
Sepanjang makan malam tidak banyak yang Orin bicarakan dia lebih memilih diam dan menunduk hanya sesekali menjawab ketika dia ditanya. Sedangkan Alex pria itu berusaha mengambil hati opa dan Oma Orin fan sepertinya itu berhasil karena sejak tadi baik opa Johan maupun Oma Rani tidak henti-hentinya memuji Alex yang meskipun masih muda tapi sedikit demi sedikit sudah bisa membantu di perusahaan milik kakeknya.
"Papa mamamu nggak pulang Lex?" Tanya Oma Rani dari yang mereka tahu jika Alex di Indonesia ikut opanya sedangkan orang tuanya mengurus bisnisnya yang ada di luar negeri.
"Belum tahu Oma, lagian adik juga belum ada waktu libur jadi mungkin lain kali!" Jawab Alex dengan sopan dimana membuat Orin ingin muntah saja. Alex yang biasanya suka bicara dan membual itu tiba-tiba saja menjadi seorang yang pendiam serta memiliki sopan santun yang tinggi.
"Oh ya cucu kamu yang satunya dimana Jo?" Tanya opa Baskara.
"Kuliah di Amerika Bas, dia juga udah lama nggak pulang." Jawab opa Johan sambil meminum kopi yang dia pesan tadi.
"Em Oma Orin mau ke toilet bentar ya!" Izin Orin sambil berbisik di telinga omanya. Rasanya dia ingin segera lari dari sana tapi bagaimana caranya dia saja datang kesini bersama opa dan omanya.
"Ya sayang jangan lama-lama!"
"Semuanya Orin pamit ke toilet sebentar ya!" Ucap Orin tanpa mengurangi rasa hormat pada orang yang lebih tua darinya.
Akhirnya Orin pun bisa bernafas lega dia pun berjalan ke arah toilet ahar tidak menimbulkan kecurigaan dari mereka semua. Dan sepanjang perjalanan tak henti-hentinya dia menggerutu dan sesekali memaki omanya yang tidak kenal lelah untuk menjodohkannya itu.
Setelah sampai di toilet dia baru ingat jika dia lupa untuk membawa tasnya. Dia benar-benar merutuki kebodohannya sekarang. Bagaimana caranya pulang jika dia saja sekarang tidak membawa uang.
__ADS_1
"Ish bodoh banget sih gue, kenapa lagi pakai acara lupa bawa tas!" Kesal Orin sambil mencuci tangannya dan berpikir bagaimana caranya pulang tapi tanpa sepengetahuan orang-orang itu.
Sementara itu Alex mulai tampak gelisah karena sejak tadi Orin tak kunjung juga kembali. Ingin melihat tapi rasanya tidak enak nanti mereka semua tahu jika Alex memang sudah menyukai Orin sejak lama. Ternyata laki-laki itu masih menyimpan gengsi diatas egonya.
Setelah selesai dari toilet, Orin berjalan mengendap-endap keluar dari restoran tersebut. Dia melewati pintu belakang restoran tersebut demi menghindari untuk kembali bersama omanya. Apalagi setelah keluar dari restoran dia juga harus bisa lolos dari sopir yang sedang menunggu di mobil.
Akhirnya Orin pun bisa bernafas lega ketika sudah berjalan menjauh dari restoran tersebut. Dia memaki dirinya sendiri karena merasa sudah salah memilih pakaian. Bagaimana tidak hari ini dia memakai gaun yang melekat dan membentuk tubuh indahnya itu dan juga gaun tersebut tidak memiliki lengan hingga dengan mudahnya angin malam menyapa lengan mulusnya.
"Orin kemana sih ma, ke toilet kok lama banget?" Tanya opa Johan pada Oma Rani karena sudah hampir tiga puluh menit Orin tak kunjung juga kembali.
"Nggak tahu pa, apa jangan-jangan dia nekat kabur lagi? Ini tas sama ponselnya aja masih Oma pegang." Jawab oma sambil berbisik tidak ingin percakapan mereka didengar oleh Baskara.
