Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
BONUSS!!!


__ADS_3

tringgg...


Bunyi pesan masuk dari sebuah ponsel yang sekarang tergeletak tak berdaya di dalam laci. Laki-laki itu segera melihat siapa yang mengiriminya pesan. Sebenarnya tidak perlu melihat dia sudah tahu siapa yang akan mengiriminya pesan itu.


*From: my wife ❤️


Sayang jangan lupa pesanan aku ya*?


Marcel menghela nafasnya, istrinya yang sedang berbadan dua itu sungguh terkadang menaik-turunkan emosinya. Dia tahu jika wanita hamil itu memang banyak keinginannya, itu yang dia tahu dari ibu mertuanya. Tapi terkadang dia sendiri tidak habis pikir dengan keinginan-keinginan aneh istrinya itu. Sebenarnya tidak banyak yang Orin inginkan semuanya hanya perihal makanan.


*To: my wife ❤️


Iya sayang.


send*.


Marcel tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana tidak keinginan istrinya yang satu ini pasti akan menguras emosi penjualnya dan Marcel haru menerima hal itu. Dia menginat bagaimana perkataan istrinya sebelum berangkat bekerja.


"*Sayang nanti kalau pulang bawakan aku sate ayam yang ada di jalan Hayam Wuruk ya!" Kata Orin ketika mengantar sang suami di depan pintu rumahnya.


"Iya sayang mau apa lagi?"


"Tidak hanya itu saja. Bawakan aku sate ayam lima puluh tusuk tapi minta tolong bungkuskan satu persatu!"


"Haa?" Marcel membelalakkan matanya, tidak ada yang salah bukan dengan pendengarannya. Lima puluh tusuk sate dengan bungkusan tersindiri itu berarti dia harus meminta penjual sate untuk membungkus satu persatu sate itu. Ya Tuhan membayangkannya saja Marcel rasa tidak sanggup.


"Sayang apa tidak sebaiknya dijadikan satu bungkus saja?" Tanya Marcel, dia masih ingin bernegosiasi dengan 'ngidam' istrinya itu.


"Tidak, baby twins inginnya seperti itu!" Jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya dan lihat itu matanya sudah berkaca-kaca hendak mengeluarkan air matanya.


"Baiklah nanti aku bawakan ya! Jaga kesehatanmu, jangan terlalu banyak beraktivitas!" Jawabnya kemudian. Dia sudah tidak ingin berdebat dengan sang istri. Sebelum pergi Marcel mengecup bibir Orin sekilas setelah itu tubuhnya menghilang di balik pintu mobil*.


Pukul enam sore Marcel baru saja melangkahkan kakinya keluar dari gedung dua lantai itu. Seharusnya dia sudah pulang pukul empat tadi tapi ternyata pekerjaan yang begitu banyak membuatnya harus bekerja lebih lama. Setelah masuk kedalam mobilnya, Marcel segera mengendarai mobilnya membelah jalanan ibukota.


Marcel segera menuju tempat sate yang dimaksudkan oleh sang istri. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, mobil Marcel berhenti disalah satu kedai yang berjejer di sepanjang jalan itu. Setelah memarkirkan mobilnya Marcel segera pergi ke salah satu kedai yang sudah menjadi langganannya.


"Sudah tutup ya pak?" Tanyanya saat mendapati penjual sate itu sudah menutup kedai miliknya.


"Sudah pak, tadi kebetulan cuma buat sedikit terus ada yang pesan jadi langsung diborong!"


Marcel menghela nafasnya, satenya sudah habis mau tidak mau dia harus pulang dengan tangan kosong. Semoga saja 'ngidam' istrinya bisa ditunggu sampai besok.


"Terimakasih pak kalau begitu saya pamit dulu!"


"Iya sama-sama pak, maaf ya!"

__ADS_1


"Iya pak," Jawabnya kemudian kembali masuk kedalam mobilnya.


