Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 42


__ADS_3

Pulang sekolah Orin segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, rasanya dia sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Dan juga sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya pada kedua orangtuanya dan kakak laki-lakinya yang bersekongkol untuk membohonginya.


Dan karena pulang cepat itu pula Orin juga harus membolos dari les tambahan di sekolah, untung saja hari ini bukan jadwalnya les tambahan dengan Marcel. Tak lupa gadis itu juga sudah mengabari kekasihnya jika dirinya pulang terlebih dahulu dan anehnya lagi Marcel tampak tak keberatan. Padahal biasanya pria itu akan menolak dengan keras apapun yang membuat Orin tidak mengikuti jadwal sekolah dengan baik.


Orin benar-benar beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya. Orin tahu Marcel selalu membuatnya untuk lebih giat belajar semata-mata karena ingin masa depan Orin juga cemerlang sebab sampai saat ini Orin masih belum memiliki pandangan ingin melanjutkan kuliah dimana. Jika ditanya dia pasti menjawab ingin nikah muda saja. Dan ketika ditanya lagi kenapa tidak ikut terjun ke dunia bisnis seperti daddynya yang akan dilanjutkan dengan kakaknya nanti, Orin selalu menjawab jika bisnis itu pekerjaan yang melelahkan. Bagaimana tidak setiap harinya dia selalu melihat sang Daddy berkutat dengan berkas-berkasnya sampai terkadang lupa waktu jika tidak ada mommynya yang mengingatkan.


Tak lama mobil Orin pun memasuki halaman rumahnya. Karena tergesa-gesa Orin pun tak memarkirkan mobilnya dengan benar. Untung saja halaman rumah mereka luas sehingga mobilnya pun tak akan menghalangi jalan mereka.


"Mommy...!"


"Daddy…!"


"Kakak…!" Teriak Orin ketika baru saja membuka pintu.


Mommy Retha yang sejak tadi berkutat di dapur pun segera menghampiri putrinya itu.


"Kenapa teriak-teriak sih sayang! Kamu lagi di rumah buka di hutan!" Ujar mommy Retha kesal karena tidak mengerti kenapa putrinya itu tiba-tiba berteriak.


"Kalian semua membohongiku ya?" Tanya Orin dengan kesal gadis itu berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Dilihatnya di meja makan berbagai hidangan tersaji disana.

__ADS_1


"Membohongi apa sih sayang?" Tanya mommy Retha sambil kembali merapikan meja makan.


"Mommy dan Daddy tidak bilang jika kakak akan datang!" Jawabnya dengan cemberut kini gadis itu sudah duduk di kursi meja makan.


"Memangnya kalau mommy atau daddy kasih tahu ke Orin, Orin mau apa?" Kini mommy Retha balik bertanya lagi. Dia pun ikut duduk disamping Orin.


"Aku pasti akan ikut jemput kakak di bandara."


"Itulah kenapa kakak tidak mau memberitahumu mengenai kepulangannya. Kakak tidak ingin kamu membolos seperti yang sudah-sudah!"


"Tapi mom…!" Belum sempat Orin melanjutkan ucapannya, turunlah dua orang laki-laki beda generasi itu dari lantai dua. Tampaknya mereka selesai membicarakan sesuatu hal yang serius. Karena itu semua bisa dilihat dari guratan-guratan yang timbul di wajah Noel. Dan terkadang laki-laki itu tampak menghela nafasnya. Wajahnya juga memancarkan sebuah keputusaan. Memang apa yang telah mereka bicarakan hingga membuat kakak laki-lakinya itu tampak tertekan?


"My love kenapa?" Tanya Noel kini laki-laki itu pun duduk dihadapan sang adik sembari menekuk sebelah kakinya. Meskipun Orin sudah dewasa dan bahkan gadis itu kini tengah masih memakai seragam sekolahnya tapi tetap saja mereka semua memperlakukan Orin layaknya gadis kecil. Apalagi Noel, laki-laki itu sangat menyayangi sang adik. Meskipun perbedaan usia mereka tidak jauh tapi entah kenapa dia menjadi lebih dewasa sebelum waktunya dan sifat mereka pula bertolak belakang. Jika Noel adalah laki-laki mandiri maka Orin adalah gadis manja.


"Kalian membohongiku semuanya. Kenapa tidak memberitahu kakak jika dia akan pulang?" Ucapnya tatapan matanya tajam seperti ingin menelan Noel bulat-bulat.


