Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 23


__ADS_3

Akhirnya mereka pun sampai di ruang guru. Bima berjalan lebih dulu menuju meja Bu Hanum untuk mengambil buku tugas mereka. Sedangkan Orin mulai melancarkan aksinya, melihat kesana-kemari untuk mencari seseorang yang beberapa hari ini mulai menggelitik perasaannya.


"Ayo balik! Nih bantuin bawa!" Ajak Bima setelah selesai membawa tumpukan buku-buku tersebut.


"Tangan gue sakit Bim, lu aja yang bawa!" Kata Orin dengan wajah memelas.


"Terus gunanya lu ikut apaan?" Kesal Bima pada temannya itu.


"Gue kan cuma bilang mau ikut, nggak bilang mau bantuin!"


Bima pun berdecak kesal, memang perkataan Orin ada benarnya. Tadi saat di kelas Orin memang mau ikut saja bukan untuk membantu. Akhirnya Bima pun berjalan keluar terlebih dahulu sembari membawa tumpukan buku tugas sosiologi teman-temannya.


Sementara Orin dia masih celingukan mencari sosok yang dirindukan. Entah dia sendiri tidak tahu apa itu rindu tapi yang dia rasakan hanya ingin bertemu dengan sosok tersebut. Setelah lama celingukan dan sosok yang di cari tak kunjung muncul, Orin pun hanya bisa membuang nafas kesal. Hari ini sepertinya dia belum beruntung.


"Hai!" Sapa seseorang dari belakangnya. Suara indah bak burung kenari itu menari-nari di pendengarnya. Suara ini suara yang sangat dia rindukan sejak kemarin.


Sebelum membalikkan badannya Orin terlebih dahulu merapikan dirinya mulai dari rambut dan juga seragam sekolahnya. Dengan perlahan dia mulai membalikkan badannya. Oh tidak senyum itu lagi, senyuman yang telah menjungkirbalikkan hidupnya.


"Ah hai pak?" Sapa balik Orin dengan gugup. Entah kenapa sekarang dia merasa sudah tidak perlu takut dengan pria itu lagi bahkan sekarang dia malah lebih merindukan mulut pedasnya itu.


Sementara Marcel merutuki mulutnya sendiri, menurutnya sapaannya itu terlalu lancang.


Tatapan mata mereka bertemu, Marcel mulai menyelami indahnya iris mata Orin yang sudah mengguncang seluruh jiwa dan batinnya itu. Sementara Orin gadis itu mulai mengumpat hatinya yang bertalu-talu sangat kencang.


"Dari mana?" Tanya Marcel mulai mencairkan suasana yang canggung itu.


"Ikut Bima ambil tugas." Jawabnya. Oh tidak dia berharap Marcel tak tersenyum lagi bisa-bisa dia pingsan melihat senyum manis dari gurunya itu.

__ADS_1


"Lalu mana Bima dan tugas-tugasnya?"


"Ah itu dia jalan dulu!" Jawabnya rasanya dia benar-benar malu bercampur senang. Malu jika modusnya ke ruang guru ketahuan tapi juga senang karena modusnya tidak sia-sia.


Saat mereka masih asyik berbincang-bincang tiba-tiba saja seseorang datang menggangu percakapan mereka.


"Orin?" Sapa seseorang tersebut dimana membuat Orin harus memutar matanya malas. Alex pria itu tiba-tiba datang di tengah-tengah Orin dan Marcel.


"Eh lu Lex!" Jawabnya cuek.


"Ya udah pak saya mau kembali ke kelas?" Pamitnya pada sang guru padahal dia masih ingin berbincang-bincang dengan Marcel tapi tiba-tiba suasana hatinya berubah kala Amex datang.


"Rin gue kan belum ngomong!" Kata Alex sambil menarik lengan Orin. Sementara Orin segera menepis tangan Alex dia tidak ingin disentuh oleh pria itu. Tidak, dia juga tidak mau melihat Marcel cemburu. Tunggu! Kenapa juga Marcel harus cemburu. Dasar Orin bodoh! Rutuknya pada diri sendiri.


"Gue masih ada kelas, tuh lampir lu nyamperin!" Katanya sambil menunjuk Vanessa yang berlarian mengejar Alex. Orin pun segera meninggalkan dua laki-laki berbeda generasi itu.


