
Satu Minggu kemudian
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Retha. Bagaimana tidak hari ini dia akan wisuda tentu saja setelah itu dia akan bekerja yang sesuai dengan keinginannya.
Sejak pagi dia sudah terbangun, banyak orang yang berlalu lalang masuk ke dalam rumahnya. Bagaimana tidak suaminya memanggil beberapa perias wajah hanya untuk mendadani istri tercintanya itu.
Retha sebenarnya kurang setuju dengan sikap Arga yang dia anggap terlalu berlebih-lebihan itu. Seharusnya dia tidak perlu mengundang beberapa orang untuk merias, bukankah satu orang saja sudah cukup, batin Retha.
Sesuai permintaan Arga gaun yang sudah di pesan khusus untuk istrinya sudah datang. Gaun berwarna peach dengan lengan panjang dan beberapa centi dibawah lutut. Arga sengaja tidak memesankan kebaya yang biasa dipakai saat wisuda. Dia lebih senang jika Retha menggunakan gaun. Karena menurutnya jika menggunakan kebaya akan lebih memperlihatkan bentuk tubuhnya.
Acara wisuda akan dimulai pukul 10.00 WIB saat ini masih pukul 08.00 dan riasan Retha belum selesai. Retha sudah meminta kepada perias untuk tidak memakaikan make up yang tebal.
Saat Retha sedang dirias tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Ternyata suaminya yang masuk ke dalam kamar. Kini Arga sudah tampan dengan balutan jas tuxedo yang pas di tubuh atletisnya.
"Ada apa?"
Arga pun mendekati ke arah istrinya. Dia membalikkan badan istrinya hingga membelakangi kaca riasnya.
"Aku sedang ada rapat penting sebentar, jadi kau nanti berangkat dengan sopir, tidak apa-apa kan?" Tanyanya dengan suara lembut.
Sebetulnya ada rasa sedikit kecewa mendengar dia berangkat dengan sopir tapi bagaimanapun juga dia tidak bisa egois, pekerjaan suaminya memanglah penting.
Kemudian Retha menampilkan senyuman manisnya, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. "Tak apa, aku akan menunggumu disana."
Setelah mendapat jawaban dari sang istri, Arga bangkit hendak mencium bibir Retha. Tapi dengan sigap Retha menghalangi laju bibir Arga.
"Jangan menciumku, kau akan merusak lipstick ku!" Seru Retha. Arga pun terkekeh dengan ucapan istrinya.
"Baiklah." Cup. Arga mencium kening Retha sekilas. Retha pun tersipu malu pasalnya mereka tidak hanya berdua saja didalam kamar tapi ada manusia-manusia bernyawa lainnya yang ada disana.
"Hati-hati dijalan!"
Arga pun melangkah pergi meninggalkan istrinya dengan berat hati. Dia sendiri sebenarnya tidak ingin meninggalkan istrinya tapi apa boleh buat rapat itu harus dihadiri olehnya dan tidak bisa diwakilkan.
Retha pun menghela nafasnya, beginikah rasanya menjadi istri seorang pengusaha.
__ADS_1
Kemudian Retha kembali melanjutkan riasan wajahnya. Tak butuh waktu lama akhirnya riasan Retha selesai. Retha tak percaya dirinya begitu terlihat berbeda di tangan para perias itu.
Setelah semua selesai Retha segera bergegas menuju ke kampusnya. Hari sudah mulai siang dan jalanan mungkin akan sedikit macet.
Benar saja sesampainya disana sudah banyak teman-temannya yang datang. Dia mencari sosok seseorang diantara ratusan orang yang ada. Karena ketelitian matanya dia pun menemukan sosok tersebut.
"Delia....." Teriak Retha.
"Hei Re, kau sangat cantik hari ini!"
"Haha kau bisa saja, kau juga cantik sekali hari ini."
"Aisshh aku biasa saja. Lihatlah dirimu begitu menawan bisa-bisa Daniel memintamu untuk kembali." Ucapnya sambil terkekeh.
"Jangan menyebutkan namanya jika Arga tahu, bisa-bisa aku tidak diizinkan keluar rumah lagi."
"Hmm baiklah, ayo kita mencari tempat duduk."
Akhirnya mereka pun mencari tempat duduk yang agak jauh dari keramaian karena memang Retha dan Delia tidak menyukai keramaian.