Yang ditanya pun masih bingung untuk menentukan jawaban apa yang pas dan tidak menyinggung mereka.
"Tadi Orin kirim pesan ke Oma kalau ternyata dia sedang tidak enak badan jadi dia pulang duluan sama sopir." Jawab oma dengan nada meyakinkan agar mereka tidak mengetahui kebohongan yang dibuat olehnya.
"Kenapa nggak balik kesini dulu Ran tadi, kan bisa minta tolong biar Alex yang nganterin Orin pulang?"
"Orin tuh nggak enakan anaknya Bas, jadi dia nggak mau ngrepotin siapapun."
__ADS_1
Kemudian mereka pun melanjutkan pembicaraan yang tertunda. Dalam hati Oma benar-benar tidak habis pikir dengan Orin padahal dirinya hanya ingin yang terbaik untuk Orin. Dia menjodohkan dirinya dengan para cucu sahabatnya bukan tanpa sebab. Saat ini pergaulan anak muda sangatlah bebas dia hanya tidak ingin saja Orin melakukan hal menyimpang seperti itu maka dari itu dia memperkenalkan Orin pada cucu sahabat-sahabatnya yang sudah dia ketahui seluk beluknya.
Diluar sana Orin hanya menggerutu sepanjang perjalanan. Dia benar-benar kesal pada sang Oma dan Opa yang sudah memilih restoran ditempat private seperti ini. Sejak keluar dari restoran tidak ada satupun kendaraan yang melintas untuk dia mintai tumpangan.
"Ah kenapa ponselku juga lupa sih! Kan jadinya nggak bisa pesen taksi online. Mana jalannya masih jauh gelap lagi. Ih capek banget deh!" Monolog Orin pada dirinya sendiri. Kemudian dia memilih duduk ditepi jalan untuk mengistirahatkan kakinya barang sebentar saja. Bukannya dia manja memang dasarnya Orin tidak pernah olahraga jika bukan karena ada mata pelajaran olahraga jadi berjalan sebentar saja dia sudah merasa lelah.
Saat sedang istirahat tiba-tiba saja Orin melihat sorot sebuah lampu motor yang akan melintas didepannya. Dengan segera Orin pun berlari ke arah tengah jalan untuk menghentikan motor tersebut. Dimana membuat pengendara tersebut kesal setengah mati padanya. Untung saja pengendera tersebut dapat menghentikan motornya dengan cepat jika tidak mungkin gadis didepannya yang sedang merentangkan tangannya itu sudah dia tabrak.
Sementara Orin tak henti-hentinya merapalkan doa didalam hatinya. Dia berdoa semoga saja pengendara tersebut tidak benar-benar akan menabraknya.
"Mbak gila ya? kalau mau bunuh diri jangan disini dong, mending lompat dari gedung aja sana!" Teriak si pengendara pada Orin yang masih berdiri tak bergeming dari tempatnya itu.
Orin tampak mengerutkan kedua alisnya hingga menyatu. Dia tidak dapat melihat dengan jelas siapa orang yang sedang mengendarai motor didepannya itu karena pengendara tersebut tidak mematikan mesin motornya hingga lampunya masih menyorot wajah Orin. Tapi dia tidak asing dengan suara tersebut. Bahkan bukan suaranya saja yang dia pernah dengar tapi kata-katanya yang pedas itu sepertinya dia pernah juga mendengar.
Dengan kaki yang masih gemetar itu Orin menghampiri pengendara tersebut, ada sedikit perasaan kesal dalam hatinya karena orang tersebut mengatai dirinya gila? Oh yang benar saja dirinya masih waras.
Setelah sampai disamping pengendara tersebut Orin benar-benar dibuat terkejut. Kenapa dalam situasi seperti ini dia malah dipertemukan dengan orang ini?
*** **KIRA-KIRA ORIN KETEMU SAPA YA GUYS? Penasaran kan? Sama saya juga wkwk
__ADS_1
❤️ Selamat malam Minggu untuk semuanya**!