Noel sangat tahu, kenapa Orin merajuk seperti ini dan Noel pun memaklumi akan hal itu. Adiknya itu sangat ingin jika dirinyalah menjadi satu-satunya orang yang akan dipeluk oleh Noel pertama kali ketika laki-laki itu kembali dari study -nya.


Dengan perlahan Noel pun mengusap puncak kepala Orin. Menyelipkan anak rambut yang menutupi beberapa bagian wajah Orin. Ternyata adiknya sudah sangat besar tapi pemikirannya terkadang memang belum dewasa.

__ADS_1


"Kepulangan kakak sangat mendadak. Daddy juga baru memberitahu jika kakak harus pulang segera. Dan karena itulah kakak tidak memberitahumu sebab banyak urusan kakak disana yang harus kakak selesaikan sebelum kembali ke Indonesia." Jelas Noel dengan mengulas senyum di bibirnya.


Orin pun tampak mengerutkan keningnya, mencari-cari kebohongan dari mata Noel. Tentu saja Orin sangat mudah mengetahui jika Noel sedang membohonginya atau tidak sebab ketika mereka masih kecil mereka selalu bersama. Laki-laki itu sedari dulu tidak pandai berbohong. Bahkan terkadang mereka harus kena hukuman karena ketidakpandaiannya sang kakak dalam hal berbohong.


Dan untuk saat ini tampaknya Noel benar-benar tidak sedang membohonginya. Buktinya saja laki-laki tampak tenang dan tidak mempermainkan jari-jarinya itu berarti Noel mengungkapkan kebenarannya.


Sementara itu Daddy Arga dan mommy Retha hanya menggelengkan kepalanya melihat drama yang sedang ditampilkan oleh putra dan putrinya. Selalu saja ketika Noel menginjakkan kakinya di rumah itu lagi, ada saja tingkah aneh Orin dimana membuat Noel harus extra sabar dalam menghadapinya.


"Memangnya ada masalah apa sampai Daddy menyuruh kakak untuk segera pulang?" Tanya Orin kini tatapannya beralih ke sang Daddy yang tampak sudah duduk didepannya, bersebelahan dengan sang mommy. Sementara Noel laki-laki itu juga mulai duduk ditempat yang biasa dia gunakan ketika makan di rumah itu.


"Daddy mau memperkenalkan kakakmu sebagai penerus Daddy. Sebenarnya dengan kau juga tapi aku tidak yakin kau akan mau!"


"Oh tentang itu, aku memang tidak tertarik untuk masuk perusahaan dad."


"Tapi Rin, kau juga anak mommy dan daddy seharusnya kau juga mendapatkan bagian atas perusahaan itu!" Ujar Noel, sebenarnya laki-laki itu merasa tidak enak jika seluruh perusahaan dialah yang memegang kendali. Dia sangat sadar siapa dirinya. Dia hanya anak yatim-piatu yang kemungkinan tidak diinginkan oleh orangtuanya sendiri lalu mereka membuangnya di depan panti asuhan dan kebetulan ada orang tua baik yang mau merawat dan membesarkannya hingga sekarang. Bahkan dirinya juga tidak pernah merasa kekurangan sedikitpun saat ini.


Ya. Noel memang tahu sejak lama jika dirinya bukanlah anak mommy dan daddynya, bukan pula kakak Orin. Dia mengetahui itu ketika Orin kecelakaan dulu. Kala itu Orin tengah membutuhkan banyak darah tapi ketika Noel meyakinkan jika dirinya siap untuk diambil darahnya seberapa banyakpun untuk kesembuhan adiknya, kenyataan pahit lah yang dia dapatkan. Golongan darahnya dengan Orin tidak sama. Noel pun kembali meminta pihak rumah sakit untuk mengeceknya dengan teliti namun hasilnya tetap sama. Dan lebih mengejutkannya lagi ketika dirinya melihat berkas mengenai darah mommy dan daddynya, mereka juga sama-sama tidak memiliki darah yang sama dengan Noel. Mulai saat itulah Noel mulai mencari tahu tentang dirinya. Dan lagi-lagi kenyataan pahit menamparnya begitu keras, dia menemukan surat adopsi dirinya di laci meja kerja daddynya yang kala itu sang Daddy menyuruhnya untuk mengambil beberapa berkas.


Noel pun tersenyum kecut, ternyata dirinya bukanlah anak kandung mereka. Tapi dirinya juga begitu bahagia Daddy dan mommynya tidak pernah menganggapnya orang lain. Mereka dengan kasih sayangnya selalu memperlakukan Noel layaknya putranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2