
Setelah membuatkan secangkir teh, Orin pun kembali ke ruang tamu dimana Marcel berada. Orin meringis melihat wajah pucat Marcel. Wajah yang biasanya menunjukkan aura dominan itu kini terlihat lemah bahkan sudah seperti seonggok daging tak bernyawa.
"Pak minum dulu tehnya!" Marcel pun bangun dari tidurnya dengan bantuan Orin. Dengan pelan-pelan Orin membantu Marcel meminum secangkir teh yang sudah dia buat.
"Ini obatnya yang mana? Saya bawakan semua karena tidak tahu!" Ucap Orin dengan polosnya. Marcel pun tersenyum lalu mengambil sekotak obat dengan berbagai macam jenis obat didalamnya itu. Lalu dia mengambil beberapa jenis obat lalu memasukkannya ke dalam mulut dan dibantu dengan air putih yang di bawakan Orin.
"Bapak istirahat saja biar saya buatkan bubur! Bolehkan saya pinjam dapurnya?" Marcel pun mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
Orin pun berlalu meninggalkan Marcel yang kembali berbaring diatas sofa meskipun Marcel tidak bisa terlalu nyenyak karena kakinya yang lebih panjang daripada sofa tersebut.
Sementara Orin di dalam dapur sedang merutuki kebodohannya sendiri yang dengan lancangnya mengatakan jika dirinya akan membuatkan Marcel bubur yang benar saja bahkan membuat segelas susu saja dia tidak pernah sebab ada assisten rumah tangga serta mommynya yang selalu menyediakan.
Akhirnya Orin pun memutuskan untuk melihat tutorial cara membuat bubur di salah satu aplikasi ponselnya.
Pertama-tama Orin terlebih dahulu mencari beras untuk dijadikan bubur. Karena pertama kalinya dia datang, dia pun kebingungan dimana letak beras tersebut. Setelah cukup lama akhirnya dia pun menemukan beras yang berada dibawah set kitchen tersebut.
Setelah mengambil beras tersebut Orin pun mencucinya terlebih dahulu seperti yang sudah dianjurkan pada tutorial tersebut. Sungguh Orin sangat kesulitan ketika mencuci beras, banyak beras yang ikut larut ke dalam pembuangan air dimana membuatnya semakin kesal.
"Ih kenapa sulit banget sih! Nyesel deh gue dulu nggak mau diajarin mommy masak!" Gerutu Orin pada dirinya sendiri.
Setelah selesai mencuci beras tersebut Orin pun memasukkannya ke dalam wadah panci yang sudah terisi air. Lalu dia menyalakan kompor tersebut, awalnya Orin ragu sebab dia belum pernah menyalakan kompor namun karena tekadnya akhirnya dia pun memberanikan diri untuk menyalakan kompor tersebut.
"Huft ternyata bikin bubur susah banget!" Keluhnya sambil mengusap keningnya yang penuh akan peluh.
Tak lama kemudian beras yang dimasak Orin pun sudah mendidih sesuai dengan yang diajarkan Orin memasukkan garam ke dalam panci tersebut. Karena tidak tahu berapa takarannya Orin pun memasukan sesuai dengan yang dia inginkan.
__ADS_1
"Awww!" Pekiknya ketika beras tersebut mendidih dan buihnya mengenai tangannya.
"Nih kalau nggak demi cinta gue udah ogah deh!"
Awalnya Orin ingin memesan online saja di salah satu kedai yang menyediakan bubur tapi Orin berpikir ulang jika di kedai pasti rasanya berbeda dan tentunya lebih sedap. Akhirnya Orin pun memutuskan untuk membuat sendiri bagaimanapun nanti hasilnya.
Setelah dikiranya bubur tersebut jadi Orin pun mematikan kompornya lalu mengambil beberapa sendok bubur dan menaruhnya ke dalam mangkuk besar.
"Yah kok gosong sih!" Sesalnya ketika melihat bubur bagian bawah yang sudah kehitaman itu. Bagaimana tidak boleh gosong sejak awal memasukkan beras sampai matang Orin tidak pernah mengaduk bubur tersebut.
Orin pun berjalan keluar dapur Marcel sambil membawa semangkuk bubur yang masih panas.
"Pak ini buburnya sudah siap!" Ucap Orin kemudian menyerahkan satu mangkuk bubur tersebut kepada Marcel. Marcel yang menerima semangkuk bubur tersebut pun dibuat melongo. Tampilannya sudah sangat tidak meyakinkan tapi bagaimanapun juga Marcel harus menghargai jerit payah dari usaha Orin. Marcel sendiri awalnya ingin menolak ketika Orin menawarinya untuk membuatkan bubur tapi melihat raut sungguh-sungguh dari wajah Orin akhirnya Marcel pun mengiyakan.