Sesampainya di depan pintu rumah Marcel tidak langsung masuk, laki-laki itu masih berdiri didepan pintu. Dia sedang menyusun kata-kata agar tidak membuat istrinya marah. Setelah mendapatkan kata-kata yang pas Marcel berjalan masuk kedalam rumahnya. Tepat saat akan melewati ruang keluarga ternyata sang istri sudah duduk manis disana sambil menonton TV.


"Sayang sudah pulang!" Katanya kemudian berdiri untuk menyambut suami tersayangnya.


"Sudah sayang," Jawab Marcel ragu saat melihat tatapan Orin melihat ke arahnya.


"Kamu tidak membawakan pesananku ya?" Tuduhnya pada sang suami tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


"Tidak bukan seperti itu sayang!" Kata Marcel sebelum melanjutkan ucapannya dia membawa tubuh Orin untuk duduk lebih dahulu. "Tadi aku sudah datang ke sana tapi ternyata sudah habis tak tersisa!" Jawabnya sambil memperlihatkan wajah menyesalnya berharap semoga sang istri mengerti.


"Hiks... kamu nggak sayang sama kita ya?" Tuduhnya begitu saja tanpa mendengar ucapan sang suami.


"Bukan seperti itu sayang, tentu saja aku sangat menyayangimu dan mereka juga!" Jawabnya kemudian mengelus perut Orin yang sudah mulai membuncit itu.


"Kalau begitu ayo kita kesana! Baby-nya ingin makan satenya sekarang!"


"Tapi sudah tutup sayang!"


"Kita bisa ke rumahnya kan, sebentar aku mau ambil jaket dulu! Kita ke sana sayang aku belum puas kalau belum lihat sendiri!" Katanya kemudian meninggalkan sang suaminya yang masih mematung.


"Ayo!" Ajaknya pada sang suami setelah dirinya bersiap-siap. Akhirnya Marcel pun mengikuti sang istri.


"Sudah tutup ya?"


"Iya katanya orangnya hanya buat sedikit hari ini."


Orin berdecak kesal padahal keinginannya untuk makan sate ayam sudah di ubun-ubun tapi ternyata ekspetasinya tidak sesuai realita. Padahal tadi pagi dia sudah membayangkan makan sate dengan nasi hangat yang mengepul asapnya.


"Sayang aku mau sate itu sekarang juga!" Ujarnya sambil merengek ke sang suami. Marcel berusaha untuk menenangkan istrinya. Dia adalah pria yang bisa menahan emosinya apalagi mengingat ini kehamilan pertama untuk sang istri jadi Orin pasti masih belum mengerti.


"Sayang kita kesini besok saja ya? Aku janji deh besok aku bekerja setengah hari saja setelah itu kita makan sate disini sepuasnya?"


Orin masih menggelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan ucapan sang suami. Yang Orin inginkan hanya sate ayam itu dan hari ini juga. Padahal jika dilihat-lihat suaminya adalah pemilik restoran tapi nyatanya Orin malah tidak menyukai makanan yang dibuatkan oleh koki restoran suaminya. Katanya rasanya tidak enak, dasar ibu hamil memang ada-ada saja.


"Aku maunya sekarang sayang!"


"Sudah tutup sayang, kamu bisa lihat sendiri kan?"


Orin terdiam sejenak, entah apa yang wanita itu pikirkan tiba-tiba matanya yang tadi berkaca-kaca menjadi berbinar penuh harap.


"Sayang kita ke rumah penjualnya saja, pasti mereka masih memiliki stok dirumahnya?"


Marcel membelalakkan matanya, dia tidak pernah terpikirkan sampai kesana. "Tapi kita tidak tahu kan rumahnya dimana?"

__ADS_1


"Kita bisa tanya ke penjual yang lainnya sayang, sini biar aku saja yang tanya alamatnya!" Kata Orin melihat Marcel hanya diam tak bergeming.


"Jangan keluar mobil, dingin. Biar aku tanya sama mereka dimana alamat penjual satenya!" Setelah mengatakan hal itu Marcel segera keluar dari mobil menuju salah satu kedai yang letaknya tidak jauh dari kedai sate yang dimaksud Orin. Setelah mendapatkan alamatnya Marcel segera kembali ke mobilnya.


