak berbincang-bincang tapi kenapa mereka sekarang seolah seperti orang yang tidak bisa berbicara. Pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya tingkah anak orang kaya memang ada-ada saja. Pikir pelayan wanita itu.
Setelah mencatat daftar makanan yang mereka pesan pelayan tersebut kembali ke dapur memberikan daftar makanan yang mereka pesan pada sang koki.
Tak lama kemudian Aneta mendapatkan panggilan di ponselnya dengan segera gadis berambut coklat itu mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Ada apa ma?" Tanya Aneta pada seseorang di seberang sana yang ternyata adalah sang mama. Orin yang mendengar Aneta berbicara keras itu pun melotot seketika. Dengan segera Orin membekap mulut Aneta dimana membuat sang empunya mulut meronta-ronta.
"Kenapa sih Rin, gue lagi bicara sama mama nih!" Kesal Aneta tanpa dosa. Gadis itu tidak menyadari dengan kode-kode yang sudah di berikan Orin.
Seketika Orin menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Sahabatnya itu benar-benar payah atau bodoh sih! Batin Orin.
Marcel yang mendengar suara-suara ribut dari belakangnya itu pun segera menoleh. Sebab bukan itu saja dia juga mendengar seseorang memanggil nama orang yang sangat dia kenal. Dan benar saja meskipun mereka hanya terlihat rambutnya saja tapi Marcel mampu mengenali jika itu adalah Orin dan juga sahabatnya.
"Kalian ada disini?" Tanya Marcel pada dua orang yang sedang duduk membelakanginya.
"Eh ada pak Marcel ya!" Kata Aneta basa-basi sekarang dia mengerti kenapa sejak tadi Orin melotot kearahnya. Sementara Orin dia menenggelamkan kepalanya diatas meja, benar-benar sangat memalukan.
"Sedang apa kalian disini?" Tanya Marcel lagi.
"Ehm kami tadi tidak sengaja mampir sebentar untuk istirahat dan sekarang mau pulang!" Jawab Orin buru-buru kemudian dia meraih lengan Aneta.
Dan saat hendak meninggalkan meja tersebut tiba-tiba saja dua orang pelayan datang mengantarkan makanan serta minuman yang mereka pesan. Orin benar-benar ingin menenggelamkan dirinya ke dasar laut saja, dia sudah malu kepalang tanggung.
"Ini pesanan atas nama kak Aneta kan?" Tanya pelayan tersebut dan Aneta hanya mengangguk. Tidak mungkin kan mereka bilang tidak sementara itu memang makanan yang mereka pesan meskipun sudah dibayar.
"Mas taruh di meja saya saja, kita akan makan bersama!" Perintah Marcel pada dia pelayan tersebut.
"Wah benar pak Marcel mau makan bersama?" Tanya Aneta antusias. Orin benar-benar tak mengerti sejak kapan sahabatnya itu menggilai sang guru killer.
"Tentu jika kalian tidak keberatan!"
"Kam-!" Belum sempat Orin menjawab Aneta buru-buru mencubit paha Orin dimana membuat gadis itu meringis.
__ADS_1
"Tentu saja kami tidak keberatan pak!"
Akhirnya mereka berdua pun pindah duduk di depan Marcel serta wanita yang sejak tadi hanya diam mengamati mereka yang sedang berbincang-bincang.
Orin hanya bisa menundukkan kepalanya, dia benar-benar malu dengan tingkah Aneta yang menurutnya berlebihan itu apalagi sekarang Marcel dengan seorang perempuan, apa itu tidak akan menganggu acara romantis mereka? Pikir Orin.
Dengan sangat terpaksa Orin pun memakan makanan yang sudah dia pesan dengan tidak berselera sebab dihadapannya sekarang ada dua manusia yang sejak tadi mengamati setiap gerakan yang dia lakukan. Gerakan sekecil apapun rasanya tidak luput dari pandangan mereka.
Selang beberapa lama kemudian mereka sudah menyelesaikan makan mereka begitu pula dengan Marcel dan wanita yang berada disebelahnya itu. Ternyata sejak tadi Marcel juga masih menunggu makanan yang dia pesan juga.
"Ini sudah jam pulang sekolah kenapa kalian belum pulang dan malah berkeliaran disini?" Tanya Marcel setelah mereka benar-benar menyelesaikan acara makan-makannya.
"Kami berdua sedang mencari gaun pak, lagipula kami juga sudah izin dengan orang tua." Jawab Aneta entah kenapa sekarang rasa takutnya pada Marcel mulai berkurang dan digantikan dengan rasa kagum.
"Pak ini istri atau pacarnya?" Tanya Aneta tiba-tiba dimana membuat Orin tersedak ludahnya sendiri. Sekarang rasa malunya bertambah banyak kali lipat dan baru kali ini dia menyesal berteman dengan Aneta.
"Ini teman saya, perkenalkan namanya Alea, dan Alea perkenalkan ini anak-anak muridku!" Gadis bernama Alea itupun tersenyum ramah pada mereka.
"Cantik banget sih kak!" Celetuk Aneta lagi dimana membuat Orin ingin mengubur gadis itu hidup-hidup saja.
"Kalian juga sangat cantik kok!" Jawabnya dengan ramah, dalam hati Orin hanya bisa tersenyum kecut apa mungkin mereka hanya berteman? Laki-laki dan perempuan murni hanya berteman? Menurutnya itu sangat-sangat tidak mungkin. Apalagi jika dilihat-lihat wanita bernama Alea itu sangatlah cantik dan terlihat seperti wanita yang pintar.
Sebelum Aneta mengatakan yang tidak-tidak, Orin segera mengajak gadis tersebut pergi dari sana. Sebelum Orin pergi, Marcel pun mengatakan sesuatu "Maaf satu Minggu ini tidak mengajarimu lagi, saya sedang ada urusan!"
Dan Orin hanya menjawab dengan sebuah deheman.
"Urusan? Memang urusan apa? Berkencan?" Kesal Orin dalam hati ketika mengingat keakraban mereka.
__ADS_1