Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
54


__ADS_3

"Kamu mau membuatku gendut ya?" Tanya Retha sinis.


"Tentu kenapa tidak itu akan terlihat lebih baik sepertinya." Ucapnya sambil memperhatikan tubuh Retha.


"Lebih baik apanya aku akan terlihat seperti raksasa tahu?" Dengus Retha sambil menyantap makanannya.


"Iya lebih baik jika kau gemuk maka tidak akan ada laki-laki yang suka padamu dan hanya aku yang akan tetap mencintaimu."


Blushh


Wajah Retha memerah karena ucapan Arga. Sungguh ucapan Arga bukan membuat Retha marah melainkan lebih membuat Retha bahagia. Bagaimana tidak dia dijadikan satu-satunya wanita yang ada di hati pria itu.


"Dasar om-om tukang gombal!"


"Hei sayang lihatlah aku masih tampak begitu muda bukan? Jadi jangan panggil aku om, aku tidak menyukai itu!" Rengek Arga pada istrinya itu.


Retha pun terkekeh mendengar penjelasan dari suaminya itu. Entahlah menurutnya sekarang Arga sudah berubah dari pria sedingin es menjadi pria narsis dan romantis.


"Baiklah baiklah, sekarang kamu jadi sangat menyebalkan!"


Arga hanya mengangkat bahunya acuh sebagai jawaban. Akhirnya mereka pun menyelesaikan makan siang setengah sorenya. Karena Arga memang benar-benar pesan makanan yang begitu banyak hingga membuat mereka kekenyangan dan menyisakan beberapa makanan.


"Habiskan!" Kata Arga sebenarnya bukan suatu pernyataan lebih tepatnya perintah yang tidak dapat dibantah lagi.


"Tidak mau, kamu mau membuat perutku meletus ya?"


Arga tertawa mendengar jawaban Retha sambil menggelengkan kepalanya. Mana ada perut yang meletus karena terlalu banyak makan dasar istrinya saja yang mencari-cari alasan.

__ADS_1


"Ingatlah diluar sana banyak orang-orang yang tidak bisa makan dengan enak, jangankan makan dengan enak mereka kadang juga tidak bisa makan dengan layak." Jelas Arga agar Retha mau menghabiskan makanannya lagi. Sebetulnya Arga juga kasihan melihat wajah Retha yang kekenyangan.


"Kalau begitu kau makan sendiri sana, aku sudah sangat kenyang." Ucap Retha sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci tangan.


Akhirnya Arga tidak mau mendebat istrinya lagi lebih baik dia mengalah daripada nanti Retha merajuk bisa lebih berbahaya untuk keselamatannya. Arga pun mendorong troly makanan itu keluar kamar. Setelah itu dia kembali masuk kedalam kamar.


Tak lama kemudian salah satu pelayan mengambil troly makanan tersebut. Tadi sebelum meninggalkan kamar Arga, Arga sudah berpesan jika mereka nanti mengambil kembali troly makanan jika sudah ada diluar jadi mereka tidak perlu masuk ke dalam kamar dan Arga tidak ingin terlalu lama diluar kamar.


Hari ini benar-benar sesuai dengan ucapannya kemarin. Mereka berdua benar-benar tidak meninggalkan villa tersebut. Jangankan meninggalkan villa bahkan Retha saja tidak diizinkan untuk keluar satu langkah pun dari kamarnya.


Retha hanya berguling-guling diatas ranjang sedangkan Arga dia memilih duduk di sofa sambil mengerjakan pekerjaannya yang sudah lama dia tinggalkan. Sungguh Retha merasa seperti akan mati bosan jika dia hanya berguling diatas tempat tidur sambil menonton drama Korea kesukaannya. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar menuju balkon. Di sana dia bisa menikmati udara sore dan hangat sinar matahari yang hendak kembali pada peraduannya.


Retha berdiri dipinggiran balkon dan mengambil udara banyak-banyak lalu menghembuskan kembali. Kehidupan yang layak seperti ini tidak pernah Retha bayangkan lagi semenjak kepergian sang ayah yang memilih menikahi selingkuhannya dan mencampakkan Retha ibu serta adiknya.