"Bentuknya memang seperti tidak layak pak tapi saya jamin rasanya enak kok!" Cicit Orin ketika melihat keraguan dari wajah Marcel. Marcel pun merasa tak enak akhirnya dengan senyum yang dipaksakan Marcel mencoba bubur tersebut.
"Bagaimana pak rasanya?" Tanya Orin antusias. Bagaimana tidak antusias ini pertama kalinya dia membuat mahakarya yang menurutnya mengagumkan apalagi dengan kelinci percobaan gurunya sendiri.
Marcel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, mau bilang tidak enak ya tidak mungkin bagaimanapun juga dia tidak mau menyakiti gadis yang sudah lama singgah di hatinya itu.
Orin pun melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Orin pun memutuskan untuk undur diri dari rumah Marcel. Awalnya Orin sendiri tak tega tapi Marcel sudah meyakinkan jika dirinya tidak apa-apa. Jadi Orin pun memutuskan untuk pulang saja lagipula tidak enak jika tetangga tahu ada gadis yang datang dirumah seorang laki-laki hingga larut malam. Dia tidak ingin Marcel di cap sebagai laki-laki tidak baik-baik.
Orin pun meninggalkan rumah Marcel dan memasuki mobilnya dimana mang Asep sudah menunggunya sejak tadi. Sementara Orin pergi Marcel segera pergi ke dapur untuk mengeluarkan bubur asin yang Orin buatkan. Marcel tak kalah terkejutnya ketika melihat dapurnya yang selalu terlihat rapi itu menjadi berantakan. Tapi Marcel tak menyalahkan Orin sebab dia tahu jika gadis itu memang tidak pernah memasak. Setelah mengeluarkan isi perutnya Marcel pun kembali merebahkan dirinya namun kali ini dia berpindah ke dalam kamar. Rencananya dia besok pagi izin cuti terlebih dahulu untuk memulihkan kondisinya.
******
__ADS_1
Pagi ini Orin seperti tidak bersemangat untuk datang ke sekolah sebab dia tahu jika hari ini Marcel izin untuk tidak mengajar. Dari mana Orin tahu jika Marcel hari ini tidak masuk? Tentu saja dirinya yang sekarang tidak tahu malu itu bertanya kepada Marcel meskipun tidak secara langsung.
"Lu kenapa sih beb lesu amat kayaknya?" Tanya Aneta yang sejak tadi memperhatikan Orin.
"Pak Marcel sakit, gue harus gimana ya?"
"Ya lu jenguk lah Rin, lagian ini kesempatan bagus buat lu pdkt." Jawab Aneta. Aneta sekarang sudah tahu jika Orin sudah jatuh cinta pada sosok guru killernya itu. Awalnya tentu saja Aneta mengolok-olok Orin karena gadis itu dulu menentang keras jika dirinya akan jatuh cinta pada pesona Marcel tapi ternyata Orin sendiri kalah dengan perasaannya yang tidak bisa dia kendalikan.
"Gitu ya tapi gue malu Nyet!"
"Lah lu emang kagak pake baju di depan pak Marcel?"
"Bukan gitu bodoh!" Jawab Orin kesal karena sahabatnya itu tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan sekarang. Bagaimana Aneta mengerti sedangkan Orin sendiri tidak mengatakan apa-apa padanya.
"Lalu kenapa lu harus malu?"
"Kan gini semalem gue ketemu tuh sama pak Marcel pas makan di tempat om Rama. Terus ternyata dia tuh nggak bisa makan pedes mana dia sok-sokan pesen yang kayak punya gue. Nah tuh jadinya sakit perut kan gue bawa pulang ke rumahnya. Terus gue inisiatif buat buatin bubur eh bukan buatin bubur yang enak gue malah berantakin dapurnya!"
"Lu cantik tapi oon-nya kelewatan ya Rin, lu sekarang tinggal balik terus bilang mau jenguk sekalian mau bersihin dapurnya yang kemarin ku berantakin. Tapi gue juga kagak habis pikir sama lu! Udah tahu nggak bisa masak sok-sokan lagi buat bikin bubur!"
"Maksud gue biar dia terpesona sama gue gitu Net, lagian juga lu tahu sendiri kan gimana pak Marcel ke gue!" Jawab Orin lesu menerawang sikap-sikap Marcel yang sepertinya masih biasa saja pada dirinya. Padahal dalam hati Marcel sendiri bersusah payah untuk tidak terlalu menunjukkan rasa cintanya pada Orin.
"Ya udah sana lu jenguk pangeran kuda putih lu, apa mau gue temenin?"
"Kagak gue bisa sendiri." Jawab Orin kemudian meninggalkan Aneta yang masih duduk di bangkunya itu.
__ADS_1
"He lampir lu mau kemana sekolahnya belum selesai!" Teriak Aneta ketika melihat Orin berjalan keluar kelas.
"Ketemu pangeran kuda putih."