"Lex kan udah dibilang tungguin, kok lu ninggalin gue sih?" Kesal Vanessa lalu bergelayut manja di lengan Alex.


"Eh ada pak Marcel!" Sapa Vanessa pada guru tampan itu sementara Marcel hanya tersenyum menanggapi sapaan dari salah satu murid wanitanya.


"Kami pamit dulu pak!"


Alex dan Vanessa segera meninggalkan Marcel yang masih sedia berdiri di tempat itu. Alex merasa jika suatu saat Marcel akan menjadi ancaman untuknya.


"Lex lu kenapa sih diem aja?" Tanya Vanessa kesal padahal dia sudah mengupayakan segala cara untuk bisa masuk ke hati pria itu tapi nyatanya sampai sekarang pria itu masih membentengi hatinya untuk Vanessa. Vanessa bukan wanita sempurna dia juga memiliki sisi lelah dan juga khilaf.


"Apa sih Van, lu mau pesen apa tinggal pesen ntar biar gue yang bayarin!" Kata Alex dia masih merasa ada yang mencurigakan dari gerak-gerik Marcel dan juga Orin.

__ADS_1


Sementara itu Orin pun kembali ke kelasnya setelah Bima tiba terlebih dahulu. Dia segera duduk di samping Aneta dan mendengarkan guru yang sedang menjelaskan mereka.


"Net lu pernah nggak jatuh cinta sama cowok?" Tanya Orin sambil berbisik sebab semua murid disini tahu jika Bu Hanum sangat tidak menyukai murid yang tidak memperhatikan ketika beliau sedang mengajar.


"Lu kenapa sih Rin? Sakit ya? Apa lu lagi jatuh cinta?"


"Ck, gue cuma tanya aja siapa juga yang lagi jatuh cinta." Kilahnya padahal hatinya sekarang memang sedang merasakan jatuh cinta.


"Abis lu beda banget deh gue perhatiin dari pagi?"


Saat mereka sedang asyik berbincang-bincang tiba-tiba saja Bu Hanum memanggil nama Orin.


"Orin Quenby, silahkan tutup buku dan jawab pertanyaan dari ibu di depan sini!" Interupsi Bu Hanum tiba-tiba membuat Orin dan Aneta yang sedang berdebat berhenti.


"Gara-gara lu sih Net!" Kesal Orin sementara Aneta bisa bernafas lega sebab bukan dirinya yang dipanggil. Dengan malas Orin pun berjalan ke depan memenuhi panggilan dari sang guru sebab jika Orin membantah guru berambut sebahu itu akan memberinya wejangan-wejangan yang tiada hentinya dan akan membuat telinganya panas.


"Sekarang jawab pertanyaan ibu, jelaskan pengertian stratifikasi sosial?"


Orin pun hanya menyengir, sedari tadi dia tidak menyimak apa yang dikatakan oleh Bu Hanum alhasil sekarang dia hanya bisa meminta bantuan Aneta lewat matanya.


"Orin?"


"Ah ya Bu itu...!"


"Makanya saya sudah berkali-kali bilang pada kalian semua untuk menyimak pelajaran ibu. Dan sekarang sebagai hukuman pengganti kamu kerjakan semua soal yang ada di lembar kerja siswa. Kumpulkan dua hari lagi, sekarang kembali ke tempat!" Ucap Bu harum kesal, Orin memang terkenal salah satu murid yang nakal. Sudah sering Bu Hanum memberikan hukuman tapi Orin tidak ada kapoknya. Bahkan bukan hanya Bu Hanum saja yang sudah memberikan hukuman bahkan semua guru sudah pernah tapi sepertinya gadis itu memang amat bandel.


"Baik Bu!" Jawabnya pasrah sebenarnya dia ingin membantah tapi dia urungkan. Dia tidak ingin kejadian dua Minggu lalu terulang kembali dimana dia harus mengerjakan hampir lima ratus soal dalam waktu tiga hari. Tidak itu bisa membuat kepalanya pecah.

__ADS_1


Sebenarnya Orin tidaklah bodoh akan tetapi gadis itu semaunya sendiri. Dia sangat tidak suka akan aturan. Dan sepertinya hari ini nasib baik tidak memihak padanya. Padahal jika Orin membaca materi yang diajarkan oleh Bu Hanum dia pasti bisa menjawab soal tersebut.


__ADS_2