Istri Tuan Arga

Istri Tuan Arga
S2-episode 48


__ADS_3

Orin pun kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Kemarin malam, kakaknya sudah kembali ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya. Dan kini tinggallah dia sendiri lagi di rumah, sepi.


Hari ini dia pulang sore, sama halnya seperti murid lain harus menjalani aktivitas padat sebelum ujian nasional berlangsung. Orin pun kembali ke rumahnya dengan rasa lelah.


"Ah tahu gini tadi aku minta mang Asep buat jemput aja!" Keluhnya.


Langit pun mulai gelap bukan karena matahari kembali ke peraduannya melainkan karena awan hitam yang akan membawa ribuan tetesan hujan yang akan membasahi bumi. Petir pun sepertinya ikut andil dalam drama hujan sore ini. Dan angin pula tidak mau kalah menghembuskan segala yang dia lewati. Orin semakin merinding dibuatnya, rasanya dia akan terjebak di antara hujan lebat.


Tak lama kemudian, ribuan tetesan air itu tumpah membasahi segalanya yang ada di bumi. Langit semakin gelap sehingga Orin pun merasa kesulitan melihat jalanan yang ada didepannya. Semoga saja tidak ada yang terjadi apapun hari ini. Harapnya.


Orin kembali mengemudikan mobilnya, membelah air yang jatuh dan tak aturan itu. Dingin mulai merasuk ke dalam baju sekolahnya. Meskipun seragam sekolahnya tidak basah tapi kencangnya angin dan dinginnya AC mobil mampu meremangkan bulu kuduknya.


"Ini jalannya bener nggak sih? Kok sepi banget gini!" Gerutunya. Langit semakin menghitam, hujan pun semakin deras sehingga membuat Orin kesulitan untuk melihat ke depan meskipun windscreen wiper sejak tadi bergerak ke kanan dan ke kiri tapi rasanya itu tidak membantu.


Tok...tok...tok...


Ketukan di kaca jendela mobilnya sungguh mengejutkan dirinya. Siapa mereka? Apa mereka butuh bantuan? Tapi bagaimana jika mereka orang jahat. Sungguh Orin tidak dapat berpikiran dengan jernih. Pikiran-pikiran buruk mulai menghiasi isi otaknya. Semakin lama ketukan di jendela mobilnya semakin brutal tak terkendali. Sekarang tidak hanya di sampingnya saja, mereka mengetuk secara bersamaan di seluruh sisi mobilnya.


Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Rasanya dia seperti de javu akan hal-hal seperti ini.


"Hey cepat keluar atau aku akan merusak mobilmu ini!" Teriak orang di luar sana. Meskipun hujan deras nampaknya tak mengurangi rasa tekad dari orang di luar sana sebab dapat dilihat dari cara berbicara dengan keras mengalahkan suara deru hujan dan petir yang bercampur menjadi satu.


Satu hal yang sekarang Orin pahami, mereka bukan orang-orang yang sedang meminta bantuan padanya. Mereka adalah sekelompok rampok yang mungkin mengincar mobilnya. Rasanya Orin ingin keluar tapi dia masih berfikir lagi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika dirinya keluar dari mobil tersebut. Bukan tidak mungkin kan jika mereka hanya akan mengambil mobilnya. Mungkin jika mereka hanya meminta mobilnya, Orin tidak akan keberatan yang terpenting adalah nyawanya. Tapi bagaimana jika mereka meminta dirinya, sungguh Orin tak dapat membayangkan akan hal itu.

__ADS_1


"Hey cepat keluar!" Teriak orang itu lagi dimana membuat Orin tersadar akan lamunannya. Dia pun segera menghubungi daddynya, meminta bantuan dari laki-laki tersayangnya itu. Tapi sepertinya Dewi Fortuna tidak sedang memihak padanya. Saat akan melakukan panggilan telepon pada daddynya ponselnya pun mati. Oh sungguh tamat sudah riwayat Orin.


Dengan tangan gemetar dan peluh membasahi dahinya, perlahan Orin membuka pintu mobilnya. Namun baru saja terbuka sedikit, para pria yang dinamai rampok oleh Orin sudah menarik dirinya sampai jatuh terjerembab di kerasnya aspal jalanan. Orin sedikit meringis merasakan nyeri pada bokongnya.


"Cepat mana serahkan kunci mobilmu?" Ujar seorang pria bertubuh gempal.