Acara wisuda pun sudah dimulai, tapi Retha tidak menemukan tanda-tanda suaminya datang. Dia menghembuskan nafasnya, ada rasa sedikit kecewa yang menggelitik hatinya.
"Yaa.. segera kembali jika sudah selesai." Retha hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia meninggal Delia dan berjalan menuju ke toilet. Belum sampai di toilet dia dihadang oleh Rista dan teman-temannya.
"Wah lihat si ******, pakainya semakin branded saja!" Ucap Rista.
"Pasti tadi malam dapat bookingan dari pengusaha kaya raya!" Kata teman Rista yang berambut pendek.
Retha hanya diam saja, dia tidak punya keberanian untuk melawan. Jangankan melawan melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri saja dia tidak mampu.
"Lo tuh ya nggak cocok pakai gaun mahal kaya gini! Lo pantesnya pakai baju rombengan yang beli dipasar loak."
"Udah Ris, gunting aja gaunnya biar dia tahu malu!"
"Eh ****** mana ada yang tahu malu sih temen-temen!"
__ADS_1
"Ya udah sini guntingnya!" Ucap Rista meminta gunting pada salah satu temannya.
"Pegangin!"
"Ris aku mohon jangan, jangan ganggu aku!" Kata Retha terisak, dia sudah meneteskan air matanya, sungguh malang nasibku, batinnya.
Kedua teman Rista pun memegang lengan Retha dengan erat. Retha meronta-ronta untuk minta dilepaskan tapi hati mereka sudah ditutupi oleh rasa iri sepertinya.
krek
krek
krek
Rista memotong gaun Retha dibeberapa sisi hingga membuat gaun itu sudah tidak berbentuk lagi. Air matanya terbuang sia-sia mereka tidak mendengarkan tangisan Retha. Sampai akhirnya suara seseorang menghentikan aktivitas mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya orang itu dengan suara dingin. Sontak mereka pun terkejut dan menoleh ke arah suara. Mata mereka membulat sempurna melihat sosok yang baru saja tiba.
Arga. Siapa yang tidak mengenal pengusaha muda dengan segudang prestasi itu. Rista dan teman-temannya pasti sudah tahu siapa Arga karena mereka juga terlahir dari keluarga pengusaha.
Arga pun menghampiri istrinya yang menangis tersedu-sedu. Dia menatap nanar pada gaun sang istri. Arga tidak mempermasalahkan gaun mahal itu rusak tapi dia mempermasalahkan perlakuan mereka terhadap istrinya.
"Sayang kau tak apa?" Ucap Arga sembari melepas jasnya dan menutupi tubuh Retha. Retha hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak apa-apa bagaimana, lihat saja kau sampai menangis seperti ini." Geurutu Arga dalam hati.
Kemudian Arga menatap tajam pada tiga perempuan yang ada didepannya. Dia mengenal salah satunya adalah anak dari rekan bisnisnya yang pernah bertemu pada suatu pesta yang juga diadakan oleh rekan bisnisnya.
"Wow sekarang aku baru tahu ternyata didikan dari keluarga Mahendra begitu buruk," Ucapnya dingin. Mereka masih terdiam dan menunduk tidak ada satupun yang berani mengangkat kepalanya.
"Baiklah kalian sudah berani membuat istriku menangis jadi tanggung saja apa akibatnya!" Kata Arga rahangnya mengeras menahan amarah. Kalau saja Retha tidak menangis dapat dipastikan Arga sendiri yang akan memberi pelajaran pada mereka.
"Sebaiknya kita pulang saja!". Ujarnya lalu menggendong tubuh Retha masuk ke dalam mobil.
Sesampainya didalam mobil dia meletakkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Kemudian dia merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Jhon beri pelajaran kepada keluarga Mahendra terutama pada putrinya. Dia sudah lancang terhadap istriku." Kata Arga pada seseorang diseberang sana. Tanpa mengatakan panjang lebar orang yang sedang ditelfon sudah pasti tahu apa maksudnya.
Kemudian dia menangkup kedua sisi wajah istrinya. Diusap sisa-sisa air mata dengan ibu jari. Hatinya begitu sakit melihat istrinya menangis dia merasa gagal menjadi suami karena tidak bisa menjaga istrinya.