"Gimana sayang?"


"Katanya bapak tadi rumahnya tidak jauh dari sini! Kita kesana sekarang saja ya sebelum terlalu larut malam."


Marcel pun segera kembali melajukan mobilnya ke rumah penjual sate ayam sesuai petunjuk yang diberikan oleh bapak-bapak tadi. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya sang istri untuk tersenyum merasa keinginannya akan segera terpenuhi.


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun berhenti disalah satu rumah sederhana berwarna kuning itu. Pintunya tertutup rapat semoga saja keinginan istrinya bisa terpenuhi malam ini.


"Pelan-pelan sayang!" Ucap Marcel saat menuntun Orin turun dari mobil.


tok...tok..tok..


Marcel mengetuk pintu yang katanya rumah pemilik sate ayam itu. Terdengar suara seseorang dari dalam yang sedang berjalan kearah pintu. Tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki yang Marcel dan Orin tahu adalah pemilik kedai sate ayam yang ada di depan.


"Loh bapak yang tadi ya?" Tanya bapak penjual sate itu terkejut dengan keberadaan Marcel.


"Eh iya pak, ini istri saya sedang ngidam sate ayam bapak!" Kata Marcel tidak enak sudah membuat repot bapak itu.


"Siapa pak?" Tanya seorang wanita paruh baya yang Marcel duga adalah istri dari bapak pemilik kedai itu.


"Ini ada yang mau beli sate buk, katanya istrinya ngidam kepengen makan sate kita!" Jawab si bapak kemudian mempersilahkan Orin dan Marcel untuk masuk ke rumah mereka.


"Oh begitu ya pak!"


"Maaf ya pak Bu, saya merepotkan!" Ucap Marcel tak enak.


"Iya tidak apa-apa pak, kebetulan di freezer masih ada sisa stok daging ayamnya. Kalau bapak sama ibu mau tunggu kami bisa buatkan lebih dulu!"


"Iya saya mau." Jawab Orin dengan semangat empat lima. Sementara Marcel hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa tidak enak dengan pemilik rumah.


Kedua orang itu pun pergi untuk membuatkan pesanan Orin. Setelah menunggu kurang lebih satu jam akhirnya pasangan paruh baya itu datang dengan membawa sepiring sate ayam. Orin sudah tidak bisa menahan dirinya, rasanya liurnya ingin menetes melihat kepulan asap dari sate yang baru saja di bakar itu.


"Terimakasih banyak!" Kata Orin sambil menyantap sate itu. "Maaf apakah tidak ada nasi?" Tanya Orin dimana membuat Marcel menepuk keningnya sendiri melihat tingkah absurd ibu hamil satu ini. Marcel semakin merasa tidak enak tapi mau bagaimana lagi, katanya keinginan Orin hamil itu harus segera dipenuhi.


"Ada, sebentar saya ambilkan!" Kata ibu paruh baya itu kemudian kembali masuk ke arah dapur.


Pria paruh baya yang melihat wajah tidak enak Marcel itu pun segera mengerti dan berkata "Tidak apa-apa pak, ibu hamil memang seperti ini. Kita sebagai suami harus ekstra sabar!" Marcel pun hanya tersenyum menanggapi ucapan pria paruh baya itu.


"Silahkan dimakan!" Kata ibu itu kemudian memberikan sepiring nasi pada Orin. Tak perlu waktu lama Orin sudah menghabiskan semua sate dan nasinya. Setelah mendapatkan yang dimau Orin dan Marcel segera pamit undur diri, sebelum itu Marcel memberikan uang yang cukup banyak pada penjual sate itu karena sudah menyenangkan hati istrinya.


Dalam perjalanan pulang Orin sudah memejamkan matanya, mungkin karena kenyang hingga membuatnya menjadi mengantuk.

__ADS_1


__ADS_2