Dia begitu menikmati kehidupan yang dia jalankan sekarang. Menyandang status baru didalam kehidupannya. Dahulu dia berfikir akan menikah setelah adiknya lulus dari pendidikannya karena semenjak ditinggal sang ayah, ibu dan adiknya adalah tanggung jawabnya. Tapi sekarang dia sudah menikah ketika adiknya belum lulus sekolah. Tetapi pernikahan yang dia lakukan tidak menggangu pendidikan adiknya sedikit pun. Melainkan karena pernikahannya kini ibu dan adiknya dapat kehidupan yang layak. Bahkan bukan hanya layak tetapi bisa juga mewah.


Ibunya kini hanya perlu menikmati kehidupan dimasa tuanya tanpa perlu bekerja dan memikirkan keuangan lagi karena setiap bulannya baik Retha ataupun Arga, mereka mengirimkan beberapa uang yang cukup banyak jika hanya digunakan untuk berdua.


Saat Retha terhanyut dalam lamunannya tiba-tiba saja sepasang tangan kokoh memeluknya erat dari arah belakang. Tidak perlu menengok siapa pemilik tangan itu dia sudah tahu pasti itu Arga suaminya, dari wangi parfumnya saja Retha sudah bisa menebak.


"Kenapa melamun?" Tanya Arga dengan begitu manis.


"Aku merasa sangat beruntung bisa menikah denganmu." Ucapnya sungguh-sungguh.


"Aku juga merasa beruntung bisa menikah dengan wanita sepertimu, meskipun diawal pernikahan kita terlihat buruk." Kata Arga sambil memanggutkan dagunya diatas kepala Retha.


"Bukan kita tapi kau!" Ucap Retha membenarkan.

__ADS_1


"Iya iya aku yang bersikap buruk terhadapmu, tapi lihatlah sekarang aku begitu sangat mencintaimu kan?"


Retha hanya menganggukkan kepalanya. Disaat momen romantis seperti ini tiba-tiba saja dia teringat dengan sakit yang selama ini dia sembunyikan. Dia berfikir bagaimana jika suatu saat Arga mengetahui penyakitnya, apa dia akan meninggalkan Retha si wanita penyakitan atau tetap bertahan dengannya. Sungguh Retha benar-benar takut jika Arga akan meninggalkannya. Dia tidak siap harus jika harus melepaskan orang yang dicintainya lagi.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Tanya Retha sambil mendongakkan kepalanya melihat rahang kokoh milik suaminya dari bawah.


"Tanyakan apa saja yang ingin kau tanyakan dan yang ingin kau ketahui aku pasti akan menjawab dengan senang hati." Ucapnya sambil mengangkat salah satu alisnya untuk meyakinkan.


"Emm..." Retha tampak ragu-ragu dengan pertanyaannya. Kemudian dengan keyakinan hatinya akhirnya dia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Tapi kau hanya boleh menjawab iya atau tidak, bagaimana kau setuju kan?"


Arga semakin bingung dengan arah pembicaraan ini. Dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia sudah dibuat penasaran ada apa dengan Retha sebenarnya.


"Ehem..." Retha berdehem sebentar guna meredam suaranya yang gugup.


"Jika suatu hari kau mengetahui sesuatu tentangku dari orang lain apa kau akan marah padaku?"


Arga semakin mengernyitkan keningnya dia sungguh tidak paham apa yang dimaksud oleh istrinya itu.


"Apa maksudmu?"


"Ck...bukan tadi sudah ku bilang jika kau hanya boleh menjawab iya atau tidak dan sekarang kau malah balik bertanya." Gerutunya.


"Baiklah aku pasti akan marah jika aku mengetahui sesuatu tentangmu dari orang lain bukan darimu sendiri. Itu artinya kau tidak mempercayaiku sebagai suamimu." Kata Arga lalu membalikkan tubuh Retha hingga menghadapnya.


"Jadi sebenarnya apa yang ada didalam otak kecil mu itu? apa yang sedang kau rencanakan?" Tanya Arga balik.

__ADS_1


"Tidak ada." Jawab Retha sedikit gugup.


Kini Retha benar-benar kalut terhadap pemikirannya sendiri. Dia ingin berterus terang kepada Arga tetapi dia juga takut jika nanti Arga malah meninggalkannya karena Retha beranggapan bahwa dirinya hanya wanita berpenyakitan dan akan menjadi beban untuk Arga. Maka dari itu dia memilih diam dan memendamnya sendiri saja, toh untuk saat ini penyakitnya sudah tidak pernah kambuh lagi atau mungkin memang dia sudah sembuh. Ah Retha semakin pusing jika memikirkan hal itu.


__ADS_2