
"Papa bukannya papa yang mengajariku untuk merayu wanita?"
"Kapan aku mengajarimu seperti itu sayang?" Tanya Arga gugup karena Retha sudah mulai melototi Arga.
"Dulu kau sering mengajakku ke taman lalu kau merayu para gadis disana!"
"Hahahaha...... Oh mati saja kau Arga!" Ucap Steffy sembari tertawa terbahak-bahak melihat wajah pucat Arga.
"Kau anak kecil pasti sedang berbohong kan? Sayang kau jangan mempercayai ucapannya."
"Oh Tuhan kalau sampai ratu murka bisa mati aku! Batin Arga.
"Tadi kau mengatakan kalau aku tidak pernah berbohong tapi kenapa sekarang kau malah menuduhku pembohong?" Tanya Jerry yang kesal disebut sebagai pembohong.
"Sudah Jerry jangan menggoda papa mu terus, lihat wajahnya pucat!" Kata Justin menengahi.
Wajah Arga tampak begitu pucat karena ucapan Jerry apalagi ketika melihat tatapan mata membunuh dari istrinya.
"Iya sayang jangan menggoda papamu terus, bagaimana kalau nanti malam kau ikut menginap di villa ku, bersama mommy dan Daddymu?" Tanya Retha.
"Mana bisa seperti itu!" Sanggah Arga yang tidak setuju dengan ucapan Retha.
Retha pun mendekati Arga dan membisikkan sesuatu ke telinga suaminya itu. "Kau mau mengajak mereka menginap di villa kita atau kau tidur diluar?" Ucap Retha dengan senyum menyeringainya.
Arga mendengus kesal, apa boleh buat jika tidak menuruti istrinya dia akan tidur diluar mana bisa dia tidur tidak memeluk istrinya itu.
"Jerry mau ma!" Kata bocah usia lima tahun itu penuh antusias.
"Emm Retha maaf tapi sepertinya aku dan Justin tidak bisa ikut menginap di villa kalian, Jerry sayang kau menginap sendiri tak apa kan? besok mom akan menjemputmu." Ujar Steffy dengan terseyum entah mengapa senyumnya itu membuat Arga jengkel.
__ADS_1
"Oke mom!"
"Tak apa kak, kau bisa menjemput Jerry sewaktu waktu, aku rasa kau lebih butuh honeymoon lagi!" Ucap Retha.
"Ahh kau sungguh sangat pengertian sekali re."
"Menyebalkan, aku tahu kau memang sengaja kan tidak ikut Steffy dan kau juga Justin!" Gerutu Arga. Justin yang mendengar itu hanya menggedikkan kedua bahunya.
"Sudah lah Arga, biarkan mereka melewati waktu sejenak berdua, mereka pasti lelah sudah mengurus Jerry!"
"Biar disiapkan dulu perlengkapan Jerry!" Ucap Justin.
"Iya sebentar aku panggilkan nanny buat beresin barang-barang Jerry dulu!"
Kemudian Steffy meninggalkan meja makan menemui nanny yang ada didapur. Setelah menemui nanny ia menuju kamar untuk membereskan barang-barang keperluan Jerry.
Setelah cukup lama berberes akhirnya Steffy keluar dari kamar dengan membawa beberapa tas begitu juga dengan nanny.
"Kita tidak tahu berapa lama Jerry mau ikut denganmu kan?"
Arga mendengus kesal, acara liburan dan honeymoon yang sudah disiapkan menjadi hancur karena ulah Steffy dan anaknya.
"Sayang masukkan tasnya ke dalam mobil!" Perintah Retha pada suaminya. Arga pun mengambil alih tas yang dibawa Steffy dan nanny untuk dimasukkan ke dalam mobil.
Setelah itu mereka pun berbincang-bincang diruang keluarga. Pertemuan singkat ini harus mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Perbedaan negara membuat mereka jadi jarang bertemu.
Steffy yang berprofesi sebagai model dengan jam terbang yang tinggi sehingga sulit untuk memiliki waktu luang. Begitu pula dengan Justin yang harus mengurus perusahaan membuatnya sangat sibuk.
"Bagaimana keadaan Henry Steff?" Tanya Arga pada sepupunya itu.
__ADS_1
"Anak sialan itu sungguh sangat merepotkanku, kenapa om Johan tidak membawanya tinggal bersama mereka saja?" Ucap Steffy menggebu-gebu.
"Apa kau ingin mama terkena serangan jantung jika bocah itu tinggal disini!"
Retha hanya diam saja sesekali dia bermain dengan Jerry. Sungguh dia tidak mengerti anggota keluarga suaminya membuatnya menjadi sedikit canggung.
Akhirnya karena rasa penasaran yang memuncak dia pun memberanikan diri untuk bertanya pada Steffy.
"Kak, Henry itu siapa?" Tanya Retha dengan suara pelan.
"Oh Henry itu adik angkat Arga, dia tinggal di Italia. Kau belum pernah bertemu dengannya?" Tanya Steffy balik. Retha hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lebih baik kau jangan sampai bertemu dengannya, dia sama saja dengan suamimu itu bodoh!"
"Hei mana ada aku sama dengan Henry, aku lebih tampan darinya." Ucapnya sembari menaikkan kedua alisnya.
"Tapi kau sama bodohnya. Yang satu bodoh soal perempuan dan yang satunya memang benar-benar bodoh. Kau pikir saja Retha aku disana sebagai walinya hampir setiap bulan aku dipanggil ke sekolah karena ulah bocah tengik itu!" Sungut Steffy.
"Kenapa dia tidak ikut bersama kalian liburan kesini?" Tanya Retha yang mulai penasaran dengan sosok Henry, adik angkat dari Arga itu.
"Dia masih sekolah kelas tiga ini. Tahun ini dia sudah tidak boleh bolos lagi. Kalau sampai bolos dia pasti akan dikeluarkan dari sekolahnya dan yang lebih parahnya pasti om Johan akan menghukumnya, makanya dia tidak berani berbuat ulah disekolah lagi!"
"Sudah jangan bicarakan dia lagi!" Ucap Arga kesal karena melihat istrinya seperti tertarik dengan kehidupan adiknya itu.
"Kau ini kenapa? Aku bertanya tentang adikmu masa tidak boleh?"
Arga menggedikkan kedua bahunya sebagai jawaban. Akhirnya mereka pun kembali larut dengan obrolan-obrolan mereka. Dari tentang perusahaan, rumah tangga sampai urusan-urusan ranjang juga.
"Pa ayo pulang ke villamu!" Rengek Jerry.
__ADS_1
"Baiklah baiklah ayo kita pulang, sini biar papa yang gendong!"
Mereka pun berpamitan untuk kembali ke villa yang ditempati. Sepanjang perjalanan Jerry banyak sekali bercerita tentang sekolahnya dan teman-temannya.