Seketika itu pula Orin benar-benar menangisi nasibnya dan juga merutuki kebodohannya. Sudah berulangkali Mommynya mengingatkan agar dirinya membawa sopir tapi Orin tetaplah Orin gadis keras kepala. Dibawah guyuran air hujan Orin sudah tidak dapat membendung air matanya lagi. Seketika air matanya jatuh bersama dengan guyuran hujan yang datang secara tak aturan itu.


"Cepat mana kunci mobil lo?" Bentak orang tadi. Dengan tangan gemetar Orin pun menyerahkan kunci mobilnya. Dengan sigap orang tersebut mengambil kunci mobil itu.


"Wah ternyata lu cantik juga!" Timpal salah satu seorang teman perampok itu. Dari suaranya Orin bisa memastikan jika mereka mungkin sudah berusia kepala tiga atau empat. Ya Tuhan jika orang sebanyak ini bagaimana cara dirinya untuk melawan.


"Marcel tolong aku!" Batin Orin. Entah kenapa dari banyak orang yang dekat dengannya nama Marcel lah yang dia sebutkan.


"Mana ponsel Lo!"


"Di dalem om!" Ucap Orin dengan gemetar. Rasanya dia ingin berteriak namun siapa yang akan mendengar bahkan sekarang saja tidak ada satupun mobil maupun motor uang melintas.


"Tuhan tolong lindungi aku!" Batinnya masih dengan kepala menunduk enggan melihat para perampok jika diperkirakan berjumlah empat orang itu.


Tiba-tiba saja salah satu dari mereka memegang dagu mencoba mengangkatnya untuk melihat wajah Orin.


plak...

__ADS_1


Terdengar tamparan menggema antara rintik-rintik hujan yang mulai tidak sederas tadi. Kini Orin benar-benar marah pada mereka, mereka boleh mengambil semua harta benda yang dia miliki tapi tidak untuk menyentuh dirinya.


"Jangan sentuh!" Teriak Orin, dirinya benar-benar diluar kendali. Di satu sisi dia ingin melawan tapi di sisi lain dia tidak cukup berani melakukan hal itu. Orin benar-benar merasakan seperti dulu yang pernah dia rasakan.


"Wow hebat sekali, Lo mau mati ya ternyata?" Ucap orang yang tadi Orin tampar. Orin bukan tanpa sebab menampar orang tersebut. Awalnya dia reflek sebab belum pernah bersentuhan dengan orang yang benar-benar belum dia kenal.


"Jangan dimatiin dulu dong bos, kan nih anak cantik banget bawalah dulu ke markas. Nanti kalo bos nggak mau kita-kita mau kok!" Ucap salah satu dari mereka entah yang mana Orin tidak tahu sebab kini dia kembali menunduk sambil mencengkram jasnya. Sungguh rasanya dia ingin mati saja, melawan pun akan sia-sia. Dia sudah kalah jumlah dan keberanian.


"Kayaknya bagus juga ide Lo. Karena disini gue bosnya jadi gue dulu. Lo bawa mobilnya biar dia masuk ke mobil kita."


"Sekarang Lo ikut gue!" Ujar salah satu dari orang itu yang di yakini adalah sebagai bos mereka.


"Jangan sentuh gue!"


"Pergi!" Teriak Orin dia berusaha mempertahankan dirinya dengan memegang pintu mobilnya. Tapi bagaimana pun juga dia adalah perempuan sudah jelas tenaganya juga akan kalah.


Karena sudah tidak sabar dan Orin terus melawan akhirnya salah satu dari mereka diminta untuk membantu menyeret Orin ke dalam mobil yang mereka bawa.


"Gas cepet bantu gue, sebelum banyak yang lihat nih cewek berontak terus!" Ucap sang bos kemudian menyeret Orin agar memasuki mobil mereka. Sementara Orin sendiri menangis dengan tersedu-sedu, ternyata nasibnya akan seperti ini. Jika dia tahu dulu nasibnya akan seperti ini lebih baik dia bunuh diri saja daripada harus merelakan tubuhnya untuk orang-orang bi*dap seperti mereka.


"Tolong...tol...!" Baru Orin akan berteriak lagi untuk meminta bala bantuan tapi salah satu dari mereka sudah membekap mulutnya dengan tangan. Saat Orin akan sampai di mobil mereka tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari arah belakang tepatnya dekat dengan mobil Orin.


"Mati saja kalian ba*Ingan!" Desisnya setelah melumpuhkan salah satu dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2